Rabu, 20 November 2019
23 Rabi‘ al-awwal 1441 H
Home / Sharia insight / Memanfaatkan Potensi Ekonomi Kurban
FOTO I Dok. Nu.or.id
Kurban yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia pada dasarnya memiliki implikasi yang sangat luas, baik terhadap upaya peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan.

Sharianews.com, Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa ibadah haji dan kurban yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia pada dasarnya memiliki implikasi yang sangat luas, baik terhadap upaya peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan, juga dampak secara sosial ekonomi kemasyarakatan.

Pelaksanaan kedua ibadah tersebut diharapkan bisa memberikan efek positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, apalagi saat ini Indonesia tengah berhadapan dengan berbagai macam persoalan termasuk kemiskinan.

Meskipun menurut Badan Pusat Statistik angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2019 mengalami penurunan sebesar 530 ribu jiwa, menjadi 25,14 juta jiwa atau sekitar 9,41 persen dari total penduduk, namun angka tersebut masih terbilang besar, apalagi dengan standar garis kemiskinan yang sangat rendah, yaitu Rp425.250,00/kapita/bulan.

Artinya rata-rata pengeluaran 25,14 juta penduduk miskin sama atau lebih rendah dari angka tersebut. Jika ditambahkan dengan data mereka yang rentan terhadap kemiskinan, maka berdasarkan informasi BDT (Basis Data Terpadu) Kementerian Sosial RI, maka jumlahnya mencapai angka 104 juta jiwa. Ini adalah struktur 40 persen penduduk termiskin di Indonesia.

Ibadah kurban mengajarkan semangat untuk senantiasa mengendalikan diri. Sebagai contoh, bagaimana kita mampu mengendalikan perilaku konsumsi agar terbebas dari perilaku tabzir dan israf, yaitu perilaku berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Misalnya dalam mengkonsumsi makanan.

Data menunjukkan bahwa sampah makanan atau food waste masyarakat Indonesia mencapai angka 300kg/orang/tahun. Artinya, setiap orang menyisakan makanan yang terbuang hampir satu kilogram setiap harinya. FAO mencatat bahwa jumlah makanan terbuang di Indonesia mencapai angka 13 juta metric ton, yang bisa digunakan untuk memberi makan 28 juta orang.

Ini adalah contoh yang sangat menyedihkan. Di satu sisi, banyak orang yang kelaparan dan kurang gizi. Banyak orang yang mengalami kondisi stunting dan gizi buruk. Namun di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan. Padahal, dalam Alquran Allah secara tegas mengasosiasikan mereka yang berlebih-lebihan ini sebagai saudaranya setan.

Secara ekonomi, potensi ibadah kurban ini sangat luar biasa besar. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mengungkapkan bahwa, berdasarkan studi Baznas dan Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) UI, nilai perputaran ekonomi dari kegiatan kurban mencapai angka Rp69,9triliun pada tahun 2018.

Angka ini diperkirakan akan naik setiap tahun dalam kisaran pertumbuhan 5-10 persen, sehingga diprediksikan bahwa nilai perputaran uang selama pelaksanaan ibadah kurban tahun ini hingga berakhirnya hari Tasyrik 1440 H, kemarin, diperkirakan mencapai angka Rp73-77triliun. Ini adalah angka yang sangat luar biasa, sekaligus mengkonfirmasi bahwa ibadah dalam ajaran Islam selalu memiliki sisi ekonomi yang luar biasa.

Badan Amil Zakat Nasional, di bawah koordinasi Direktorat Pendistribusian dan Pendayagunaan, telah mendirikan satu lembaga program yang didedikasikan secara khusus untuk memberdayakan peternak mustahik. Lembaga program tersebut diberi nama LPPM (Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik) Baznas. Saat ini LPPM Baznas telah memiliki 23 Balai Ternak di 16 Kabupaten/Kota dan 10 provinsi di seluruh Indonesia.

Balai Ternak ini dikembangkan oleh LPPM Baznas sebagai model pemberdayaan peternak dhuafa yang memadukan dan mengkombinasikan tiga aspek utama, yaitu (i) kemandirian ekonomi, yang ditandai dengan peningkatan produksi ternak, peningkatan olahan ternak, dan peningkatan pendapatan peternak; kemudian (ii) kemandirian kelembagaan, yang ditandai dengan kemampuan pendanaan yang cukup, dan kemampuan dalam mengakses sumber permodalan; dan (iii) kemandirian mental/spiritual, yang ditandai dengan komitmen menjalankan kewajiban agama, memiliki sifat amanah dan etos kerja yang tinggi, serta mengembangkan gaya hidup berbagi melalui semangat berzakat, infak, sedekah dan wakaf.

Alat ukur yang dikembangkan dalam menilai kinerja Balai Ternak adalah Indeks Kesejahteraan Baznas yang di dalamnya terdapat indeks CIBEST untuk mengukur kesejahteraan mustahik dari sisi material maupun spiritual.

Di samping penguatan industri peternakan rakyat pada skala usaha mikro dan kecil milik peternak duafa sebagaimana yang dilakukan Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ), secara makro diperlukan adanya upaya yang lebih serius dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan yang ada, untuk bagaimana memanfaatkan besarnya permintaan hewan kurban, agar bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Kemampuan memenuhi permintaan hewan kurban melalui penguatan produksi domestik akan berdampak pada peningkatan daya tahan perekonomian nasional, terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin keras dan semakin tidak menentu.

Selain aspek produksi, ibadah kurban ini juga memiliki dampak pada penguatan ketahanan pangan nasional, di mana kaum duafa akan memperoleh tambahan pasokan daging halal yang siap untuk dikonsumsi. Meskipun sifatnya sangat temporer, tapi paling tidak, kurban ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi daging per kapita masyarakat, yang saat ini, menurut pakar IPB Prof Muhammad Yamin, baru mencapai angka 11,6kg/kapita/tahun. Masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi daging warga Malaysia yang mencapai angka 52,3kg/orang/tahun, maupun Filipina yang mencapai angka 33kg/orang/tahun.

Rendahnya konsumsi daging ini antara lain disebabkan oleh banyaknya jumlah warga yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli daging. Dengan kurban, minimal mereka memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi daging walau hanya satu tahun sekali.

Inilah beberapa pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari pelaksanaan ibadah kurban. Semangat berkorban yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s. beserta keluarganya, serta Rasulullah saw dan para sahabatnya harus kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kesediaan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, di keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun di tengah masyarakat, merupakan titik tolak landasan sekaligus bingkai dalam menata masa depan secara lebik baik dan lebih beradab.(*)

Oleh: Irfan Syauqi Beik Editor: Achi Hartoyo

Tags: