Sabtu, 28 November 2020
13 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Opini / Menilik Peluang Industri Halal dalam Masa Pandemi Covid-19
Selain menghadapkan perekonomian pada risiko resesi, pandemi Covid-19 juga memunculkan peluang-peluang yang sangat mungkin diambil oleh industri halal, terutama dalam menyongsong kondisi ‘new normal’ jika pandemi berakhir.

Sharianews.com, Pembahasan tentang Covid-19 hingga kini masih menjadi isu sentral dalam tataran praktisi hingga akademisi. Pandemi yang memberikan efek signifkan kepada berbagai sektor dalam kehidupan juga belum dapat tertangani dengan baik, hal ini dibuktikan pada kurva penyebaran virus yang masih tinggi dan cenderung meningkat. Jika kurva ini tidak segera menurun dalam waktu dekat maka tentu akan sangat berdampak pada aspek dalam kehidupan kita, diantaranya yang paling terasa adalah sektor kehidupan sosial, kesehatan dan sektor ekonomi. Sebagai bagian dari sektor ekonomi, industri dan bisnis dalam berbagai skala baik industri besar, menengah, kecil, dan rumahan turut menghadapi tantangan juga peluang sekaligus.

Pandemi ini erat kaitannya dengan konsep halalan thayyiban. Pusat dari virus Covid-19 sebagaimana diketahui berasal dari kota Wuhan di Cina, yang mana setelah ditelusuri lebih lanjut merupakan pasar dengan tidak terjaganya sanitasi lingkungan, termasuk tidak terpenuhinya aspek halal dan thayyibnya produk yang diperjualbelikan di dalam pasar tersebut.

Fakta ini membuat banyak orang mengambil hikmah dari adanya pandemi untuk semakin memperhatikan kehalalan dan kebersihan produk yang mereka konsumsi. Sehingga, diharapkan kesadaran masyarakat ini menjadi angin segar bagi industri halal. Ada kurang lebih tujuh sektor industri halal, di masa pandemi ini sektor apa sajakah yang dihadapkan pada tantangan? Dan sektor apa sajakah yang ternyata justru memiliki peluang?

Tantangan dan Peluang Industri Halal di Masa Pandemi

Dari ketujuh sektor lainnya, sektor pariwisata dan perhotelan merupakan sektor industri halal yang terdampak paling serius dengan adanya pandemi COVID-19.

Sudah bukan rahasia lagi jika pandemi ini menyebabkan sepinya kunjungan wisata dan kosongnya banyak kamar hotel. Tingkat okupansi yang menurun drastis bahkan menyebabkan sekitar 1.600 hotel terpaksa ditutup dan lebih dari 150.000 orang karyawan dirumahkan per pertengahan April 2020. Recovery untuk sektor ini juga diperkirakan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding sektor lain. Padahal sektor ini menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit.

Selain menghadapkan perekonomian pada risiko resesi, pandemi ini juga memunculkan peluang-peluang yang sangat mungkin diambil oleh industri halal, terutama dalam menyongsong kondisi ‘new normal’ jika pandemi berakhir. Berikut adalah beberapa sektor industri halal yang justru memiliki peluang bagus.

Pertama, sektor makanan dan minuman halal. Sektor ini merupakan salah satu yang dinilai mampu bertahan menghadapi krisis. Kondisi masyarakat yang menerapkan berdiam diri di rumah atau stay at home mendorong mereka untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi selama masa pandemi, termasuk usaha untuk menyediakan stok pasokan makanan dan minuman. Menariknya, masyarakat juga memperhatikan aspek kebersihan serta kehalalan produk makanan dan minuman yang mereka beli. Ini merupakan kebiasaan baik yang bisa memicu peningkatan kesadaran konsumsi halal. Sehingga, diharapkan para pelaku usaha sektor makanan dan minuman mampu menangkap peluang ini. Bisnis di sektor makanan dan minuman halal membutuhkan modal yang relatif lebih kecil dibanding sektor lain, tenaga kerja yang tidak terlalu banyak, namun permintaannya stabil, ditambah cashflow yang baik. Baik saat pandemi maupun setelah pandemi, sektor makanan dan minuman akan berada pada posisi permintaan dan penawaran yang stabil. Meski ada semacam adaptasi dari konsumen dan produsen di awal masa pandemi.

Kedua, sektor farmasi dan obat-obatan halal. Sektor ini merupakan sektor yang mengalami peningkatan permintaan secara tajam dengan adanya perilaku panic buying dari masyarakat. Di masa pandemi, tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan semakin tinggi. Demikian juga halnya dengan minat mereka untuk mengonsumsi vitamin dan rempah herbal guna meningkatkan daya tahan tubuh. Ada kemungkinan gaya hidup saat ini bisa berlangsung menjadi sebuah kebiasaan di masa ‘new normal’ nantinya. Masyarakat tetap membutuhkan jasa layanan kesehatan dan produk farmasi baik masa normal maupun krisis. Inilah peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para produsen farmasi dan obat-obatan halal.

Ketiga, sektor kosmetik. Berkaca pada pengalaman Cina dalam menghadapi wabah SARS di awal tahun 2000-an, industri kosmetik merupakan industri yang tidak terlalu terpengaruh dengan adanya wabah. Demikian pula saat ini, mungkin ada risiko yang dihadapi oleh pelaku industri kosmetik, tetapi risiko tersebut masih bisa diatasi dengan strategi yang tepat. Salah satu strategi ialah dengan mengembangkan produk kesehatan atau kebersihan seperti hand sanitizer. Menariknya, merujuk pada pengalaman SARS di Cina, sektor ini kemungkinan besar akan segera stabil dan membaik jika wabah atau pandemi berakhir.

Keempat, sektor media dan hiburan. Sektor ini sebetulnya mengalami semacam kejutan atau shock di awal pandemi. Berbagai acara yang mengharuskan adanya tatap muka maupun perkumpulan dibatalkan, dan pihak media pun harus melakukan adaptasi. Namun faktanya, hal ini bisa diatasi dengan adanya kesadaran masyarakat akan penggunaan media daring. Berbagai acara masih bisa diakses oleh masyarakat walau pihak produksi media dan hiburan meminimalkan tatap muka dalam proses produksi. Selain itu, penggunaan aplikasi virtual yang menunjang pelaksanaan kerja dari rumah (work from home) juga meningkat. Menjadi suatu peluang jika pembuatan aplikasi penunjang produktivitas kerja atau video conference semacam ini menjadi perhatian pelaku industri halal. Pada akhirnya, bisnis digital media dan hiburan justru menjadi solusi bagi sebagian masyarakat yang bisa mendorong mereka untuk keluar dari masa krisis.

Kelima, sektor modest fashion atau busana tertutup/syar’i. Sektor ini tergolong ke dalam sektor yang terdampak pandemi dengan menurunnya tingkat permintaan dari konsumen, karena mereka mengalihkan alokasi pendapatannya kepada kebutuhan primer lain seperti pangan. Tetapi, dilansir dari bbc.com, fashion dunia justru berinovasi di tengah wabah Covid-19. Para desainer tetap kreatif memadupadankan busana dengan perlindungan diri. Penggunaan masker dan APD menjadi indikasi bahwa pakaian yang tertutup bisa meminimalisir kemungkinan kita mengalami kontak langsung dengan virus. Sehingga, kebiasaan untuk berbusana tertutup dengan fungsi untuk menjaga diri ini masih mungkin akan berlanjut hingga masa setelah pandemi, dan menjadi peluang bagi industri busana/pakaian syar’i.

Keenam, sektor keuangan Islam. Dilansir dari laman kemenkeu.go.id, beberapa cara yang bisa dilakukan oleh lembaga keuangan Islam guna menghadapi pandemi ini yaitu bantuan modal usaha unggulan bagi UMKM yang berjuang agar tetap eksis. Pemberian modal ini dapat dilakukan dengan beberapa alternatif kebijakan seperti pemberian stimulasi tambahan relaksasi perbankan syariah dan restrukturisasi atau penangguhan pembayaran pembiayaan. Dengan catatan, pemberian permodalan dari perbankan/lembaga keuangan Islam tetap perlu dikuatkan dengan pendampingan supaya semakin dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai sebuah penutup, tentu pandemi ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran serta pengalaman bagi pemerintah dan khususnya industri  halal yang terimbas dari efek pandemi ini, untuk dapat lebih siap dan strategis dalam menangani masalah-masalah yang kemungkinan akan terjadi. Dilain sisi, kita sebagai pribadi dapat menjadikan ini sebagai sarana intropeksi, mengevaluasi diri untuk menjadi lebih baik lagi dan tentu ini adalah moment untuk kita saling menguatkan nilai-nilai solidaritas kemanusiaan, bahu membahu dalam menghadang laju penyebaran Covid-19  dengan cara-cara yang sudah ditentukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk antisipasi dan penyelesaian pandemi.

 

Oleh: Fitri Eka Aliyanti