Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Meski Indeks Literasi Rendah, Pegadaian Syariah Masih Untung Hingga 154 Persen
-
Lebih kecilnya literasi masyarakat mengenai pegadaian dibanding dengan industri perbankan atau jasa asuransi, belum tentu mempengaruhi inklusi masyarakat terhadap pegadaian syariah.

Lebih kecilnya literasi masyarakat mengenai pegadaian dibanding dengan industri perbankan atau jasa asuransi, belum tentu mempengaruhi inklusi masyarakat terhadap pegadaian syariah.

Sharianews.com, Jakarta. Berdasar buku laporan Roadmap Pasar Modal Syariah 2015-2019 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan sektor jasa keuangan pegadaian, baik syariah maupun konvensional, jumlah yang terliterasi dengan baik baru mencapai 14,85 persen.

Angka tersebut lebih kecil dibanding dengan jumlah yang terliterasi dengan baik pada asuransi dan perbankan. Baik syariah maupun konvensional. Yakni, 17,84 persen untuk asuransi, dan 21,80 persen untuk perbankan.

Namun, menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat PT. Pegadaian, Basuki Tri Andayani, angka indeks literasi sebagaimana data dari OJK itu, bukanlah satu-satunya cara melihat kinerja pegadaian syariah secara keseluruhan. "Karena masih ada data lain sebagai pembanding terkait dengan indeks literasi, khususnya untuk pegadaian syariahnya,” ujarnya kepada Sharianews.com, Kamis (9/8/2018).

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Strategi Pemasaran dan Penjualan Pegadaian Syariah, Moh. Slamet Hartono.

Dengan memperhatikan beberapa data, laporan laba-rugi dan penghasilan komprehenshif, semester I 2018, ia menuturkan, laba pegadaian syariah milik pemerintah (persero) secara keseluruhan per semester I atau 30 Juni 2018, meningkat sebesar 154 persen, menjadi kira-kira Rp 200 miliar dari Rp 134 miliar pada semester yang sama di tahun 2017.

“Pencapaian ini menjadi bukti bahwa masyarakat sangat akrab dengan produk-produk yang dibuat oleh pegadaian syariah," kata Slamet.

Sebagai contoh, ia menyebutkan produk pegadaian syariah Amanah, yang memperlihatkan pertumbuhan meningkat, bahkan hingga sekitar 300 persen. Sedangkan, Arrum Haji, meningkat sekitar 500 persen di semester I tahun ini, dibanding tahun sebelumnya,” papar Slamet kepada Sharianews.com.  

Sementara menurut Basuki, lebih kecilnya literasi masyarakat mengenai pegadaian dibanding dengan industri perbankan atau jasa asuransi, belum tentu mempengaruhi inklusi masyarakat terhadap pegadaian, khususnya yang syariah.

Ia kemudian memperlihatkan data adanya lonjakan pendapatan atau rincian perolehan produk-produk pegadaian, baik konvensional terlebih yang syariah.

Misalnya, laporan Statistik Perusahaan Pegadaian Indonesia oleh PT. Pegadaian per semester I atau Juni 2018, total laba bersih berjalan, yang belum diaudit oleh pegadaian pemerintah, baik konvensional maupun syariah, mencapai sekitar Rp 1.374 triliun.

"Jumlah itu meningkat dari kira-kira Rp 1.162 triliun, yang meski data ini belum diudit, pada semester yang sama, di tahun 2017, kenaikannya sekitar 15,43 persen," kata Basuki. 

Adapun total aset sebelum diudit pegadaian secara keseluruhan di semester I 2018, mencatatkan angka kira-kira Rp 50.795 triliun. Jumlah ini meningkat dari data semester I 2017, dengan perolehan angka yang sudah diaudit sekitar Rp 48.687. Peningkatannya kurang lebih mencapai 4,16 persen.

Perbandingan nilai aset dan laba

Sebagai perbandingan, menurut laporan Statistik Perusahaan Pegadaian Indonesia oleh OJK, total seluruh aset perusahaan pegadaian pemerintah, baik syariah maupun konvensional, mencapai Rp 51.646 triliun per Mei 2018. Meningkat sebesar 9,51 persen dari bulan yang sama tahun 2017, dari total aset sebesar Rp 48.821 triliun. 

Sedangkan laba periode berjalannya, sesuai laporan OJK, per Mei 2018 membukukan angka Rp 1.178 triliun. Naik sebesar 9,51 pesen dari tahun 2017 di bulan yang sama, yang membukukan laba sebesar Rp 1.066 triliun.

“Data ini menunjukkan bahwa angka indeks literasi belum tentu berbanding lurus dengan kinerja yang sudah kami upayakan," ujar Basuki. 

Sementara Slamet menambahkan, meskipun indeks literasi pegadaian lebih kecil dibanding dengan dua sektor industri keuangan lainnya, pihaknya telah bekerja dengan keras agar masyarakat dapat mengakses transaksi pegadaian, khususnya pegadaian syariah.

Beberapa usaha yang dilakukan untuk meningkatkan literasi tersebut, antara lain, edukasi berbagai macam seminar atau pun pelatihan. Juga dengan fokus mengimplementasikan prinsip-prinsip syariah dalam pegadaian. 

"Terutama dengan terus menciptakan program atau produk jasa baru yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti rahn hasan, sesuai kebutuhan masyarakat di sektor pegadaian,” jelas Slamet. (*)

Reporter: Emha S. Asror. Editor: Ahmad Kholil