Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Meski Rugi, Putra Angkat Buya Hamka Ini Sediakan 1000 Porsi Untuk Kaum Dhuafa
Jusuf Hamka sedang melayani pembeli. (Dok/Foto Tribunnews.com)
Secara matematika memang gak untung tapi secara spiritual berdasarkan keyakinan dan agama saya ini sangat menguntungkan buat saya

Sharianews.com, Akhir-akhir ini nama Jusuf Hamka, seorang anak angkat dari Ulama dan Sastrawan Indonesia, Buya Hamka cukup sering diperbincangkan publik. Tidak hanya soal pembuatan masjid berarsitektur Cina pada 2018 lalu di kolong Tol Ir. Wiyoto Wiyono Jakarta Utara, tetapi juga soal pendirian warung nasi khusus kaum dhuafa.

Warung Nasi Kuning Pojok Halal yang sudah mulai didirikan 6 Februari 2018, memproduksi seribu porsi setiap harinya dengan tarif tiga ribu rupiah, dengan harapan dapat memudahkan rakyat menengah ke bawah.

“Secara matematika memang gak untung tapi secara spiritual berdasarkan keyakinan dan agama saya ini sangat menguntungkan buat saya,” kata dia beberapa waktu lalu.

Hal tersebut mengingatkan Jusuf dengan pesan almarhum ayah angkatnya, Buya Hamka. Yang mengatakan,’Nak, harta yang kamu makan akan jadi kotoran, harta yang kamu simpan akan jadi rebutan dan warisan. Tapi harta yang kamu sedekahkan akan jadi tabungan abadi di akhirat nanti”.

Ia menjelaskan bahwa usahanya tersebut didesain sedemikian rupa agar tidak merugikan pedagang lain yang menaruh harga lebih tinggi untuk keuntungan. Oleh karenanya, nasi yang dijadikan bahan dasar tersebut dibeli dari warung setempat.

“Karena filosofi saya jangan membantu orang tapi menyusahkan orang lain (sebagai saingan). Kita dagang itu, dia jual sepuluh ribu saya jual tiga ribu, yang ada nanti saya malah dapat sumpah serapah. Yang senang yang makan doang, sedangkan penjual lain merasa tersaingi,” kata anak dari ulama Buya Hamka ini.

Dalam pemarapannya tersebut, ia menceritakan kisah menarik ketika ada seorang Ibu-ibu China berkendara mobil mercy yang makan ke warungnya. Hal tersebut pada awalnya sempat menimbulkan prasangka buruk (orang kaya makan di tempat kaum dhuafa).

Namun diakhir setelah selesai makan, lanjutnya, ibu itu memberikan sejumlah uang didalam amplop 5 juta rupiah. Ketika ibu itu dipanggil kembali, ibu paruh baya tersebut bertanya, "Kenapa? Saya seorang nasrani saya gak boleh ikut sedekah ya?"

Akhirnya saya bilang, ‘oh ibu maaf, bukan. Bukan begitu. Tapi uang ini kebanyakan,” cerita pengusaha sukses ini.

 Ibu yang sebelumnya memberikan uang akhirnya menjelaskan kepada Jusuf, bahwa ia hanya ingin sedekah karena upaya warung makan tersebut yang dinilai bagus dan banyak yang merasakan manfaatnya. Bahkan ia meminta agar Jusuf membuatkan proposal untuk diberikan kepada temannya.

Akan tetapi, dengan dalih warung makan tersebut merupakan sedekah pribadinya, ia menolak untuk membuatkan proposal sumbangan.

“Karena saya gak tahu kapan, di usia 60 tahun itu udah bau tanah dan kita gak tahu kapan kita akan dipanggil pulang. Oleh sebab itu, harta  yang Allah berikan setiap hari kepada saya, nikmat yang diberikan kepada saya harus berbagi. Karena saya harus menabung untuk di akhirat nanti,” imbuh dia.

Kini Warung Nasi Kuning Pojok Halal telah memiliki empat outlet di Jakarta. Pertama di Sunter Jalan Yos Sudarso, kemudian di Hayam Wuruk, disamping gedung KPK dan terakhir di gedung Palmerah.

“Jadi bukan melayani umat dengan uang. Kalo sumbangan sembako itu tidak terasa. Tapi kalo anda membantu perut rakyat yang dalam keadaan sulit, setiap hari membantu mereka itu akan membekas di kepalanya maupun hatinya dan ini menjadi doa. Ingat satu hal, sadekah kita adalah berkah bagi kaum dhuafa dan fakir miskin. Tapi doa mereka akan menjadi berkah bagi kita,”pesan dari pengusaha ulung yang tengah membaktikan dirinya untuk rakyat.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir Abdillah

Tags: