Senin, 23 September 2019
24 Muḥarram 1441 H
Home / Sharia insight / Merawat Motivasi Keagamaan dalam Berekonomi
Ada satu hal yang perlu mendapat perhatian, bahwa motivasi terbesar yang bisa menggerakkan semua potensi kekuatan bangsa adalah motivasi keagamaan dan kecintaan pada tanah air.

Irfan Syauqi Beik | Pengamat Ekonomi Syariah FEM IPB

Motivasi dalam bahasa yang sederhana adalah dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang mau melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu.

Ketika seseorang memiliki tujuan yang hendak dicapai, maka menjaga motivasi merupakan hal yang sangat esensial dan menentukan apakah tujuan tersebut dapat diraih atau tidak.

Motivasi yang kuat akan menambah bobot kualitas perbuatan, sementara motivasi yang lemah hanya akan membuka jalan kegagalan. Karena itu, menjaga motivasi untuk konsisten dalam mencapai suatu tujuan mutlak dilakukan.

Dalam konteks kehidupan bernegara, menjaga motivasi semua komponen bangsa untuk mencapai tujuan bernegara menjadi hal yang sangat fundamental.

Namun ada satu hal yang perlu mendapat perhatian, bahwa motivasi terbesar yang bisa menggerakkan semua potensi kekuatan bangsa adalah motivasi keagamaan dan kecintaan pada tanah air. Sejarah bangsa ini telah membuktikannya.

Sebagai contoh, siapa yang menyangka bahwa dalam pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945, bangsa Indonesia dengan gagahnya mampu menghadapi serangan pasukan sekutu yang memiliki persenjataan yang sangat lengkap, baik persenjataan darat, laut maupun udara.

Apa yang membakar semangat rakyat yang bersenjatakan ala kadarnya saat itu? Fakta menunjukkan bahwa ternyata kalimat tauhid yang berbalut rasa cinta tanah airlah yang membuat sesuatu yang tidak masuk akal menjadi kenyataan.

Pekik “Allahu Akbar” adalah senjata terbesar yang membuat daya juang rakyat mampu menembus batas rasionalitas yang ada sehingga bisa memberikan perlawanan yang sengit dan heroik.

Belajar dari pengalaman dan sejarah di masa lalu, motivasi keagamaan memegang peranan penting dalam episode perjalanan bangsa Indonesia. Karena itu, pemerintah memiliki kewajiban untuk merawat motivasi keagamaan ini dan mengarahkannya dalam rangka menciptakan kesejahteraan bangsa yang hakiki.

Optimalisasi potensi kekuatan bangsa di semua bidang termasuk ekonomi, dapat dilakukan manakala negara ini bisa membangkitkan motivasi keagamaan rakyatnya.

Apalagi saat ini kita berhadapan dengan situasi ekonomi yang semakin berat dan tidak menentu. Diperlukan daya tahan dan daya juang yang kuat dari seluruh komponen bangsa.

Di saat yang seperti inilah negara harus hadir dalam membangkitkan motivasi keagamaan masyarakatnya. Ulama sebagai representasi pewaris dakwah Nabi, perlu dilibatkan secara penuh untuk memperkuat motivasi keagamaan masyarakat.

Karena itu, segala bentuk pelemahan terhadap ulama harus dihentikan. Mereka justru harus dijadikan sebagai partner pembangunan yang strategis untuk kemajuan bangsa.

Pentingnya Motivasi Keagamaan

Pertanyaannya, apa yang diharapkan dari motivasi keagamaan ini khususnya dalam konteks pembangunan ekonomi?

Penulis melihat paling tidak ada 3 alasan utama mengapa memperkuat motivasi keagamaan ini menjadi sangat penting dalam memperkuat pondasi perekonomian nasional.

Pertama, motivasi keagamaan yang kuat akan melahirkan semangat pengorbanan yang paling tinggi dari dalam diri seseorang. Berkorban untuk kepentingan dan kemajuan bangsa, sebagaimana yang telah ditunjukkan para pahlawan dan pendiri negeri ini.

Pengorbanan ini direfleksikan dalam bentuk kepedulian dan semangat berbagi, dengan zakat dan wakaf sebagai instrumen utamanya. Inilah jihad ekonomi yang sesungguhnya.

Ketika telah muncul semangat jihad melalui komitmen berzakat dan berwakaf, maka ada banyak persoalan ekonomi yang dapat diurai oleh bangsa ini. Semangat berwakaf yang kuat misalnya, akan memberi dampak positif bagi pembangunan ekonomi masyarakat.

