Sabtu, 11 Juli 2020
21 Thu al-Qa‘dah 1441 H
Home / Lifestyle / MUI: Salat Jumat Dua Sif Hukumnya Tidak Sah
Foto dok. MUI
Muncul seruan untuk melakukan salat jumat sebanyak lebih dari satu sif di satu tempat untuk mengatasi hal itu. Menanggapi seruan tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin menyatakan pelaksanaan salat jumat tidak bisa dilakukan bersif-sif atau secara begelombang di satu tempat.

Sharianews.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 membuat umat muslim harus menjaga jarak ketika sedang melaksanakan salat jumat. Hal ini mengakibatkan daya tampung masjid berkurang. Dikhawatirkan sebagian umat muslim tidak mendapat tempat untuk salat jumat.

Muncul seruan untuk melakukan salat jumat sebanyak lebih dari satu sif di satu tempat untuk mengatasi hal itu. Menanggapi seruan tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin menyatakan pelaksanaan salat jumat tidak bisa dilakukan bersif-sif atau secara begelombang di satu tempat.

Namun, dengan membuka kesempatan mendirikan salat jumat di tempat-tempat lain yang memungkinkan seperti musala, aula, gedung olahraga, stadion, dan sejenisnya. “Karena hal itu mempunyai argumen syari’ah (hujjah syar’iyyah) yang lebih kuat dan lebih membawa kemaslahatan bagi umat Islam,” jelas Zaitun, di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (4/6).

Sementara bagi jemaah yang datang terlambat dan tidak mendapat tempat di masjid serta tidak menemukan tempat salat jumat yang lain, atau dalam kondisi adanya alasan yang dibenarkan syariah, maka wajib menggantinya dengan shalat zuhur, sebagaimana Fatwa MUI Nomor 5 Tahun 2020.

Di antara isi fatwa tersebut, dijelaskan pelaksanaan salat jumat dua sif atau lebih dari satu kali di tempat yang sama pada waktu yang berbeda hukumnya tidak sah, walaupun terdapat udzur syar’i (alasan yang dibenarkan secara hukum).

Selanjutnya, fatwa tersebut menyebutkan bahwa orang Islam yang tidak dapat melaksanakan salat jumat disebabkan suatu udzur syar’i maka diwajibkan melaksanakan salat zuhur.

Disebutkannya, panduan ini muncul karena fatwa tersebut masih relevan dan paling membawa maslahat untuk menjawab permasalahan yang muncul saat ini. Fatwa tersebut, memiliki pijakan dalil syari’ah yang lebih kuat untuk situasi dan kondisi di Indonesia. Fatwa itu, juga mengacu pada pendapat ulama empat madzhab.

Selain itu, hukum asal dari shalat jumat adalah sekali saja dan hanya dilakukan di satu masjid di setiap kawasan serta dilakukan dengan segera tanpa menunda waktu.

“Dalam kondisi dharurah atau kebutuhan mendesak, misalnya jauhnya jarak antara tempat penduduk dan masjid atau menampungnya kapasitas masjid karena kepadatan penduduk di suatu wiayah, maka dalam kondisi seperti itu diperbolehkan mengadakan salat jumat di lebih dari satu masjid,” katanya.

Dia menambahkan, para ulama dari zaman ke zaman tidak memilih opsi salat Jumat dua sif atau dua gelombang atau lebih di tempat yang sama, mereka sudah membolehkan salat jumat di lebih dari satu masjid di satu kawasan bila ada keadaan yang mendesak seperti ini. Kebolehan melaksanakan salat jumat dua gelombang atau lebih di satu tempat yang sama, tidak relevan diterapkan di Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla (JK) menyampaikan pelaksanaan salat jumat dilakukan sebanyak dua sif. Lantaran adanya protokol kesahatan yang meminta jemaah salat berjarak satu meter.

Dengan kebijakan satu meter itu, menurut JK, memungkinkan umat muslim yang ingin melaksanakan salat jumat di masjid tidak tertampung. “Daya tampung masjid hanya maksimum 40 persen dari pada kapasitas biasanya. Akibatnya ialah banyak tidak tertampung, bisa tidak salat jumat. Karena itu dianjurkan untuk salat jumat dua kali, dua gelombang, dua sif” ujar JK, dalam Instagram pribadinya (2/6).

Rep. Aldiansyah Nurrahman