Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Forum Milenial / Mendayagunakan Masjid Sebagai Pengembangan Industri Umat (Songko Recca)
Dokumen pribadi.
Pengusaha songko recca sebagai nasabah yang akan mengajukan peminjaman dana usaha melalui Web P2P RECCA  yang di monitoring langsung oleh operator, sementara dana besumber dari dana masjid yang terdaftar dalam web P2P Recca.

Sharianews.com, Songko Recca  merupakan kerajinan tangan masyarakat bugis yang memiliki fungsi sebagai peci. Songko Recca  telah menjadi sebuah identitas yang tidak terpisihkan dari masyarakat bugis Bone. Pada masa pemerintahan Raja Bone Ke-32 Lamappayukki tahun 1931 Songko Recca menjadi kopiah resmi atau peci kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para ponggawa-ponggawa kerajaan bone masa itu.

Penamaan Songko Recca dilatarbelakangi dari bahan dan proses pembuatannya. Songko Recca terbuat dari serat pelepah daun lontar yang diolah dengan cara dipukul-pukul “recca-recca” sampai tersisa hanya serat, serat tersebut kemudian di rendam dalam lumpur sampai berubah warna menjadi hitam, kemudian dikeringkan dan dianyaman  pada pola yang telah dibuat  sesuai ukuran peci. Songko recca juga dikenal sebagai songko pamiring ulaweng karena  pinggiran songko berbahan emas atau berwana emas, pada masa kerajaan songko recca yang digunakan oleh raja dan kaum bangsawan Bone pinggirannya berbahan emas, semakin banyak pinggiran emas yang ada pada peci menggambarkan  status sosisal yang memakainya.

Saat ini Songko Recca telah mendunia, pemakaiannya bukan hanya dikalangan bangsawan Bone akan tetapi bisa digunakan oleh semua lapisan masyarakat lokal hingga manca Negara. Permintaan Songko Recca yang mengalami peningkatan, memberikan ruang tersendiri bagi masyarakat Bone yang memiliki keterampilan dalam pembuatan songko recca dan mampu memberikan masukan tambahan bagi masyarakat bahkan menjadi sumber penghasilan utama masyarakat  Bone.

Desa Paccing sebagai sentra penghasil Songko Recca mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup dari industri Songko Recca. Proses pembuatan Songko Recca masih tradisional akan meskipun demikian tetap menjadi sumber pendapatan utama masyarakat sekitar. Beberapa hal yang menghambat produksi Songko Recca yakni kurangnya pelatihan  formal terkait  pembuatan songko recca sehingga generasi muda kesulitan dalam melakukan pengembangan usaha, dan keterbatasan modal juga menjadi faktor utama dalam pengembangan industri songko recca.

Songko Recca memiliki multifungsi selain sebagai peci adat juga berfungsi sebagai peci solat, sebagai umat islam peci menjadi salah satu perlengkapan yang dipakai dalam sholat. Kabupaten Bone dengan mayoritas penduduk beragama islam menjadi daerah yang memiliki jumlah masjid yang banyak, sekitar 1.223 bangunan Masjid yang tersebar di 27 kacamatan dan dana umat  fantastis yang dapat digunakan sebagai amunisi padat karya.

Pengelolaan dana masjid pada sektor riill merupakan langkah tepat yang dapat digunakan sebagai modal dalam pengembangan indutri Songko Recca yang ada di Desa Paccing. Pengelolaan dana dengan menggunakan konsep investasi dan prinsip bagi hasil.

Bagi hasil merupakan  sistem dimana pembagian keuntungan dan resiko seimbang di kemas dalam sebuah platform yang di kenal dengan istilah  Peer to Peer,  dimana platform yang  tersedia akan menjadi wadah untuk mempertemukan investor dalam hal ini mesjid sebagai investor utama dan nasabah atau peminjam  yang terdiri dari pengusaha songko recca. Beberapa manfaat  dalam penggunaan sistem ini yakni  mempermudah pengusaha dalam mengontrol dana yang telah di investasikan, mempermudah masyarakat yang kekurangan dana untuk meminjam modal usaha.

Peer to peer (P2P) merupakan bentuk pelayanan finansial dengan platform yang mempertemukan investor dengan nasabah yang dilakukan secara online. Dengan skema kerja yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

 

Pengusaha songko recca sebagai nasabah yang akan mengajukan peminjaman dana usaha melalui Web P2P RECCA  yang di monitoring langsung oleh operator, sementara dana besumber dari dana masjid yang terdaftar dalam web P2P Recca. Syarat-syarat pengelolaan Platform, pengusaha songko recca, Operator P2P Recca berumur minimal 18 tahun maksimal 30 tahun, investor yang merupakan masjid dengan tahun berdiri minimal 5 tahun dengan dana yang diinvestasikan minimal 5 juta. Mekanisme pengelolaan dengan menggunakan sistem bagi hasil mudharabah, akad mudharabah merupakan sistem bagi hasil keuntungan dengan persentasi, nasabah 50 persen, Recca 20 persen dan investor (mesjid) 30 persen.

Dengan demikian pengelolaan dana pada sektor riil dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Paccing, memberikan ruang kepada generasi muda yang kesulitan dalam hal pemodalan terkhusus dalam Industri Songko Recca dan dana masjid tidak hanya mengendap dan digunakan untuk membangun dan mempermegah masjid.

 

Oleh : Herianto