Saat 45 juta kelas menengah muslim termotivasi untuk berwakaf uang Rp500 ribu saja setiap bulannya, maka kita bisa menghimpun tidak kurang dari Rp270 trilyun setiap tahun, yang bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, ekonomi, dan lain-lain.

Kalau semangat para sahabat Nabi untuk menyedekahkan dan mewakafkan hartanya bisa ditiru dan diinternalisasikan dengan baik di tengah masyarakat, apakah sepertiga, separuh maupun seluruh hartanya, maka angka penghimpunan wakaf uang dan wakaf aset tetap (fixed asset) akan naik beberapa kali lipat.

Bukan mustahil akan menyamai atau bahkan melebihi pendapatan pajak negara. Semua itu sangat mungkin diraih manakala semua penduduk muslim di semua level, tersentuh kesadaran agamanya. Apalagi Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa shadaqah jariyah atau wakaf, termasuk satu dari tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus meski seseorang telah meninggal dunia.

Bayangkan, untuk membangun jalan diperlukan biaya pembebasan lahan yang tidak sedikit. Namun, apabila pemilik lahan berkenan untuk mewakafkan separuh saja lahannya, maka biaya pembebasan lahan akan turun setengahnya.

Jika seluruhnya, maka biaya pembebasan lahan akan menjadi nihil. Bisa dibayangkan berapa penghematan anggaran negara yang bisa dilakukan. Ini hanya akan terjadi ketika motivasi keagamaan publik dirawat dan dijaga dengan baik.

Apalagi masyarakat kita memiliki modal semangat berbagi yang tinggi, sehingga menjadi nomor satu bangsa yang paling dermawan dalam survey World Giving Index 2018 lalu. Negara akan banyak terbantu dengan semangat berzakat dan berwakaf masyarakat.

Kedua, motivasi keagamaan akan meningkatkan produktivitas dan daya saing. Orang yang memiliki motivasi keagamaan yang kuat, akan terdorong untuk menjadi manusia yang produktif. Hal ini dikarenakan ajaran Islam sangat mengecam mereka yang bermalas-malasan sehingga menjadi manusia yang tidak produktif.

Kesadaran relijiusitas yang tinggi akan menghantarkan seseorang pada puncak optimalisasi seluruh potensi kebaikan yang ada dalam dirinya. Ini adalah modal dasar dalam meningkatkan daya saing bangsa di tengah iklim kompetisi internasional yang semakin ketat.

Ketiga, motivasi keagamaan akan memperkuat ketahanan dan kedaulatan bangsa di berbagai bidang termasuk ekonomi. Orang yang memiliki motivasi keagamaan yang tinggi, tidak akan rela jika harkat martabat bangsanya diinjak-injak oleh bangsa lain.

Karena itu, target-target pembangunan seperti menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan, hanya akan bisa diraih manakala motivasi keagamaan masyarakat berada pada level yang sangat baik.

Kebijakan Negara

Dari tiga alasan di atas, maka ada empat hal yang harus dilakukan negara.

Pertama, menggencarkan kampanye dan edukasi untuk merawat motivasi keagamaan masyarakat secara efektif.

Kedua, memberikan insentif kepada mereka yang mau merealisasikan motivasi keagamaannya dalam bentuk semangat berbagi, baik berupa insentif pajak maupun insentif lainnya.

Insentif pajak seperti menjadikan zakat dan wakaf sebagai pengurang pajak langsung (tax credit), sementara insentif lainnya dapat diberikan dengan cara-cara kreatif seperti memberikan parkir khusus muzakki dan wakif di pusat perbelanjaan maupun lokasi parkir umum, menyediakan papan informasi nama-nama wakif yang telah mewakafkan lahannya untuk dibangun jalan tol dimana papan informasi tersebut diletakkan di pinggir jalan yang lokasinya strategis, dan lain-lain.

Ketiga, memperkuat kelembagaan dan kebijakan ekonomi syariah yang ada, agar semangat dan motivasi keagamaan bisa diimplementasikan secara nyata di lapangan.

Kelembagaan ini mencakup kelembagaan bisnis di sektor riil syariah, sektor keuangan syariah, maupun kelembagaan amil dan nazir di sektor ZISWAF.

Keempat, menghilangkan berbagai kebijakan yang memberikan disinsentif dan melemahkan motivasi keagamaan publik, seperti ketidakadilan dalam penegakan hukum.

Wallaahu a’lam.