Sabtu, 21 September 2019
22 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Meski Laba Hingga Rp 1,2 Triliun,  Asuransi Syariah Masih Harus Berbenah
FOTO | Dok. keuangan.kontan.co.id
Persepsi seolah meniru dan tinggal melabeli dengan syariah, inilah tantangan yang sesungguhnya yang dihadapi oleh industri asuransi syariah di Indonesia.

Persepsi seolah meniru dan tinggal melabeli dengan syariah, inilah tantangan yang sesungguhnya dihadapi oleh industri asuransi syariah di Indonesia.

Sharianews.com, Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan laporan data statistik Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Syariah Indonesia per Mei 2018. Dari data tersebut diketahui, laba setelah pajak perusahaan asuransi syariah di Indonesia naik pesat menjadi Rp 1.293 triliun, dari Rp 860 miliar per April di tahun 2017.

Meski begitu, menurut analis asuransi syariah, dan dosen Pascasarjana Institut Ilmu al Qu’an (IIQ), Jakarta, Endy M. Astiwara, masih banyak tantangan yang harus dihadapi pada sektor industri ini.

“Ada faktor-faktor  internal dan eksternal yang bisa menghambat, sekaligus menjadi tantangan di sektor industri asuransi syariah ini,”jelas mantan Ketua Bidang Bisnis dan Pariwisata Dewan Syariah Nasional, Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) ini, Rabu (15/8/2018).

Hambatan internal

Hambatan internal, menurutnya adalah perlunya meningkatkan profesionalitas kinerja sumber daya manusia (SDM), baik manajemen atau pun pegawainya, mengenai industri asuransi syariah di perusahaan itu sendiri. Hal ini harus diupayakan karena banyak asuransi syariah yang ada saat ini adalah berasal dari konversi asuransi konvensional.

Tantangan berikutnya adalah soal permodalan. Hingga saat ini modal masih menjadi kendala internal yang dihadapi oleh industri asuransi syariah, terutama di kantor cabang atau divisi dan unit bisnis dari organisasi non bank ini.

“Masih banyak kantor cabang atau divisi, yang hanya diberi modal terbatas oleh induknya. Padahal untuk bisa mengembangkan kapasitas usaha butuh modal yang besar. Tertama di awal saat perintisan usaha. Investasinya memang butuh modal besar, apakah untuk pengadaan gedung kantor, gaji karyawan, dan semacamnya,”urai Anggota Badan Pleno DSN MUI ini kepada sharianews.com.

Tantangan lainnya, adalah bagaimana kantor cabang atau divisi bisa mengoordinasikan manajemen pemasaran produk asuransi syariah dengan perusaahan induknya. “Sebab masih banyak produk-produk  yang dibuat oleh kantor cabang dan divisi perusahaan asuransi syariah, yang ‘meniru’ (mirroring) industri asuransi konvensional atau induknya.

“Persepsi seolah meniru dan tinggal melabeli dengan syariah, inilah tantangan yang sesungguhnya. Bagaimana bisa menciptakan produk yang berbeda dan sesuai dengan syariah dalam semua aspeknya,”terangnya.

Jika dilihat dari strategi bisnis organisasi, tampaknya menurut Endy, soal produk tiruan ini bisa jadi justeru bagian dari siasat pemilik usaha, yang tidak ingin industri asuransi syariah di kantor cabang ini menjadi lebih besar dari induknya, yaitu asuransi konvensional.

“Jika benar adanya, maka tantangan internal ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak,” katanya miris.

Faktor  eksternal

Sementara secara eksternal, tantangan utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat terkait apa dan bagaimana asuransi syariah itu, dan juga dari kondisi global.

“Walau promosi dan edukasi sudah diupayakan, baik bagi Muslim itu sendiri atau bagi non Muslim, mereka masih lebih tertarik dengan produk asuransi konvensional. Mungkin bagi yang Muslim mudah percaya sebagai komitmen keagamaan, tetapi buat yang non-muslim promosi saja belum tentu memadai, jika secara benefit produknya tidak lebih menjanjikan,”tuturnya.

Oleh karenanya, menurut Endy harus ada upaya keras dan dukungan banyak pihak baik dari kalangan akademisi, praktisi, maupun elemen masyarakat lainnya. (*)

Reporter; Emha S. Asroro Editor:Ahmad Kholil