Rabu, 19 Desember 2018
11 Rabi‘ at-akhir 1440 H

Memahami Riba Zaman Now

Rabu, 26 September 2018 19:09
Foto: Visimuslim.org
Jika pemahaman tentang definisi Riba tidak akurat dampaknya akan muncul pengharaman terhadap transaksi halal atau penghalalan atas transaksi yang haram.

Salah satu akar permasalahan munculnya simpang siur pendapat tentang makna Riba dan berbagai transaksi yang mengandung Riba adalah pemahaman terhadap definisi Riba yang tidak akurat. Jika pemahaman tentang definisi Riba ini sudah tidak akurat, dampaknya akan muncul pengharaman terhadap transaksi halal atau penghalalan atas transaksi yang haram.

Ada sebagian masyarakat yang memaknai Riba adalah tambahan atas transaksi pinjaman. Jika definisi ini valid, berarti memberikan kelebihan pengembalian dalam pinjaman adalah Riba? Padahal, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk memberikan yang lebih baik atau lebih banyak ketika mengembalikan hutang atau pinjaman.

Dalam sebuah hadits dari Abu Raafi’ bahwasannya Rasulullah SAW pernah meminjam unta yang masih kecil dari seseorang. Lalu ada yang memberikan unta yang umurnya lebih baik kepada Rasulullah dan diajukan sebagai ganti. Rasulullah SAW lantas meminta Abu Raafi’ untuk mengantarnya. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantinya kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik).” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya” (a’thuuhu fainna min khiyaari an naasi ahsanuhum qadhaa`an) [HR. Bukhari dan HR. Muslim].

Hadits ini menegaskan bahwa ketika kita berhutang, kembalikan dengan yang lebih baik, berilah kelebihan dalam pengembalian, baik dari sisi sifat maupun dari sisi jumlah. Dalam konteks masa kini, hal ini boleh dilakukan asalkan tidak menimbulkan conflict of interest atau aktivitas lain yang merupakan transaksi gratifikasi.

Mengembalikan kelebihan dalam pinjaman adalah langkah yang dianjurkan Rasulullah SAW. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Riba? Mari kita bedah bersama tentang Riba dan contoh transaksi yang mengandung Riba.

Riba Pinjaman

Riba itu secara umum dibagi menjadi dua, yakni Riba Pinjaman (hutang-piutang) dan Riba Jual-Beli (pertukaran). Masing-masing jenis Riba ini memiliki definisi dan karakteristik yang berbeda-beda. Kita harus bisa memahami dan memilah secara akurat agar tidak salah dalam menentukan kriteria hukum suatu transaksi yang diduga mengandung Riba.

Pertama, Riba Pinjaman. Kitab I’anah ath-Thalibin Juz 3 halaman 53 merumuskan, wa amma al-qardh bi syarthi jarri naf’in li muqridh fa faasid li khabari kullu qardhin jarra manfa’ah fahuwa ar-riba. Ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pemberi pinjaman, maka hukumnya fasid atau batil, sebagaimana Hadits bahwa setiap hutang-piutang yang mengalirkan manfaat adalah Riba.

Perhatikan rumus Riba Pinjaman, yakni ketika ada (1) pinjaman, (2) bersyarat, (3) aliran manfaat, (4) bagi pemberi pinjaman. Dengan demikian, ketika ada pinjaman memberikan aliran manfaat bagi pemberi pinjaman yang tidak dipersyaratkan, maka ini bukan skema Riba. Begitu juga ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat namun tidak dialirkan kepada pemberi pinjaman dan/atau tidak dialirkan kepada semua pihak yang terlibat dalam transaksi, maka ini pun bukan kategori Riba.

Berdasarkan rumus tersebut, maka transaksi simpanan dan kredit di Bank Konvensional bisa valid disebut dengan Riba karena pada saat nasabah melakukan simpanan berupa tabungan, giro dan deposito, maka ada bunga yang diperjanjikan atau dipersyaratkan sebesar % x Pokok Simpanan (yang pasti sudah diketahui nominal rupiahnya) untuk si nasabah (pemberi pinjaman). Begitu juga ketika ada transaksi kredit di Bank Konvensional, nasabah dipersyaratkan mengembalikan bunga sebesar % x pokok kredit (yang pasti sudah diketahui nominal rupiahnya) untuk Bank Konvensional. Transaksi ini valid disebut Riba.

