Sabtu, 8 Mei 2021
27 Ramadan 1442 H
Home / Lifestyle / MUI Ungkap Acara TV yang Mengandung Sensualitas dan Kekerasan Saat Ramadan
Foto dok. Pexels
Sejumlah stasiun televisi dari tahun ke tahun tetap mengulang hal yang tak patut

Sharianews.com, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih menemukan realitas siaran program Ramadan di sejumlah stasiun televisi dari tahun ke tahun tetap mengulang hal yang tak patut dan potensial melanggar ketentuan.

Ketua Komisi Infokom MUI Mabroer MS menjelaskan, perulangan kekeliruan itu terutama, dalam empat hal, yakni adegan kekerasan fisik dan verbal (verbal aggressiveness), tendensi sensualitas, kepatutan etis dan kelaikan syariat, dan protokol kesehatan pandemi Covid-19.

MUI kerap memberikan imbauan dan rekomendasi sudah dilayangkan kepada pihak televisi dari tahun ke tahun, tapi tetap tidak diindahkan.

Contoh tayangan yang mengandung sensualitas dan kekerasan verbal ini kebanyakan didapati di program-program yang bersifat live antara lain Pesbukers New Normal ANTV, Sore-Sore Ambyar TransTV, Ramadhan In The Kost Net TV, dan Pas Buka Trans7.

Mabroer menyatakan, hal ini tentu patut disayangkan apalagi potensi pelanggaran tersebut hampir berulang di stasiun-stasiun yang sama setiap tahunnya sepanjang dokumen hasil pantauan MUI beberapa tahun terakhir. “Hal ini, tentu layak dipertanyakan niat dan kesungguhan memperbaiki diri stasiun yang bersangkutan,” kata dia dalam keterangannya, Sabtu (01/05).

Ketua Pokja Media Watch dan Literasi Komisi Infokom MUI Gun Gun Heryanto, MUI merekomendasikan kepada pihak media, baik yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam produksi siaran program Ramadan, sebaiknya terus melakukan evaluasi bukan semata pada untung ruginya program di pasaran, tetapi juga terus berbenah untuk tidak melakukan kesalahan baik yang berupa pelanggaran atau pun ketidak patutan.

“Beberapa hal yang harus diperbaiki untuk 15 hari Ramadan terakhir dan juga mungkin Ramadan di tahun-tahun mendatang yang urgen adalah program-program komedi yang harus naik kelas,” ujar Gun Gun.

Dia menyebutkan, progam komedi Ramadan banyak yang ikut terjebak pada genre slapstic, dan improvisasi situasional . Maka yang terjadi adalah, dialog yang merendahkan lawan main. Bahkan mungkin terjerumus pada genre yang lebih ekstrem lagi, yakni slapstik agresif, offensive dan malah kebiru-biruan.

Dia menggarisbawahi, di sinilah letak tanggung jawab dalam hirarki pengaruh media, mulai dari level individual, rutinitas media, hingga manajemen organisasi media dalam upaya membuat isi media “naik kelas” sehingga juga bisa menaikan kelas khalayak.

Dia menegaskan MUI selalu memandang industri pertelevisian sebagai mitra strategis untuk sama-sama mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat sekaligus membentuk karakter bangsa. Seluruh evaluasi, apresiasi, dan rekomendasi yang diberikan MUI ini dalam konteks sama-sama menjaga peradaban rakyat Indonesia lebih maju ke depannya. 

MUI melakukan pemantauan program siaran Ramadan setiap tahunnya. Kegiatan ini berlangsung ke-14 sejak 2007. Tahun ini, 1442 H/2021 pantauan dibagi menjadi dua tahapan. Pemantauan Tahap I, 15 hari pertama Ramadhan dan Pemantauan Tahap II, 15 hari terakhir. Pemantauan dilakukan terhadap 20 stasiun TV, yakni: TVRI, TvOne, ANTV, MetroTV, Trans7, TransTV, SCTV, Indosiar, RCTI, MNC TV, GTV, Kompas TV, iNews, NET, RTV, NusantaraTV, BadarTV, InspiraTV, MentariTV, ElshintaTV.

Sementara itu, dalam evaluasi bersama MUI, KPI, dan Kementerian Agama dengan lembaga penyiaran televisi, tercetus pemahaman bersama dari sejumlah lembaga penyiaran televisi untuk memperbaiki sejumlah tayangan Ramadan yang ditemukan potensi pelanggaran tersebut

Rep. Aldiansyah Nurrahman

Tags: