Selasa, 17 September 2019
18 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Meski Rupiah Melemah Hingga Rp15.222, Perbankan Syariah Masih Kokoh
FOTO | Dok. dakta.com
Meski penurunan nilai rupiah punya dampak terhadap resiko keuangan yang ditanggung di perbankan Indonesia secara keseluruhan, tetapi jumlahnya tidak begitu signifikan pada perbankan syariah.  

Sharianews.com, Jakarta. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak lesu pada penutupan perdagangan Senin (30/10/2018). Tercatat, menurut Bloomberg, mata uang Indonesia melemah hingga 0,04 persen menjadi Rp 15.222.5 ribu setelah ditutup dengan angka Rp 15.216.5 ribu per dolarnya di hari sebelumnya.

Masih mengutip Bloomberg, mulai pagi sampai siang hari kemarin, rupiah bergerak hanya di pusaran 15.212 hingga 15.230 per dolar AS. Apabila dihitung dari awal tahun atau year to date return, pelemahan rupiah mencapai 12,30 persen.

Adapun kurs antarbank berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) pada 29 hingga 30 Oktober kemarin, rupiah dipatok sebesar 15.218 per dolar AS, menurun jika dibandingkan dengan patokan tiga hari sebelumnya yang ada di angka 15.207 per dolar AS.

Hanya berdampak 1,3 persen

Namun, Advisor Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dhani Gunawan Idhat mengatakan, meski penurunan nilai rupiah punya dampak terhadap resiko keuangan yang ditanggung di perbankan Indonesia secara keseluruhan, tetapi jumlahnya tidak begitu signifikan pada perbankan syariah.  

Menurut Dhani, kalau dilihat dari jumlah asetnya yang mencapai Rp 426 triliun per Agustus 2018, maka dampak landainya rupiah pada besaran eksposur atau resiko keuangan yang ditanggung dalam valuta asing oleh perbankan syariah kurang lebih hanya 1,3 persen atau sebesar Rp 5,6 triliun.

“Jumlah tersebut lebih kecil dibanding dengan eksposur perbankan konvensional yang mencapai 3,3 persen dari total aset di bulan yang sama, yakni Rp 7.725 triliun,”paparnya kepada Sharianews.com beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Dhani menambahkan, tren negatif rupiah terhadap dolar AS juga memiliki efek pada eksposur perbankan konvensional di transaksi pertukaran dua valuta melalui pembelian atau penjualan tunai (spot market) yang mendekati angka Rp 252 triliun hingga Oktober 2018.

Terlindungi oleh prinsip syariah       

Minimnya akibat pelemahan nilai tukar rupiah pada perbankan syariah, Dhani menjelaskan, hal ini lebih disebabkan oleh prinsip ekonomi Islam itu sendiri yang membatasi transaksi unsur riba dalam dunia keuangan seperti kontrak berjangka (futures contract) dan opsi (option contract).

“Transaksi perbankan syariah hanya di seputar jual beli seperti kontrak serah (forward contract) dan tukar menukar atau disebut dengan swap contract. Sedangkan di perbankan konvensional kontrak bilateral keuangannya lebih banyak, mencakup transaksi yang dilarang dalam ekonomi syariah,”ujarnya.

Senada dengan Dhani, Analis sekaligus Direktur Center of Islamic Business and Economic Studies (CIBEST) Irfan Syauqi Beik menerangkan, terbatasnya perbankan syariah dari kontrak derivatif inilah yang membedakan besaran dampak ekonomi global seperti devaluasi nilai tukar di perbankan syariah dan perbankan konvensional.(*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil

Tags: