Kamis, 6 Agustus 2020
17 Thu al-Hijjah 1441 H
Home / Lifestyle / MUI Serukan Ibadah Tetap di Rumah, Jangan Cemburu
Pojok Kanan Ketua Satgas Covid-19 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin (Foto dok. Sharianews)
Kontroversi himbauan masjid ditutup menyeruat, terlebih dengan dibukanya tempat pusat perbelanjaan yang membuat kerumununan. Tak ayal, ada beberapa pihak mendukung upaya membuka kembali masjid.

Sharianews.com, Jakarta – Kontroversi himbauan masjid ditutup menyeruat, terlebih dengan dibukanya tempat pusat perbelanjaan yang membuat kerumununan. Tak ayal, ada beberapa pihak mendukung upaya membuka kembali masjid.

Menanggapi hal itu, Ketua Satgas Covid-19 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin menyampaikan  apapun kebijakan yang di keluarkan pemerintah saat ini, selama pandemi Covid-19 belum jelas tuntasnya, maka masjid tidak boleh goyah. Masjid harus tetap tidak dijadikan kegiatan berjamaah oleh umatnya, kecuali khusus kalangan internal masjid seperti pengurusnya untuk azan.

Memang, diakuinya, ada sebagian umat yang ingin masjid dibuka kembali karena banyak tempat lain sudah dibuka. Namun, menurutnya, tindakan seperti itu tidak sepatutnya ditiru oleh masjid. Di  masa pandemic ini, masjid harus menjadi tauladan yang baik bagaimana menyikapi wabah Covid-19. Dengan begitu, sekalipun beberapa pihak sudah membuka atau melanggar koridor kesehatan Covid-19, tidak menjadikan masjid cemburu atau latah dan mengikuti tindakan serupa.

“Kalaupun terpaksa pemerintah relaksasi, kemudian pedagang sudah menjerit, maka masjid tidak perlu terpengaruh. Kita ini kalau memandang sesuatu kebaikan, kalau orang lain meruntuhkannya, kita berlahan. Tidak bisa menyelematkan semuanya jangan mengobarkan semuanya,” tegas Zaitun.

Dalam laman resmi MUI, Zaitun menambahkan, angkutan transportasi beberapa sudah terpaksa dibuka. “Sudahlah kita jangan cemburu. Apa daruratnya sekarang umat kembali ke masjid ? Sementara jalan keluar dari fiqih kita jelas, masalah hujan saja tidak usah ke masjid, ada hewan liar saja tidak perlu ke masjid, maka ketika ada wabah yang seperti ini, kita sudah cukup, tidak usah dulu ke masjid,” imbuh dia.

Pada masa-masa kegamangan menyikapi Covid-19 seperti ini, lanjut dia, ulama harus bertindak sebagai benteng umat dengan menjaga kehidupannya. Ulama harus terus bersuara lantang menjaga kemaslahatan umat dengan tetap tidak ibadah di masjid saat beberapa pihak bimbang antara menjaga ekonomi atau kesehatan.

 “Kita harus menjadi benteng umat yang kokoh, bahwa kalau orang melakukan hal yang keliru, kita tidak usah melakukan hal-hal yang keliru. Kekuatan kita dalam memegang kekuatan umat itu, akan menjadi benteng bagi umat ini,” tutup dia.

Rep. Aldiansyah Nurrahman