Sabtu, 21 September 2019
22 Muḥarram 1441 H
Home / Sharia insight / Meneladani Rasulullah dalam Mengentaskan Kemiskinan
FOTO | Dok. Pribadi
Islam mengajarkan bahwa penanganan masalah kemiskinan bukanlah sebagai tugas individu dan negara saja, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif.

Oleh: Ade Holis | Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, IPB

 

Rabiul Awal seringkali diperingati sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan dijadikan sebagai sarana ekspresi kecintaan kepada sang Uswatun Hasanah. Bagi sebagian kalangan umat Islam, bulan ini merupakan bulan yang dinanti-nantikan karena mereka memiliki suatu tradisi untuk memperingatinya yang sering dinamakan dengan Maulid Nabi SAW. 

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi ditetapkan setiap 12 Rabiul Awal dan dijadikan sebagai hari libur nasional. Peringatan Maulid Nabi tidak hanya dilakukan pada tanggal 12 saja, tetapi biasa juga dilakukan sejak awal hingga akhir bulan tersebut.

Bahkan di beberapa daerah, kemeriahan Maulid Nabi bisa dirasakan sampai berbulan-bulan. Pelaksanaan Maulid Nabi biasanya dirayakan dengan pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji, pengajiandan kegiatan lainnya.

Disisi lain, tidak sedikit juga orang yang mempermasalahkan peringatan Maulid Nabi ini. Tuduhan “bid’ah” seringkali dijadikan senjata ampuh bagi kaum yang kontra terhadap tradisi memperingati Maulid Nabi ini.

Namun demikian, tulisan ini tidak akan lebih jauh membahas mengenai Pro-Kontra terkait peringatan Maulid Nabi. Setiap kubu memiliki perbedaan sudut pandang tentang esensi dari Maulid Nabi. Masing-masing memiliki argumen dan hujjah tersendiri.

Terlepas dari semua perbedaan yang ada, semua umat Islam sepakat bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam. Nabi Muhammad SAW merupakan figur yang lengkap. Bukan hanya sebagai seorang Nabi dan Rasul, beliau juga seorang panglima perang, pejuang, dan negarawan sejati.

Dalam setiap jejak kehidupannya terdapat suri teladan bagi kita sebagai umatnya untuk bisa meneladani beliau. Sejatinya, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dapat dijadikan momentum untuk mengingat kembali kisah-kisah Rasulullah, tidak sebatas pada seremonial belaka, tetapi mengandung makna filosofis-substantif.

Kita sering terperangkap dalam pola prinsip yang keliru ketika memaknai hakikat uswatun hasanah yang ada pada diri Rasulullah. Tidak sedikit di antara kita mengkerdilkan makna sifat uswah (keteladanan) Nabi hanya terbatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh Nabi saja.

Jika membaca kembali sirah nabawiyah secara lebih mendalam, apa yang dicontohkan oleh Nabi sudah mencakup seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Nabi telah mencontohkan dan memberikan solusi terhadap seluruh problematika kehidupan, baik dalam masalah ’akidah, ibadah, moral, akhlak, muamalah, rumah tangga, bertetangga, politik, kepemimpinan, bahkan untuk masalah pengetasan kemiskinan dan hal-hal lainnya.

Kemiskinan menjadi isu global

Seperti kita ketahui bahwa kemiskinan merupakan issue global dan merupakan suatu tantangan yang dihadapi oleh semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Isu kemiskinan mendapatkan perhatian yang sangat besar dalam setiap konferensi-konferensi ekonomi tingkat dunia, bahkan program pengentasan kemiskinan (no poverty/tanpa kemiskinan) menjadi poin pertama prioritas Sustainable Development Goals (SDGs). Oleh karena itu, upaya penanganan kemiskinan harus pula dipahami sebagai persoalan universal dan harus dilakukan secara menyeluruh.

Islam mengajarkan bahwa penanganan masalah kemiskinan bukanlah sebagai tugas individu dan negara saja, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif. Islam sangat menekankan sisi persaudaraan sesama Muslim dalam memperkuat keutuhan masyarakatnya, terutama dalam bidang ekonomi. Ikatan akidah islamiyah mengikat seluruh umatnya dalam tali persaudaraan, gotong royong dan saling membantudalam kebaikan dan taqwa, seperti persaudaraan yang diikat antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar.

Ketika kaum Muhajirin berhijrah dari Mekah ke Madinah, mereka menghadapi problematika sosial dan ekonomi, berkaitan dengan kelangsungan hidup, mata pencaharian dan tempat tinggal. Kaum Muhajirin tidak memiliki modal, sebab seluruh harta mereka sudah ditinggalkan. Mereka juga tidak memiliki lahan pertanian di Madinah.

Bahkan mereka juga tidak berpengalaman di bidang pertanian. Maka, ketika kaum Anshar menawarkan agar Nabi membagi kebun kurma mereka untuk kaum Muhajirin, beliau menolaknya. Akhirnya kaum Anshar tetap memiliki kebun mereka, namun hasilnya dinikmati bersama.

Kaum Anshar pun rela menghibahkan rumah-rumah mereka kepada Nabi SAW, namun beliau menolaknya. Rasulullah SAW membangun rumah-rumah untuk kaum Muhajirin di areal tanah yang dihibahkan oleh kaum Anshar dan di areal tanah yang tak bertuan.

Selain kisah antara Kaum Muhajirin dan Anshar yang berkolaborasi untuk menangani permasalahan sosial yang dihadapi, terdapat suatu kisah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, yang memperlihatkan bagaimana Islam menunjukkan cara yang visioner dalam menyikapi kemiskinan.

Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkannya kembali,”Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah menyuruh pengemis itu untuk membelikan makanan dengan uang tersebut untuk keluarganya, dan selebihnya, Rasulullah menyuruhnya untuk membeli kapak. Rasullulah bersabda, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya, Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu, pengemis itu datang lagi menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.” (H.R. Abu Daud).

Tiga masalah dasar 

Berdasarkan kisah tersebut, setidaknya ada tiga permasalahan utama dalam hal penaggulangan kemiskinan yaitu pemenuhan hak dasar,modal (kapital) dan sumber daya manusia.

Saat memperoleh uang dari hasil penjualan harta milik pengemis, hal yang pertama kali dilakukan oleh Nabi SAW adalah menyuruh pengemis itu untuk membelikan makanan dengan uang tersebut untuk keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar menjadi pilar utama dalam hal pengentasan kemiskinan.

Hal penting yang kedua, dari kisah tersebut adalah masalah modal. Rasulullah SAW tidak langsung memberi uang atau pinjaman sebagai modal bagi si pengemis, tapi beliau menggali apa yang dimiliki oleh si pengemis untuk dimanfaatkan sebagai modal.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa segala sesuatu dimiliki seseorang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang produktif. Sejelek dan seburuk apapun sesuatu yang kita miliki, sebenarnya ia tetap bernilai, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.

Ketiga, penanggulangan kemiskinan dikaitkan dengan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pemilihan profesi tukang kayu bagi pengemis oleh Nabi SAW mengajarkan kepada kita bahwa setiap  usaha yang dilakukan harus mempertimbangkan kapasitas dari orang yang melakukannya. Kegiatan usaha yang tidak disokong oleh kemampuan yang mumpuni hanya akan menghasilkan suatu kegagalan.

Berdasarkan kisah-kisah tersebut diatas, setidaknya kita bisa mengambil beberapa kesimpulan diantaranya adalah untuk mengatasi permasalahan kemiskinan kita tidak bisa mengandalkan satu program yang diseragamkan untuk semua. Setiap orang miskin memiliki karateristik yang berbeda-beda.

Penangggulangan kemiskinan tidak bisa hanya sekedar bantuan sosial yang akan membuat si miskin bergantung. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki potensi luar biasa yang bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Untuk keluar dari kemiskinan, setiap manusia harus dididik, diarahkan, diberi akses, diberi sarana yang sesuai dengan kapasitasnya.

Demikian sebagian teladan Rasulullah SAW dalam mengatasi kemiskinan dan semoga kita bisa mengambil makna dari setiap teladan yang dicontohkannya. “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al-Ahzâb/33:21).”Wallahu A'lam. (*)

 

 

Oleh: Ade Holis