Kamis, 18 Juli 2019
16 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Keuangan / MES: Ini Penjelasan Pro Kontra Asuransi Syariah
FOTO I Dok. Sharianews.com
Pro-kontra tersebut bukan terletak pada substansi asuransi, melainkan bagaimana cara yang diterapkannya.

Sharianews.com, Jakarta ~ Asuransi oleh sejumlah kalangan disebut-sebut masih mengandung unsur haram dan riba. Termasuk pro-kontra asuransi syariah yang dalam operasional bisnisnya sudah menjalankan prinsip syariah.

Namun, pro-kontra tersebut bukan terletak pada substansi asuransi, melainkan bagaimana cara yang diterapkannya.

Muhammad Yusuf Helmy, selaku Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengatakan, secara substansi, asuransi mengandung kebaikan dan gotong royong.

“Bahkan substansinya ada, baik di konvensional maupun syariah. Sebetulnya para ulama ini tidak mendebatkannya, mereka sepakat asuransi adalah suatu kebaikan. Karena intinya membantu dan saling membantu. Tapi yang jadi perdebatan ini adalah bagaimana caranya,” ujar Yusuf di Jakarta Selatan, Selasa (14/5).

Menurut Yusuf, asuransi syariah dinilai memiliki cara yang lebih baik dalam penerapannya. Yusuf mencontohkan, prinsip asuransi syariah ini seperti halnya ketika ada bencana atau musibah seperti kematian. Sebagai umat beragama, tentu semua pihak akan berusaha membantu meringankan keluarga yang ditimpa musibah, dengan memberikan bantuan berupa uang.

“Hal itulah sebenarnya yang ada dalam asuransi syariah. Maka andaikan dalam ruangan ini (ruang saat diskusi berlangsung) punya satu visi misi yang sama, yaitu kalau ada risiko kita harus antisipasi, tidak bisa risiko itu dihilangkan,” kata dia.

Menurut pengurus pusat MES ini, antisipasi akan lebih mudah bila dilakukan secara bersama-sama. Sebagai contoh, masyarakat bisa mengumpulkan dana melalui dana kas yang bisa digunakan untuk meringankan beban bagi keluarga yang tertimpa musibah.

“Lalu agar uang tersebut bisa terkumpul, ya kita harus komitmen akan memberikan uang secara periodik,” lanjut Yusuf.

Di sisi lain, Islam tidak diperkenankan untuk mengendapkan uang (idle money), terlebih, uang memiliki nilai produktif bila diputar.

Yusuf juga mengungkapkan, dengan filosofi tersebut, masyarakat harus menunjuk pihak di luar untuk mengelola uangnya. Tugasnya selain untuk mengingatkan masyarakat untuk membayar iuran rutin, juga sebagai administrator. Selain itu, bila ada masyarakat yang terkena musibah, dia yang menjadi juru bayar menggunakan dana yang telah dikumpulkan periodik sebelumnya

”Itulah asuransi syariah yang hanya membantu masyarakat. Dalam asuransi syariah, seratus persen dana dari nasabah tetap akan diakui sebagai milik nasabah. Misalnya, 70 persen merupakan dana nasabah yang digunakan untuk klaim, sedangkan 30 persennya sebagai kompensasi berupa fee untuk pengelolah dana (asuransi),” jelas dia.

Berbeda dengan asuransi konvensional yang mengakui seratus persen dana nasabah adalah milik perusahaan asuransi. Secara tidak langsung, perusahaan asuransi konvensional menggunakan akad jual beli risiko, bukan sebagai sarana penyimpanan untuk tolong menolong atau tabarru sebagaimana prinsip syariah. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo