Selasa, 17 September 2019
18 Muḥarram 1441 H
Home / Ziswaf / Menata hidup baru di Kampung Al Quran usai bencana berlalu
Seorang anak perempuan membaca Al-Quran di depan rumah yang dibangun dari proyek 1.000 rumah Al-Quran di Melempo, Sambelia, Lombok Timur, NTB. Foto | Anadolu Agency.
178 Rumah Al Quran telah didirikan sebagai pengganti rumah warga Lombok yang hancur akibat gempa bumi pada Juli 2018 lalu

Sharianews.com, Lombok ~ Senyum merekah di wajah Surianto, 40, ketika menunjukkan Rumah Al Quran miliknya di Dusun Melempo, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Rumah berukuran 30 meter persegi itu baru berusia dua bulan ketika kami mengunjunginya Senin siang lalu.

Seperti ditulis oleh Anadolu Agency, meski sederhana, Surianto mengatakan rumah itu menjadi simbol kebangkitan warga Melempo usai gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 meratakan rumah lama mereka pada 29 Juli 2018.

Rumah Al Quran seperti milik Surianto dibangun sebagai bantuan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Daarul Quran untuk 78 keluarga di Dusun Melempo.

Menurut Surianto, aktivitas warga telah berangsur normal sejak mereka tidak lagi menetap di tenda darurat.

Surianto sendiri bekerja sebagai kuli bangunan atau mengumpulkan kayu bakar dari ladang, sedangkan istrinya berjualan minuman ringan di ruang tamu Rumah Al Quran milik mereka.

“Sudah dua bulan ini aktivitas normal lagi, tidak pusing memikirkan rumah yang hancur,” kata dia ketika ditemui di Lombok Timur, Senin.

Seluruh rumah di Dusun Melempo itu dibangun dengan konsep ‘recycle’.

General Manager Program PPPA Daarul Quran Jaihidin mengatakan Dusun Melempo dipilih karena 100 persen rumah warga hancur akibat gempa.

Selain itu, Dusun Melempo berada di area terpencil di antara perbukitan dan tepian pantai tanpa jaringan komunikasi.

“Ketika kami datang, belum ada satu pun lembaga yang masuk memberi bantuan,” kata Jaihidin.

Daarul Quran memfasilitasi pembangunan kembali rumah warga dengan menggunakan sebagian material baru dan sebagian lain material sisa runtuhan rumah lama.

Dia mengatakan sisa-sisa runtuhan bangunan seperti bata, kusen pintu, dan kusen jendela saat itu masih terkondisi cukup baik.

Bata yang masih bagus, kata dia, digunakan kembali untuk membangun dinding rumah warga setinggi 60 sentimeter.

Sebagian besar konstruksi bangunan rumah Alquran terbuat dari kayu dan anyaman bambu.

Warga pun tidak mengeluarkan biaya untuk membangun kembali rumah mereka.

“Bahan-bahan yang tidak tersedia seperti semen, atap, kami support,” ujar Jaihidin.

Menurut dia, konsep ini menyesuaikan psikologis warga yang merasa trauma dengan bangunan tembok.

“Warga itu semewah apa pun gedung kalau full tembok mereka enggak akan mau, sudah trauma,” kata Jaihidin.

Sepakat dengan Jaihidin, Surianto mengatakan rumah dari kayu dan bambu justru bisa membuat dirinya tidur lebih nyenyak karena merasa lebih aman jika sewaktu-waktu gempa kembali mengguncang.

Pasalnya, gempa yang melanda kawasan itu membuat rumah-rumah warga rata dengan tanah.

Tidak ada korban meninggal dunia di Dusun Melempo, namun tujuh orang luka-luka akibat tertimpa bangunan.

“Waktu gempa akhir Juli itu, di sini rata semua, tidak ada yang berdiri sehingga kami trauma dengan rumah tembok,” kata dia.

Selain di Lombok Timur, 100 Rumah Alquran juga telah berdiri di Dusun Lekong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Warga Dusun Lekong, Sahibin, 31, telah menempati rumah Alquran miliknya sepuluh hari belakangan, menggantikan rumah lamanya yang hancur saat gempa Juli 2018 lalu.

“Jadi sudah 10 hari belakangan tidak lagi menginap di posko (bencana),” ujar Sahibin.

Lahirkan Hafiz baru

Direktur PPPA Daarul Quran Tarmizi Ashidiq mengatakan program Kampung Alquran secara garis besar bertujuan memberi bantuan perumahan bagi warga di area pasca-bencana dan area terbelakang.

“Ada komitmen dari setiap penerima bantuan, maka mereka harus ikut belajar mengaji baik ibu, bapak, dan anaknya,” kata Tarmizi.

Pihaknya juga membangun rumah tahfiz dan menyiapkan pengajar bagi warga setempat untuk belajar dan menghafal Alquran agar lahir hafiz-hafiz baru.

Rutinitas belajar Alquran ini telah terlaksana di Dusun Melempo dan Dusun Lekong menyusul status mereka kini sebagai Kampung Alquran.

Surianto, salah satu warga Dusun Melempo mengatakan ada perkembangan cukup mengesankan sejak kedua anaknya mengikuti program tersebut sejak Agustus 2018 lalu.

“Dulu anak saya belajar mengaji tapi membaca dan menulis saja tidak lancar, sekarang sudah lancar dan mulai menghafal Alquran,” tutur Surianto.

Daarul Quran menargetkan akan membangun 1.000 Rumah Alquran di Nusa Tenggara Barat melalui donasi masyarakat kepada lembaga mereka.

Saat ini telah ada 178 Rumah Al Quran di Lombok Timur dan Lombok Utara.

Telah ada 11 Kampung Al Quran di seluruh Indonesia, di antaranya berlokasi di Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Halmahera, Lombok, dan Palu.

 

nazarudin