Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Sharia insight / Milenial dan Gerakan Ekonomi Syariah
FOTO I Dok. sharianews
Perkembangan industri halal yang sangat pesat ini seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi produk halal.

Sharianews.com, Saat ini ekonomi syariah terus berkembang pesat, termasuk yang berkaitan dengan industri halal dan dana sosial Islam yang dikenal dengan Ziswaf (zakat, infak, sedekah dan wakaf). Perkembangan industri halal yang sangat pesat ini seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi produk halal.

Industri halal sendiri bukan hanya terkait dengan sektor makanan dan minuman, tetapi juga sektor keuangan, pariwisata, kosmetika, obat-obatan, fashion hingga media dan rekreasi halal. Dari sektor keuangan saja, pada tahun 2018 total aset perbankan syariah telah mencapai Rp 444 triliun atau meningkat sebesar 14.6 persen. 

Selain itu, total aset industri keuangan non-bank (IKNB) dan pasar modal syariah pun mengalami peningkatan yang cukup baik, dengan masing-masing total aset mencapai Rp 98 triliun dan Rp662triliun di tahun 2018. Dengan demikian, total keseluruhan aset keuangan syariah di tahun 2018 mencapai angka Rp1,204triliun atau setara dengan 8.47 persen dari total aset keuangan di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia bahkan memperkirakan market share keuangan syariah akan mencapai angka 20 persen di tahun 2023. Hal ini menandakan ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi yang cukup besar di masa yang akan datang. Selain industri halal, dana Ziswaf pun memiliki potensi yang sangat tinggi terutama jika dikaitkan dengan perannya dalam pembangunan nasional.

Walaupun mengalami peningkatan yang cukup baik, ekonomi syariah diharapkan untuk terus berkembang. Dengan potensi jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya dapat lebih menguasai industri ini, baik dari sisi konsumsi maupun produksi. Dari sisi konsumsi, menurut Global Islamic Economy Indicator (GIEI) di tahun 2018, Indonesia menempati urutan ke 10, masih jauh dibandingan dengan Malaysia, Uni Emirat Arab, maupun Bahrain.

Bahkan untuk level nasional, market share perbankan syariah sendiri masih berada di sekitar angka 5 persen dari seluruh total aset perbankan di Indonesia. Dari sisi Ziswaf sendiri terutama untuk zakat, nilai zakat yang terkumpul masih relatif sangat rendah dibandingkan dengan potensi zakat yang seharusnya ada. Menurut penelitian Baznas, potensi zakat di Indonesia seharusnya mencapai Rp286triliun di tahun 2015, sedangkan dana zakat yang terkumpul di tahun 2017 masih di angka Rp6.2triliun.

Beberapa hal yang telah dijelaskan menggambarkan bahwa ekonomi syariah memiliki beberapa kendala sehingga pencapaian yang ada saat ini, baik dari sisi industri halal maupun dana sosial masih belum sesuai dengan potensi yang ada. Beberapa kendala tersebut diantaranya kurangnya regulasi yang mendukung serta sosialisasi dan edukasi yang masih minim.

Sosialisasi merupakan salah satu hal terpenting dalam pengembangan ekonomi syariah. Beberapa masyarakat sudah mulai tersosialisasi dan sadar akan pentingnya ekonomi syariah, tetapi masih banyak masyarakat yang masih belum paham terkait praktik ekonomi syariah secara keseluruhan. Hal ini mengakibatkan banyaknya masyarakat yang tidak memedulikan keharusan untuk mengkonsumsi produk halal atau pentingnya membayar Ziswaf. Sosialisasi ini seharusnya dapat diatasi jika didukung oleh sumberdaya manusia yang mumpuni. Salah satu potensi sumber daya manusia yang sangat potensial adalah generasi muda atau istilah yang sedang ngetrend saat ini adalah generasi millenial.

