Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Mobilisasi Dana Pesta Riba

Rabu, 19 September 2018 20:09
Foto: Keluargasamawa.com
Lembaga keagamaan harusnya hanya mencantumkan rekening Bank Syariah, tidak malah mengajak umat tetap melestarikan pesta riba dengan menyediakan rekening Bank Konvensional sebagai rekening mobilisasi dana umat.

Sharianews.com, Jakarta. Ada satu logika yang tidak bisa dipungkiri bahwa satu rupiah saldo di Bank Konvensional, otomatis valid disebut dengan pejuang pesta riba, jika bunganya diambil. Satu rupiah saldo di Bank Konvensional, otomatis disebut dengan pejuang riba sejati tanpa pamrih, jika bunganya tidak diambil.

Logika ini tidak lazim disadari oleh publik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa hidupnya pesta riba di Bank Riba sangat tergantung dengan keberadaan saldo rekening. Biangnya adalah saldo. Biang riba adalah saldo rekening riba.

Ada lagi sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa persoalan simpanan bersyarat bunga atau kredit bersyarat bunga di Bank Konvensional ini bukan merupakan riba karena masih ada perbedaan pendapat. Namun, ada kaidah fikih yang menyatakan bahwa kita orang beriman harus taat pada Ulil Amri, apalagi dalam hal penentuan hukum (istinbath).

Ulil Amri yang dimaksud oleh Tafsir Ibnu Katsir adalah Ulama dan Umara. Ada Ulama Dewan dan Umara Dewan yang harus ditaati. Bahkan ada kaidah ‘hukumnya hakim atau penegak hukum adalah mengikat dan menghilangkan khilaf’ (hukmu al-hakim ilzaamun wa yarfa’u al-khilaaf).

Fatwa MUI No. 1 tahun 2004 telah menegaskan bahwa semua transaksi simpanan bersyarat bunga dan pinjaman atau kredit bersyarat bunga adalah Riba dan hukumnya Haram. Fatwa tersebut juga memberikan solusi lugas bahwa atas keharaman transaksi simpanan dan pinjaman berbasis bunga tersebut adalah dengan beralih ke Lembaga Keuangan Syariah.

Sejak tahun 1992 sampai dengan saat ini pun sudah ada ribuan Lembaga Keuangan Syariah. Masih dalam Fatwa tersebut juga dinyatakan bahwa dalam kondisi menyulitkan, maka boleh menggunakan Lembaga Keuangan Konvensional.

Menurut ukuran kelaziman, rasanya tidak akan sulit bagi kita semua untuk menemukan Bank Syariah. Bahkan di Papua pun sudah ada beberapa Bank Syariah di berbagai kota. Semua ibukota provinsi dan hampir di semua ibukota kabupaten sudah ada Bank Syariah. Di berbagai wilayah di pulau Jawa, tidak akan mungkin kesulitan menemukan Bank Syariah, baik Bank Umum Syariah maupun BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah).

Keadaan Darurat?

Fakta di lapangan kita temui masyarakat yang masih saja menggunakan saldo di rekening Bank Konvensional dengan beragam alasan. Alasan-alasan ini, jika kita cermati lebih jauh, ternyata bukan alasan yang hajiyat, apalagi dharuriyat. Biasanya adalah karena alasan yang tidak syar’i. Perhatikan bahwa definisi Hajiyat dalam konteks ini adalah kondisi sulit dan sempit jika tidak menggunakan Bank Konvensional. Dharuriyat adalah kondisi yang menghadirkan kerusakan atau kemusnahan atau kematian jika tidak menggunakan Bank Konvensional.

Ketika kita menggunakan alasan bahwa Bank Syariah tidak mudah dijangkau, alasan ini tidak bisa diterima oleh akal karena Bank Syariah sudah bertaburan ada di Indonesia. Bahkan banyak Bank Syariah membuka layanan office channeling, sehingga cukup sekali kita membuka rekening Bank Syariah, selanjutnya bisa melakukan transaksi di kantor Bank Konvensional untuk rekening Bank Syariah, sehingga aliran dana kita tidak akan mungkin tercampur dengan yang haram.

Ketika kita menggunakan alasan sedikitnya ATM, ternyata banyak Bank Syariah BUMN atau BUMD yang menggunakan fasilitas ATM milik Bank Induknya untuk bisa mengakses rekening Bank Syariah tanpa dikenakan biaya. Hampir semua Bank Syariah juga sudah bisa menggunakan akses ATM Bersama atau berlogo Prima.

Perlu dicermati bahwa aliran dana di rekening kita tidak akan mungkin tercampur dengan aliran dana haram karena sistemnya sudah sangat berbeda, meskipun fisik uangnya jadi satu tempat di mesin ATM yang sama.

Ketika kita menggunakan alasan kemudahan transaksi, hampir semua Bank Syariah sudah memiliki teknologi mobile banking yang canggih, bahkan berbagai Bank Syariah milik BUMN maupun swasta memiliki fasilitas layanan teknologi yang sama persis dengan Bank Konvensional. Ini jelas halal karena transaksinya sudah sesuai Syariah, hanya teknologinya yang sama persis. Sejatinya, tanpa mobile banking pun kita masih bisa hidup normal.

Ketika kita menggunakan alasan menggunakan transaksi di Bank Konvensional hanya untuk transaksi bisnis, saya membuktikan bahwa semua bisnis saya bertahun-tahun bisa dijalankan tanpa menggunakan satu pun rekening Bank Konvensional. Rasanya ini lebih kepada manjanya kita dalam bertransaksi perbankan. Jika untuk keperluan halal tentu tidak masalah. Namun, manja dalam rangka tetap nyaman menikmati pesta riba, rasanya sayang untuk dilakukan.

Ketika kita menggunakan alasan karena gajian ditransfer ke rekening Bank Konvensional, maka solusinya sangat mudah. Begitu gaji ditransfer, maka mari langsung transfer saldonya ke rekening Bank Syariah tanpa menunggu waktu lama, jangan sampai lewat hari, agar saldo di rekening Bank Konvensional tidak sempat diakui sebagai saldo pesta riba. Ingat logika yang saya sampaikan di atas bahwa satu rupiah saldo Bank Konvensional otomatis langsung dicatat sebagai biang atau sumber utama dana pesta riba.

Ketika kita konsisten melakukan hal tersebut, maka tanpa diminta, Bank Konvensional akan pergi dan tidak mau lagi melayani penggajian di perusahaan tempat kita bekerja. Masuklah Bank Syariah. Bank Syariah tidak mungkin tidak mau melayani penggajian, hanya saja persaingan bisnis memang ketat. Syaratnya adalah kita harus kompak, kita ajak rekan kerja kita untuk hanya menggunakan Bank Syariah saja.

Tak Ada Beda?

Ada pula yang masih menggunakan rekening pesta riba dengan alasan Bank Konvensional dan Bank Syariah sama saja, hanya beda istilah. Coba perhatikan bahwa ketika nama saya diganti dengan Dajjal, saya pasti tidak mau karena beda istilah akan beda makna. Ketika saya nikah lalu diberi buku zina, maka saya pasti tidak mau karena beda istilah akan beda makna.

Perhatikan dari sisi perhitungan dana tabungan atau giro atau deposito. Bank Konvensional menyalahi logika bisnis bahwa uang itu bisa menghasilkan sesuatu ketika sudah dibisniskan. Bank Konvensional menghitung hasil sejak uang baru diserahkan sebesar % x pokok yang sudah barang tentu ada hasil nominal rupiah. Dana belum ditransaksikan, tapi sudah berani mendahului kehendak Allah. Inilah logika dasar Bank Konvensional.

Berbeda dengan di Bank Syariah, jika transaksinya adalah bisnis, ketika uang dijadikan modal kerja, maka kesepakatan yang muncul adalah nisbah bagi hasil sebesar % x hasil. Hasilnya menunggu dana ditransaksikan dengan transaksi dagang terlebih dulu. Di sisi pembiayaan pun Bank Syariah mutlak wajib harus menggunakan transaksi legal formal berupa transaksi dagang jika ingin ambil profit.

Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika kita menjalankan transaksi jenis apapun di Bank Konvensional, maka kemungkinannya hanya dua, yakni pesta riba atau melestarikan pesta riba. Tidak mungkin ada kemungkinan lain. Setiap produk apapun di Bank Riba, pasti dalam rangka membesarkan pesta riba di bidang perbankan.

Mobilisasi Dana Umat

Satu lagi bahwa Bank Syariah berani berjanji secara legal formal tidak akan mendukung atau memberikan pembiayaan untuk bisnis miras, bisnis zat haram, bisnis rokok, serta bisnis transaksi haram. Bank Syariah mau tidak mau harus berjanji untuk menghindari transaksi terlarang dan hal ini diawasi secara legal formal oleh OJK dan auditor serta oleh Dewan Pengawas Syariah-Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Melihat kondisi tersebut, seharusnya kita akan menghindari transaksi di Bank Konvensional.

Namun, fakta memang bicara lain. Salah satu fenomena yang masih marak terjadi di masyarakat adalah mobilisasi dana keagamaan yang menggunakan rekening pesta riba di Bank Riba. Hal ini bisa tampak di berbagai lembaga zakat, infak, sedekah dan wakaf yang masih mencantumkan rekening pesta riba di Bank Konvensional. Padahal, tidak ada alasan syar’i yang menyebabkan kita masih dibenarkan menggunakan instrumen Bank Riba.

Kalaupun alasannya adalah lembaga keagamaan ini memberikan kemudahan bagi donatur untuk melakukan transfer dana ke sesama rekening Bank Riba, hal ini masih tidak logis. Kita berprasangka baik bahwa donatur tidak mungkin keberatan jika kehilangan dana 6.500 perak dalam rangka ibadah karena melakukan transfer dari bank lain ke Rekening Bank Syariah yang disediakan oleh lembaga keagamaan.

Fakta juga membuktikan bahwa sulit menemukan Bank Syariah yang belum punya fasilitas mobile banking, sehingga rasanya donatur tak akan keberatan untuk melakukan transfer yang bedanya hanya kehilangan 6.500 perak.

Akhirnya, kita harus bersepakat bahwa lembaga keagamaan harus memiliki karakter yang kuat dengan hanya mencantumkan rekening Bank Syariah saja, tidak malah mengajak umat tetap melestarikan pesta riba dengan menyediakan rekening riba sebagai rekening mobilisasi dana umat. Ingat, bahwa satu rupiah saldo di rekening Bank Konvensional adalah biang pesta riba, sistemik, tidak mungkin tidak.

Ayo ke Bank Syariah, dimulai dari diri sendiri, dari sekarang. (*)

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin