Sabtu, 6 Maret 2021
23 Rajab 1442 H
Home / Keuangan / Menkeu: Keuangan Islam Bagian Penting Pembangunan Nasional
FOTO | Dok. kemenkeu.go.id
Indonesia tidak hanya fokus pada pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tetapi juga pada keuangan Islam yang bersifat sosial.

Sharianews.com, Nusa Dua-Bali. Di Indonesia, instrument keuangan Islam sudah menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Surat berharga syariah negara ritail atau sukuk misalnya, saat ini sudah menjadi instrument terpenting pemerintah. Salah satunya untuk pengembangan industri keuangan syariah.

Demikian dikatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menkeu) saat memaparkan pengalaman Indonesia dalam mengoptimalkan peran instrumen keuangan Islam, ketika menyampaikan keynote speech pada seminar Mainstreaming Islamic Finance into Global Initiatives, pada ajang Pertemuan Tahunan IMF-WBG di BICC, Minggu (14/10).

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, dalam konteks global dimana kondisi ekonomi dunia yang masih belum menentu, peran keuangan Islam menjadi semakin dibutuhkan. 

“Untuk menjawab tantangan global, industri keuangan Islam menawarkan peluang besar dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan. Hal ini tentu relevan dengan program yang tiga tahun lalu dicanangkan Bank Dunia, yakni Sustainable Development Goals atau SDGs,”lanjut Menkeu, dalam siaran persnya, Minggu (14/10/2018)

Fokus pengembangan keuangan Islam

Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga memaparkan strategi Indonesia dalam mengembangkan ekonomi Islam. Indonesia, ujarnya juga tidak hanya fokus pada pengembangan industri keuangan Islam yang bersifat komersial, tetapi juga pada keuangan Islam yang bersifat sosial.

“Ini adalah instrumen efektif untuk mengurangi kemiskian dan mengatasi ketidaksetaraan, dengan cara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, memberdayakan masyarakat berpendapatan rendah, dan tentu membuka akses pada dunia bisnis,” kata Menkeu, yang baru saja mendapatkan gelar “Finance Minister of The Year” dari majalah terkemuka Global Markets.

Karena itu, Indonesia melalui Bank Indonesia yang bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB) tengah mengembangkan Zakat Core Principles dan Waqf Core Principles. “Integrasi antara sukuk dan wakaf adalah inovasi yang menarik dalam keuangan Islam” ujar Menkeu.

Menurutnya, sukuk berpotensi sebagai instrumen untuk memobilisasi dana, sementara wakaf memiliki kapasitas untuk mendapatkan income dan aktivitas keuangan yang produktif. “Karena itu, kolaborasi antara sukuk dan wakaf dapat menjadi inovasi dalam menyediakan pembiayaan berbiaya rendah untuk menjalankan keberlanjutan ekonomi,”kata Menkeu..

Optimalisasi Islamic social finance

Sementara, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa perlu upaya untuk mengoptimalkan keuangan social Islam (Islamic social finance) untuk mencapai pertumbuhan yang inklusif.

Prinsip keuangan Islam sangat cocok dalam aktivitas SDGs dan inklusi keuangan, serta pengembangan usaha kecil dan menengah.

“Kami di BI bersama IDB, Baznas, telah membuat zakat core initiative pada bulan Mei 2016. Ini perlu regulasi yang terintegrasi. Inisiatifnya dikenalkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” ujar Gubernur BI.

Dalam High Level Discussion ini, tampil pula Wakil Presiden IDB, Mohammed Nouri Jouini  yang menekankan pentingnya upaya pengembangan keuangan Islam secara global. (*)

 

Ahmad Kholil