Generasi millenial sendiri memiliki definisi yang berbeda-beda. Secara demografis, generasi millenial adalah orang-orang yang lahir di sekitar tahun 1980 hingga 2000 atau orang-orang yang lahir pada masa millennium. Generasi millenial memiliki beberapa karakteristik yang sangat khas, diantaranya sangat bergantung pada gadget dan media-media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp dan sebagainya.

Adapun beberapa kelebihan generasi millenial ini adalah generasi ini memiliki jumlah yang terbesar saat ini, memiliki jiwa entrepreneurship yang cukup tinggi, serta memiliki kemudahan dalam mengakses teknologi. Kemudahan dalam mengakses teknologi membuat generasi millenial mendorong mereka memiliki tingkat pendidikan dan pengetahuan yang baik serta sangat peka akan perkembangan isu yang ada.

Mahasiswa yang merupakan agen perubahan dan salah satu elemen dari generasi millenial merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat besar mengingat kreatifitas mereka yang sangat tinggi. Dalam hal ini, sangat memungkinkan jika mahasiswa banyak dilibatkan dalam sosialisasi sistem ekonomi syariah. Namun sebelum melibatkan mahasiswa dalam sosialisasi ekonomi syariah, mereka terlebih dahulu harus mendapatkan pengetahuan yang memadai.

Akan tetapi karena mereka memiliki kekhasan sebagai millenials, salah satu program sosialisasi harus dikaitkan dengan kekhasan generasi millenial dalam mengakses informasi, yaitu melalui gadget. Sosial media merupakan media yang dapat digunakan untuk mengedukasi generasi millenial. Media-media sosial ini merupakan media informasi yang paling sering digunakan oleh generasi millenial. Selain itu, adanya sosialisasi ke kampus melalui seminar maupun komferensi diharapkan dapat lebih menambah wawasan mereka akan sistem ekonomi umat ini. Dalam hal sosialisasi ke kampus-kampus, lembaga atau instansi terkait seperti regulator, lembaga keuangan syariah (LKS), maupun lembaga amil dapat melakukan kerjasama dengan kampus dan himpunan mahasiswa.

Adanya mahasiswa yang teredukasi dengan baik akan memberikan efek multiplier yang lebih besar dalam sosialisasi ekonomi syariah. Sebagai contoh, beberapa mahasiswa telah membuat suatu komunitas, dimana komunitas tersebut akan melakukan edukasi melalui media sosial dengan tampilan atau ilustrasi yang menarik untuk dilihat. Dengan adanya tampilan yang menarik ini, akan lebih banyak pengguna sosial media yang ingin membacanya, bukan hanya dari mahasiswa tetapi juga pelajar maupun generasi millenial lainnya yang sudah bekerja.

Komunitas-komunitas tersebut biasanya berupa himpunan mahasiswa ekonomi syariah, maupun himpunan mahasiswa di luar ekonomi syariah yang memiliki concern yang tinggi pada perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Komunitas-komunitas tersebut selain mengedukasi masyarakat melalui media sosial juga dapat melalukan edukasi melalui pelatihan-pelatihan dasar terkait ekonomi syariah, seperti pelatihan dasar fiqh muamalah, pelatihan pengelolaan Ziswaf dan praktik keuangan syariah.

Trainer untuk pelatihan ini bisa bekerja sama dengan akademisi atau dosen yang memiliki kemampuan di bidangnya. Pelatihan-pelatihan ini sendiri sebenarnya memiliki sasaran yang cukup luas, mulai dari akademisi, umum, amil, sampai dengan pemiliki usaha kecil menengah yang sedang mendirikan perusahaan di bidang industri halal. Dengan tersosialisasinya sistem ekonomi syariah secara luas, diharapkan dapat menarik minat masyarakat akan ekonomi syariah sehingga pangsa pasarnya akan semakin meningkat serta partisipasinya pada program dana sosial Islam semakin tinggi. (*)

Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

Oleh: Tita Nursyamsiah

Tags: