Jumat, 27 November 2020
12 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Lifestyle / Menciptakan SDM Unggul Menjadi Tantangan Ekonomi Syariah
Foto dok. Ekrulila/Pexels
Disamping potensi dan bekal yang dimiliki, Indonesia juga dihadapkan oleh tantangan dalam mengembangkan SDM unggul.

Sharianews.com, Jakarta - Saat ini perkembangan aktifitas ekonomi syariah dan industri halal terus menunjukkan tren yang positif. Akselerasi, edukasi dan literasi syariah menjadi sangat penting dilakukan secara masif baik dimulai dari sektor pendidikan formal di tingkat dasar sampai pendidikan tinggi hingga sektor pendidikan nonformal memiliki peran yang sama.

Dalam Islamic Finansial Bank Indonesia 2019 dengan indikator penilaian knowledge pada 2018, Indonesia telah berhasil menduduki peringkat pertama sebagai negara penyedia institusi pendidikan yang terkait keuangan syariah.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Rahardjo mengatakan hal itu merupakan potensi dan bekal yang dimiliki Indonesia dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk ekonomi dan keuangan syariah. Namun, disamping potensi dan bekal yang dimiliki, Indonesia juga dihadapkan oleh tantangan dalam mengembangkan SDM unggul.

“Salah satu tantangannya adalah terkait kualitas pendidikan khususnya program studi pendidikan tinggi rumpun ekonomi syariah di Indonesia. Sebagian besar belum memiliki kualitas yang baik, hal tersebut ditandai akreditasi prodi (program studi) rumpun ekonomi syariah yang belum banyak memiliki nilai A,” jelasnya menegaskan, dalam webinar, Selasa (17/11).

Oleh karena itu proses perbaikan kurikulum dan program pembelajaran pada pendidikan tinggi tentu menjadi sangat diperlukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dalam rangka mewujudkan SDM unggul ekonomi dan keuangan syariah.

Perbaikan kurikulum tersebut berupa perubahan yang menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan masyarakat, kebutuhan pengguna lulusan, dan penggunaan link and match perguruan tinggi dan industri.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini telah mengeluarkan kebijakan baru yaitu kebijakan Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka. Di era industri revolusi 4.0 kampus dituntut untuk dapat adaptif dalam penggunaan teknologi informasi yang telah menjadi basis dalam kehidupan manusia.

Ventje menerangkan, kebijakan Kampus Merdeka dilakukan agar dapat menghasilkan insan Indonesia yang beradab, berilmu, profesional, inovatif, serta kompetitif di era 4.0 dan dapat berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan bangsa.

Dalam kebijakan Kampus Merdeka ini mahasiswa diberikan kebebasan mengambil Satuan Kredit Semester (SKS) diluar prodi selama tiga semester yang dapat diambil dari luar prodi dalam satu perguruan tinggi dan atau di luar perguruan tinggi. Ada delapan contoh bentuk dalam Permendikbud No. 3/2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi, salah satunya membangun desa kuliah kerja nyata tematik.

Program membangun desa ini diharapkan menjadi wadah mahasiswa sebagai agent of change untuk berkontribusi untuk memajukan negeri melalui sosialisasi dan edukasi ke masyarakat daerah, hal ini juga dapat dioptimalkan untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.

Rep. Aldiansyah Nurrahman