Senin, 25 Mei 2020
03 Shawwal 1441 H
Home / Fintek Syariah / Memupuk Semangat Idealisme Perjuangan AFSI
Sebagai idelisme dalam terbentuknya AFSI adalah mendirikan wadah perjuangan menuju industri Fintech yang bebas dari riba, gharar, dan zhalim di NKRI tercinta.

Sharianews.com, Asosiasi Fintech Syariah Indonesia atau disingkat AFSI adalah sebuah wadah perjuangan menuju industri Fintech yang bebas dari riba, gharar, dan zhalim di NKRI tercinta. Itu adalah salah satu rumusan awal akan visi AFSI ketika disepakati bersama untuk didirikan pada tanggal 29 November 2017, atau bertepatan dengan 11 Rabi’ul Awwal 1439H.

Setelah sebelumnya pada bulan Oktober 2017, diselenggarakan kegiatan Seminar tentang Fintek syariah di Kampus Institut Tazkia (Dikelola dengan baik Oleh Dr. Achmad Firdaus dan tim). Beberapa Peserta Seminar (antara lain Sdr. Irvan Hermala, dan Sdr. Alisakti Prihatwono) mengusulkan perlunya dibentuk sebuah wadah lebih lanjut untuk mengembangkan dan memajukan Fintek syariah di Indonesia. Kemudian, atas dukungan Kampus Tazkia (Bpk Dr. M. Syafii Antonio, dan Ibu Rektor IAI Tazkia, Ibu Murniarti Mukhlisin, beserta jajaran LPPM Tazkia, dibawah koordinasi Ibu Ries Wulandari M.Si), dan support dari Bank BNI Syariah, undangan atas nama PSFS Tazkia, disampaikan kepada para tamu undangan, kemudian atas izin Allah ‘azza wa jalla, bertempat di Kantor Pusat Bank BNI Syariah, beberapa perwakilan praktisi fintech syariah, akademisi, pengacara, Dana Pensiun, dan praktisi TI berkumpul melaksanakan Musyawarah Pembentukan sebuah asosiasi yang kini dikenal sebagai AFSI. Nama-nama yang hadir, antara lain Sdr. Irvan Hermala (Indvest), Sdr. Alisakti Prihatwono (Lawfirm Prihatwono), Bpk Darminto (Dana Pensiun salah satu BUMN), Sdr. M. Salman (SyarQ), Sdr. Maulana Riki A. (Syarfi), Sdr Fuddy H. (owner BPRS HIK), Ibu Rima dan Sdr. Najib (BNISy), Iqbal Lufty (Ethiscrowd), Fachri Kardiman (kapitalboost), Sdr. Tito (Infaqclub), Sdr. Bayu W (UIN Syarif Hidayatullah), Sdri. Asih Rianti dan Sdr. Farisah Amanda dari PSFS Tazkia, serta beberapa pejuang ekonomi syariah lainnya.

Rapat yang seharusnya dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, namun sedikit terlambat karena pimpinan rapat (PSFS Tazkia) masih sedang dalam perjalanan, sudah di Jakarta (dari Bandung) namun belum tiba di lokasi. Alhamdulillah ketika rapat dimulai, diluar ekspektasi semula, tamu undangan yang hadir di rapat cukup banyak, bahkan dapat dibilang antusias dan menginginkan segera didirikannya (ketok palu) Asosiasi Fintech Syariah Indonesia, tanpa adanya penundaan. Hal-hal teknis yang diperlukan untuk berdirinya Asosiasi dapat disiapkan lebih lanjut dengan cara membentuk tim formatur dan pendukung. Dan Maa sya Allah wa laa hawla wala quwwata illah billah, palu (palu sidang) oleh pemimpin rapat (Sdr. Afrad A.) dihentakan tiga kali, menandakan secara de facto telah berdiri Asosisasi Fintech Syariah Indonesia. Alhamdulillah.

Di rapat tersebut, para peserta rapat menyepakati bahwa latar belakang perlu didirikannya AFSI adalah pertama, transaksi ribawi yang sudah masuk ke ranah digital, dikarenakan fintech ribawi telah semakin mudah diakses dengan keberadaan internet bahkan hingga ke daerah-daerah.

Kemudian, kedua, Pangsa pasar Fintech syariah belum cukup besar, tetapi perlu dipersiapkan untuk menjadi besar, pembentukan AFSI diharapkan dapat menjadi leverage untuk membesarkan pangsa pasar fintech syariah. Dan terakhir Fintech syariah diharapkan tidak hanya dilihat dari keuntungan materi saja,tetapi juga dari kemanfaatan akhirat.