Hal ini berbeda dengan kondisi yang terjadi di Bank Syariah. Ketika nasabah menabung dengan akad wadiah yad dhamanah (pinjaman), tidak ada syarat pemberian kelebihan pengembalian pokok simpanan, tapi sangat dianjurkan (sesuai Hadits Rasulullah SAW) ketika Bank Syariah memberikan bonus kepada nasabah. Begitu juga untuk akad mudharabah, nasabah tidak dijanjikan hasil pasti sebesar % x pokok (seperti bunga), namun diberikan hasil sesuai nisbah bagi hasil dengan perhitungan % x hasil (tergantung hasil sesuai realisasi di periode tertentu).

Pada produk pembiayaan di Bank Syariah, adanya adalah skema dagang, baik dalam bentuk jual-beli barang, jual-beli manfaat (sewa maupun jasa), kongsi (yang pasti melalui jual-beli jika ingin menghadirkan keuntungan). Tidak ada skema pinjaman atau hutang bersyarat manfaat bagi pemberi hutang. Dengan demikian, valid tidak ada Riba dalam pembiayaan syariah.

Riba Jual-Beli

Kedua, Riba Jual-Beli. Sesuai dengan istilahnya, Riba Jual-Beli adalah Riba yang terjadi pada skema pertukaran, yakni pertukaran Harta Ribawi. Pada masa klasik, harta Ribawi adalah emas, perak, garam, kurma, gandum burr, dan gandum sya’ir. Sebagian ulama berpendapat bahwa harta Ribawi ini juga termasuk qiyas dari enam harta Ribawi tersebut, misalnya, alat tukar resmi berupa Rupiah.

Berdasarkan penelusuran penulis pada Kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid dan Kitab I’anah ath-Thalibin, minimal ada tujuh syarat agar pertukaran harta Ribawi tersebut tidak terkena Riba, yakni (1) saling menerima dan menyerahkan (haa`a wa haa`a), (2) tunai atau hand by hand (yadan bi yadin), (3) setara (sawaa`an bi sawaa`in), (4) sejenis (mitslan bi mitslin), (5) sebarang, sama-sama terjadi penyerahan barang (aynan bi aynin), (6) setakaran (kaylan bi kaylin), (7) sepola, setimbangan (waznan bi waznin). Itu syarat minimal pertukaran harta Ribawi.

Uniknya, keenam harta Ribawi tersebut bisa berubah menjadi sil’ah atau komoditas ketika fakta membuktikan bahwa alat tukar saat ini bukan lagi emas dan perak, namun Rupiah. Ushul fikih atas kondisi ini yang juga menyebabkan bahwa emas tidak lagi diberlakukan sebagai harta Ribawi, namun sebagai komoditas, sehingga bisa diperjualbelikan secara tidak tunai.

Ada dua contoh konkret pertukaran harta Ribawi yang difatwakan halal melalui Fatwa DSN MUI No. 28 tentang Jual-Beli Sharf, yakni spot dan forward lil haajah. Spot adalah pertukaran harta Ribawi (misanya Rupiah) yang sifatnya tunai. Sedangkan forward lil haajah adalah pertukaran harta Ribawi yang dilaksanakan secara tunai di masa mendatang. Forward ini hukum asalnya adalah haram, namun menjadi halal oleh karena pertimbangan hajiyat, misalnya pembelian Dollar atau Riyal dalam rangka pelaksanaan Ibadah Haji.

Demikian definisi tentang Riba, baik Riba Pinjaman maupun Riba pada Jual Beli, agar memudahkan kita untuk mengindentifikasi secara akurat apakah sebuah transaksi termasuk kategori Riba atau tidak.

Wallaahu a’lam.

Oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin