Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H
FOTO | Dok. stockholmcf.org
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS.Qaf:18)

Perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi begitu luar biasa dalam satu dekade terakhir. Gadget dan media sosial telah menjadi hal yang sangat penting untuk sebagian besar orang.

Bermain media sosial ibarat menghunus sebuah pedang. Jika salah mengayunkannya, maka kita sendiri yang akan tertebas.Memang, keberadaan media sosial memudahkan siapa saja untuk berkomunikasi dan mengakses informasi, tetapi banyak juga dampak negatifnya jika kita tidak berhati-hati.

Maraknya media sosial saat ini, ternyata telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW 15 (lima belas) abad yang lalu dalam hadīts riwayat Imam Ahmad. Nabi menjelaskan fenomena yang menunjukkan kiamat semakin dekat, beliau menyatakan:
 
إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ تَسْلِيمَ الْخَاصَّةِ وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ وَشَهَادَةَ الزُّورِ وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْحَقِّ وَظُهُورَ الْقَلَمِ
 
“Sesungguhnya pengkhususan salam hanya untuk orang-orang tertentu saja, maraknya perdagangan, (banyaknya) pemutusan tali silaturahmi, (banyaknya) persaksian palsu, (banyaknya) penyembunyian persaksian yang benar dan bermunculannya pena (tersebarnya karya tulis) akan terjadi menjelang terjadinya hari kiamat.” (HR Imam Ahmad)
 
Kalimat: ظهور القلم , secara bahasa kita terjemahkan  "tersebarnya pena" (tampilnya pena). Ulama menjelaskan bahwa media komunikasi dan tulisan tersebar dengan masif sebelum hari kiamat datang. Salah satunya media sosial yang sedang kita bahas dan sedang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pena-pena itu akan tampil, akan tersebar, artinya tulisan-tulisan, artikel-artikel, komentar-komentar itu cepat sekali tersebarnya di tengah-tengah dunia ini.
 
Bagaimana dengan kita?
 
Ada setidaknya empat adab yang harus diperhatikan saat bermain media sosial agar tak salah langkah: Pertama, pahami bahwa apapun yang kita lakukan di media sosial, akan dihisab oleh Allah.
 
Setiap kalimat, foto, video yang kita unggah, akan dipertanyakan kelak di akhirat. Terkait hal ini Rasulullah bersabda,  “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang (1) umurnya ke mana dihabiskannya, (2) tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, (3) tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan (4) ke mana dibelanjakannya, serta (5) tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR.Tirmidzi No.2417)
 
Termasuk didalamnya agar tidak memposting sesuatu dengan maksud riya’. Dalam kaitan ini, Ibnu Rajab pernah berkata, “Tidaklah seseorang yang ingin dilihat itu mencari perhatian makhluk. Akan tetapi mereka melakukannya akibat kejahilan (kebodohan) diri akan keagungan Sang Khalik.”
 
Kedua, pastikan saat bermedia sosial, bermanfaat dan menjadi Amal Sholeh. Timbang-timbang manfaat dan mudharat bermedia sosial. Jika memang bermanfaat bagi kehidupan kita dan sebagai penghantar kebaikan, maka boleh untuk menggunakannya. Namun jika membawa lebih banyak mudharat, maka sebagai seorang muslim yang baik tentulah menghentikannya.
 
Hal ini, sejalan dengan apa yang Nabi SAW sampaikan dari Abu Hurairah, radhiyallahu anhu, dia berkata: “Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” [Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi].
 
Ketigaa, penyebaran berita di media sosial, sumbernya sahih. Terkait dengan hal ini Allah SWT berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” ( QS Al Hujurat: 6).
 
Rasulullah SAW bersabda, dari Hafsah, radhiyallahu anha : “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar.“ (HR.Muslim)
 
Menggunakan media sosial berarti kita bertanggung jawab atas semua yang diposting ke publik, termasuk saat follow, share, Iike, retweet, repost, comment, dan lain sebagainya. Seorang muslim yang  beradab akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu atau menanggapi sesuatu.
 
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda,
 
المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ
 
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari No.10 dan Muslim No.40).
 
Keempat, tunjukkan bahwa muslim berakhlak dengan ilmu. Imam Darul Hijrah, Imam Malik, rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
 
ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horizontal, antara dirinya sendiri dengan orang lain yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
 
Mari kita amati perlakuan sebagian dari kita terhadap orang yang beda pemahaman, yang terlihat adalah watak keras, tidak mau mengalah, sampai menganggap pendapat hanya boleh satu saja, yaitu pendapatnya. Ujung-ujungnya menyesatkan dan mengatakan sesat seseorang.
 
Padahal para ulama sudah mengingatkan untuk tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak. Bahkan, menasehati maupun menyampaikan kebenaran ada adab-adabnya. 
 
Namun barangkali kita lupa?
 
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Iran :159). 
 
Di antara yang harus kita perhatikan dalam pembicaraan, ialah menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata:
 
من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه
 
“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat.” Terkait dengan hal ini, Ibnu Rajab berkata,“Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam 1: 291).
 
أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق "Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia. Wallau'alam.
 
 
Oleh: Vivi Ermawati