Jumat, 13 Desember 2019
16 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Forum Milenial / Mengenal Proses Kontrol Audit di Era Revolusi Industri 4.0
FOTO I Dok. sharianews
Revolusi industri 4.0 menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, sebagai sebuah gambaran kemajuan ekonomi di suatu negara.

Sharianews.com, Kemajuan teknologi di era modern saat ini memberikan banyak pengaruh terhadap segala dimensi kehidupan manusia. Dngan kecanggihan teknologi, manusia semakin dimudahkan dalam melakukan pekerjaan. Kemajuan ini tidak hanya berpengaruh pada efektivitas dan efisiensi waktu dalam pelaksanaan sebuah pekerjaan, tetapi juga terhadap perilaku orang-orang yang merasakan kemajuan teknologi tersebut dalam dunia kerja.

Revolusi industri 4.0 menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, sebagai sebuah gambaran kemajuan ekonomi di suatu negara. Adanya revolusi industri 4.0 ini menjadi disrupsif teknologi yang terjadi pada dunia kerja sebagai sebuah tantangan. Namun, di sisi lain disrupsif teknologi ini memiliki peluang dan manfaat yang besar bagi publik dan kepentingan bisnis. Salah satu profesi yang harus mampu menjawab tantangan dan peluang ini adalah profesi auditor keuangan.

Profesi auditor dalam melakukan tugasnya tentu selalu berkaitan dengan adanya kertas kerja audit (workpaper). Seiring berjalannya waktu di beberapa negara, kantor-kantor akuntan publik yang termasuk dalam “Big 4 Audit Firms” sudah mulai menerapkan kertas kerja elektronik. Kertas kerja elektronik ini adalah alat teknologi informasi yang merupakan komponen penting dalam proses manajemen risiko sebuah perusahaan audit. Hal ini secara simbolis tentu menggambarkan kecanggihan teknologi yang sudah digunakan oleh perusahaan dalam melakukan proses audit.

Namun, dalam menerapkan sistem pendukung pemeriksaan ini sebagai kontrol proses audit, manajemen perlu menyeimbangkan keinginan auditor. Khususnya dalam hal independensi dan profesionalitas saat mereka melakukan tugas-tugas audit mereka. Meskipun para auditor bekerja dalam tekanan regulator, tetapi mereka masih mampu menunjukan kualitasnya. Tentu kualitas audit yang sesuai dengan metodologi perusahaan, kebijakan dan standar auditing yang berlaku.

Dalam penerapan sistem pendukung ini akan menciptakan adanya risiko operasional karena auditor akan merespon ini dengan positif atau negatif pada suatu sistem. Auditor akan merespon sistem negatif jika perusahaan audit memaksa mereka dan patuh pada kebijakan perusahaan. Mereka bisa saja melepas diri dari tanggung jawab tugas-tugas audit atau menolak sistem dan bekerja disekitarnya. Hal ini akan mengurangi efektivitas dan efisiensi dari sistem tersebut sebagai kontrol proses audit. Sebaliknya, auditor bisa merespon sistem tersebut secara positif, jika mereka menganggap pekerjaan terbagi secara terstruktur dan bertanggung jawab.

Ketika sistem pendukung audit digunakan dalam kontrol proses audit, perusahaan audit akan dihadapkan dengan tantangan untuk merancang sistem yang pas dan sesuai. Sistem tersebut harus dirancang untuk memastikan kepatuhan auditor melalui fitur yang mengotonomi auditor dan juga harus mampu mengurangi ketergantungan auditor pada sistem tersebut. Hal ini perlu untuk menjadi perhatian bagi perusahaan audit terhadap reaksi auditor dengan adanya sistem pendukung audit. Reaksi auditor inilah yang nantinya akan berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi sistem dalam melakukan control proses.

Oleh karena itu, adanya revolusi industri 4.0 harus mampu menjadikan perusahaan audit mendorong profesi auditor untuk memiliki penguasaan soft skill baik inter-personals skill ataupun intra-personals skill, kompetensi, networking dan sertifikasi. Disrupsif teknologi di era revolusi industri 4.0 beberapa tahun ke depan akan menjadikan pekerjaan akuntan dan auditor semakin otomatis. Selain itu, hal ini dipersiapkan untuk menghadapi persaingan global dengan meingkatkan kualitas dan mutu auditor sebagai salah satu profesi akuntan publik. (*)

Oleh: Nailah Editor: Achi Hartoyo