Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Lifestyle / Memaknai Ungkapan Halalbihalal
FOTO I Dok. goodnewsfromindonesia.com
Ungkapan tersebut dipakai sebagai pengganti istilah silaturahmi dan telah menjadi tradisi di Indonesia saat Lebaran.

Sharianews.com, Kata halalbihalal yang saat ini dikenal sebagai tradisi selepas Idulfitri, memang merupakan kreasi dari orang Indonesia zaman dulu. Meskipun berasal dari Bahasa Arab, tetapi belum tentu orang Arab sendiri tahu makna sebenarnya yang dimaksud tentang halalbihalal ini.

Ungkapan tersebut dipakai sebagai pengganti istilah silaturahmi dan telah menjadi tradisi di Indonesia saat Lebaran.

Sebagaimana halal yang merupakan lawan kata dari haram, maka halalbihalal sendiri memberikan kesan bahwa akan terbebas dari dosa seseorang yang melakukannya. Tentunya hal ini harus didukung dengan saling memaafkan secara lapang dada.

Dalam Alquran juga disebutkan tentang betapa pentingnya makna halalbihalal dengan menjaga silaturahmi dan saling bermaafan. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 199 dan surat Ar-Ra’du ayat 21.

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh," (QS. Al-A'raf:199).

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah swt perintahkan supaya dihubungkan (Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan),” (QS. Ar Ra’du : 21).

Begitupula dalam sebuah hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan Al Bukhori menyebutkan,

“Barangsiapa yang telah menganiaya kepada orang lain baik dengan cara menghilangkan kehormatannya ataupun dengan sesuatu yang lain maka mintalah halalnya pada orang tersebut seketika itu, sebelum adanya dinar dan dirham tidak laku lagi (sebelum mati). Apabila belum meminta halal sudah mati, dan orang yang menganiaya tadi mempunyai amal saleh maka diambilah amal salehnya sebanding dengan penganiayaannya tadi. Dan apabila tidak punya amal sholeh maka amal jelek orang yang dianiaya akan diberikan pada orang yang menganiaya.”

Beberapa hadis lain yang mengutarakan perihal halalbihalal atau menjaga silaturahmi, berikut di antaranya:

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Siapa saja yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

"Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).

Hadis lainnya berbunyi, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturrahmi" (HR. Al-Bukhari). (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo