Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
Dokumen pribadi.
Wakaf produktif di Indonesia memang cenderung baru, sejarah kolonislisme yang cukup lama di Indonesia nyatanya mampu memutarbalikkan potensi wakaf, sehingga Indonesia relatif lambat dalam perkembangan wakaf produktifnya.

Sharianews.com, Peradaban merupakan hasil karya komunal manusia secara bersuku-suku atau berbangsabangsa yang kemudian menghasilkan sebuah kesepakatan tidak tertulis untuk hidup bersama berupa kultur atau adat kebiasaan. Karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang tak bisa hidup seorang diri. Berinteraksi dengan sesama merupakan sebuah kebutuhan yang tak dapat terelakkan, maka dalam praktiknya, syariat Islam mengajarkan konsep ibadah yang tidak hanya berorientasi pada hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya saja, namun juga terdapat sisi sosial yaitu hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya sebagai sesama makhluk.

Dimensi Vertikal dan Horizontal

Wakaf merupakan puncak filantropi dalam Islam. Wakaf adalah salah satu sarana ibadah seorang muslim yang memiliki dimensi horizontal dan dimensi vertikal secara bersamaan. Dimensi vertikal dimana wakaf merupakan sarana penghambaan sebagai salah satu syariat yang bernilai ibadah bagi individu muslim, wakaf juga bernilai horizontal sebagai sarana membangun hubungan diantara sesama manusia. Wakaf merupakan pemanfaatan asset yang dimiliki untuk sama-sama dapat dinikmati bagi semua lapisan masyarakat termasuk kaum fakir.

Problema yang terjadi di hampir semua periode sejarah peradaban umat manusia yang merupakan akar dari segala pemaslahan ekonomi dan ketimpangan sosial yang terjadi pada dewasa ini adalah kemiskinan. Mengingat kata-kata dari salah seorang khulafa Al Rasyidin yaitu Ali bin Abi Thalib “Andaikan kemiskinan ada dalam wujud seorang manusia, maka tak segan aku akan membunuhnya”. Berlandaskan ucapan sahabat Ali tersebut, dapat dinilai bahwa kemisinan merupakan sesuatu yang nyata dan benar-benar harus diberantas.

Berkaca pada sejarah

Sepanjang sejarah di negeri ini, pengentasan kemisikinan yang hanya mengandalkan peningkatan nominal gaji tak kunjung menemukan titik terang keberhasilan. Jika berkaca pada sejarah pemerintahan umat Islam terdahulu, wakaf dapat dijadikan sebagai solusi untuk keluar dari jeratan kemiskinan suatu negara yang angkanya terus meningkat hampir di tiap tahunnya. Menurut Sri   Nurhayati dalam tulisannya Akuntansi Syariah di Indonesia menerangkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah, orang berbondong-bondong untuk melaksanakan wakaf. Pada masa itu, wakaf menjadi modal utama untuk membangun sarana prasarana pendidikan dan membangun perpustakaan. Sementara pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyyah, metode pengelolaan wakaf secara produktif mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hampir semua tanah pertanian menjadi harta wakaf yang dikelola oleh negara dan menjadi milik negara untuk kesejahteraan masyarakat.

Wakaf produktif di Indonesia memang cenderung baru, sejarah kolonislisme yang cukup lama di Indonesia nyatanya mampu memutarbalikkan potensi wakaf, sehingga Indonesia relatif lambat dalam perkembangan wakaf produktifnya. Konsep pemanfaatan harta wakaf sebagai sarana untuk membangun produktivitas ekonomi sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan para praktisi yang menggeluti bidang perwakafan. Seperti di Negara Turki dimana pemerintahnya memanfaatkan harta wakaf salah satunya untuk membangun sebuah Rumah Sakit pada 1843 di Istanbul, Turki, yang hingga kini menjadi Rumah Sakit modern yang memiliki kurang lebih 1400 tempat tidur dan mempekerjakan 400 dokter. Beberapa bangunan wakaf juga digunakan untuk asrama mahasiswa yang tidak mampu. Selain itu, ada Turkish Auqaf bank yang didirikan oleh Direktorat jendral wakaf Turki dimana direktorat sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 75%. Pendapatan dari bank tersebut digunankan untuk manajemen, perbaikan dan berbagai keperluan wakaf properti. Pemanfaatan harta wakaf secara produktif dengan memepertimbangkan aspek bisnis dan berorientasi pada keuntungan yang dihasilkan dari pengelolaan dana wakafnya juga diterapkan di Negara minoritas muslim seperti Amerika. Lembaga pengelolaan wakaf Kuwait Awgaf Public Foundation (KAPF) memberikan sejumlah wakafnya untuk pembangunan lahan yang dimiliki oleh The Islamic Cultural Center of New York (ICCNY) yang kemudian menyewakan 80 unit apartemen dan hasilnya diperuntukkan untuk memperbesar dana wakaf yang mereka kelola dan sebagian diperuntukkan untuk mereka yang kurang mampu secara finansial.

Sebuah solusi

Islam menghadirkan filantropi umat, maka didalamnya terdapat mekanisme rabbaniyyah yang jika kita teliti merupakan jawaban atas kegelisahan yang dapat dijadikan sebagai jalan keluar suatu masalah yang pencariannya selama ini kita anggap seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dengan wakaf kita dapat membangun kehidupan. sebagaimana yang telah dilakukan oleh pemerinntahan-pemerintahan Islam terdahulu mereka memaksimalkan potensi wakaf sebagaisalahsatu sarana pengentasan kemiskinan. World Islamic Economic Forum (WIEF) menyampaikan bahwa wakaf merupakan instrument penting dalam distribusi kekayaan, sebagai agama rahmatan lil alamin, manfaat dana wakaf tidak hanya dapat dirasakan oleh orang-orang Islam saja, namun lebih dari itu wakaf justru dapat dijadikan sebagai sarana yang menjembatani antara muslim dan non muslim, karena dalam praktiknya, baik sebagai pemberi atau penerima manfaat, bisa dilakukan oleh kaum muslim maupun non muslim.

Seiring perkembangan teknologi dan modernisasi pemikiran manusia, pemanfaatan harta wakaf di dunia modern saat ini dapat disesuaikan dengan mayoritas perekonomian masyarakat. Indonesia contohnya, Indonesia merupakan negara agraris, maka membidik wakaf produktif bagi pertanian adalah salah satu metode pembangunan peradaban melalui wakaf dimana outcome yang dapat diharapkan adalah tercapainya kedaulatan pangan nasional. Tanah wakaf dapat dimanfaatkan petani untuk bercocok tanam yang sekaligus dapat merecovery tingkat kesejahteraan para petani.

Manajemen resiko yang baik terhadap pengelolaan wakaf dapat meminimalisir potensi kerugian yang mungkin dapat terjadi dalam penerapannya. Dalam UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf diamanatkan pembentukan Badan Wakaf Indonesia, sekaligus diakuinya wakaf benda bergerak termasuk didalamnya wakaf tunai sehingga diharapkan dapat menjadi sumber harta wakaf potensial yang dapat disinergikan dengan harta wakaf benda tidak bergerak. Di Indonesia sendiri lembaga pengelola wakaf memang terbilang cukup menjamur, namun hal ini tidak berbanding lurus dengan pengetahuan masyarakat tentang wakaf. Masih dibutuhkan edukasi kepada masyarakat mengenai wakaf dan implementasi pemanfaatan harta wakaf di dunia modern karena sejauh ini paradigma masyarakat mengenai harta wakaf masih terbatas pada aset-aset yang kurang produktif seperti wakaf tanah untuk pemakaman. Sehingga masih dibutuhkan pengenalan dan edukasi esensi ajaran Islam yang benar bagi masyarakat awam agar pengelolaan harta di dunia juga dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kemaslahatan akhirat.

Oleh: Roudhatul Jannah