Pada tahun berikutnya, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 2018, AFSI telah diakui dan disahkan sebagai badan hukum melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor AHU 0001911.AH.01.07., dan pendekatan dan komunikasi dengan para stakeholders terus dilakukan, antara lain kepada calon-calon anggota AFSI, dan tentunya OJK sebagai regulator Institusi Keuangan di Indonesia. Dan kemudian , Allah Rabbul ‘aalamin pun menghadirkan beberapa anggota baru dengan support yang signifikan terhadap perkembangan AFSI, antara lain Sdr Lutfhi Adhiyansyah (Ammana), Sdr. Budiman Indrajaya (Asy-Syirkah), Sdr. Krisna Satria Gunawan, Sdr. Gunawan Awang, Sdr. Dima Djani (Alami), Sdr. Jamil Abbas, Sdr. M Ismail (Zahir),  Sdr. Emil Dharma (yang kemudian menjadi pimpinan AFSI Institut), Sdr. Ramadhonni Chandra (Oneshaf), Sdr Rifo (AfterOil), Sdr. Tri Israharjo (bsalam.id), Sdri. Putri (Halalvestor), Sdr. Rahmiyati Yahya, Sdr. Rusli dan Sdr. Irwan (ijabqabul.id),  Sdr. Amsi (syariahsaham.com), Sdr. Bagus dan Sdr, Kunto P. (umrohnesia.co.id), Sdr. Gilang dan Sdr. M. Ishaq (Kandangin), Sdr. Gurning (Goolive), Sdr. Harry (Danakoo), Sdr. Ilham Reza (Lariba), Sdr. Insan (Jual Beli Kredit.com), Sdr. Mahdi B. (Halallocal), Sdri. Paramita I. (Muslimapp), Sdr. Prasetyo (kerjasama.com), Sdr. Rachmat Anggara (Qasir.id), Sdr. Rizki P dan Sdr. Dicky (urunmodal), Sdr. Taufiq Aljufri (Danasyariah), Sdr. M. Assad (Tamasia), dan masih banyak pejuang-pejuang fintek syariah yang dalam kesempatan ini tidak dapat penulis tulis satu demi satu.

Selama kurun waktu 2018-2019, dibawah kepemimpinan Sdr Ronald Y. Wijaya (Ethis) para pengurus AFSI senantiasa mengikuti dan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mensosialisasikan tentang pentingnya fintek syariah. Kerjasama dengan regulator (OJK dan Bank Indonesia) semakin erat, kegiatan seminar di kampus-kampus Indonesia semakin sering, keanggotaan semakin bertambah, hingga akhirnya kini AFSI sedang dalam proses penunjukan menjadi Self-Regulatory Organization (SRO) oleh OJK (Barakallahu fik). Maa sya Allah, sebuah tanggung jawab dan amanah yang berat, namun insya Allah dapat diemban dengan baik (Laa hawla wa laa quwwata illa billah) oleh para pengurus yang memiliki sifat al-qowwiyu (kuat-profesional) dan al-amin (amanah, dapat dipercaya, berintegritas).

Adalah penting bagi para insan AFSI untuk senantiasa aware bahwa prinsip pembentukan AFSI harus senantiasa dipegang teguh oleh para anggota beserta jajaran pengurus AFSI, prinsip tersebut yakni pertama, Perbedaan pendapat perlu disikapi dengan baik didalam asosiasi sehingga tidak menyebabkan perpecahan. Perpecahan dalam asosiasi fintech syariah dapat menjadi salah satu hal yang menyebabkan “kemenangan” fintech ribawi dalam pandangan masyarakat. Kedua, Perbedaan pendapat tidak boleh melemahkan semangat pembentukan AFSI, ketiga, mengedepankan kekeluargaan dan kooperasi (kerjasama) agar lebih solid (dalam dakwah ekonomi syariah), keempat, saling bekerjasama dan menentukan “common enemy”-nya adalah fintech ribawi (semangat berkompetisi secara fair dengan tetap berlandaskan asas kepatuhan syariah, kehati-hatian, dan maslahah), kelima, kolaborasi dalam hal teknis-operasional antar pelaku fintek syariah walaupun bergerak di bidang bisnis yang sama. Dan insya Allah dibawah kepemimpinan Sdr. Yaser Taufik Syamlan sebagai Direktur PSFS Tazkia, mulai tahun 2020 ini, PSFS Tazkia senantiasa akan terus mendukung, mempromosikan, dan tidak lupa mengkritisi (jika diperlukan) AFSI demi kemaslahatan ekonomi Indonesia, khususnya di industri fintek nasional.

Dan sebagai penutup mari bersama-sama menghayati Firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surat An-Nuur (24): 55: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembahKu dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.".

Dan “And Fear a Day when you will be returned to Allah. Then every soul will be compensated for what it earned, and they will not be treated unjustly”. Surat Al-Baqarah (2): 281.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Wallahu ‘alamu bishshawab

Oleh: Afrad Arifin