Selasa, 2 Maret 2021
19 Rajab 1442 H
Home / Sharia insight / Memahami Prinsip Islam dalam Perintah Ziswaf (Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf)
Ada beberapa prinsip dalam hukum Islam terkait dengan ajaran perintah zakat, anjuran infaq, sedekah dan wakaf. Prinsip diartikan sebagai kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir, bertindak dan sebagainya

Sharianews.com, Sesuai dengan tujuan akhir diturunkannya syariat Islam, yaitu adanya pemeliharaan terhadap harta, maka Islam merespon dengan ajarannya pada perintah kewajiban berzakat, anjuran berinfaq, sedekah dan wakaf. Hal ini bertujuan agar terpelihara kemaslahatan bersama, menjaga keseimbangan dan keharmonisan hidup pada seluruh lapisan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak ada sekat antara yang kaya dan yang miskin.

Zakat merupakan faridhah maliyah (kewajiban berupa harta) dan bersifat sosial, zakat juga merupakan rukun iman yang ketiga. Barangsiapa tidak mau menunaikan zakat karena pelit, maka ia dita’zir atau zakat itu diambil darinya secara paksa. Apabila ia memiliki kekuatan untuk melawan, maka diperangi sampai takluk dan mau menunaikannya. Sedangkan apabila secara terang-terangan mengingkari akan kewajibannya, sedang dia bukan seorang muallaf, maka pantas dihukumi sebagai murtad. Zakat bukanlah hibah (pemberian) seorang yang kaya kepada si fakir, akan tetapi ia merupakan hak yang pasti bagi si fakir dan kewajiban atas para muzakki, di mana negara berkewajiban untuk memungutnya, kemudian membagikannya kepada para mustahik melalui para pegawai zakat atau disebut dengan istilah Badan Amil Zakat (BAZ). Zakat diwajibkan pada setiap harta yang aktif atau siap dikembangkan, sudah mencapai nishab dan sudah mencapai satu tahun dan bersih dari hutang. Ini berlaku pada binatang ternak, emas, perak dan harta dagangan. Adapun pada tanaman dan buah-buahan wajib ketika panen, dan pada tambang dan barang temuan purbakala, kewajiban berzakatnya ketika menemukannya.

Islam tidak menentukan nishab dalam jumlah yang besar. Hal ini agar umat ikut serta menunaikan zakat dan menjadikan prosentase yang wajib dizakati sederhana, yaitu 2,5% pada emas, perak dan barang perdagangan, 5% untuk tanaman yang disiram menggunakan irigasi, 10% untuk tanaman yang langsung dengan air hujan (tadah hujan), dan 20% untuk rikaz (barang temuan) dan tambang. Semakin besar tingkat kepayahan dan kesulitan seseorang dalam mengusahakan hartanya, maka semakin ringan kadar zakatnya.

Infaq dan sedekah merupakan dua amalan yang seringkali dianggap sama karena memiliki banyak persamaan. Padahal, infak dan sedekah adalah dua jenis amalan yang berbeda. Dalam ajaran Islam, kita diwajibkan untuk menyisihkan sebagian harta yang dimiliki. Di antaranya adalah mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah. Dari ketiga amalan tersebut, hanya zakatlah yang memiliki hukum wajib untuk dilaksanakan. Sementara infak dan sedekah hukumnya sunah. Meski sama-sama memiliki hukum sunah, namun tetap ada perbedaan di antara infak dan sedekah. Sedekah bisa berupa material dan immaterial yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Sedangkan infak terbatas hanya menyisihkan harta sementara, sedekah bisa berupa harta atau yang tidak meliputi harta. Seperti yang dikutip dari Hadist riwayat Bukhori, Nabi Muhammad SAW bersabda: “setiap kebaikan adalah sedekah”.

Jadi letak perbedaan antara zakat, infak, dan sedekah yaitu terletak pada hukum yang mewajibkan zakat, sementara infak dan sedekah adalah sunah. Sedangkan yang membedakan infak dan sedekah terletak pada batasan yang diberikan. Infak hanya terbatas pada amalan berupa harta, sementara sedekah cakupannya lebih luas seperti, menyingkirkan duri di jalan dan memberikan senyuman, sabda Rasulullah SAW: “Senyum-mu di hadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR Al-Tirmidzi).

Lain halnya dengan wakaf, bahwa di antara persoalan penting yang ditekankan dalam Islam adalah sedekah jariyah. Inilah yang secara istilah disebut waqaf khairy (wakaf untuk masyarakat/sosial). Secara definitif dapat diartikan dengan “Harta yang dikeluarkan dari perorangan untuk diambil manfaatnya oleh umat Islam khususnya, dan manusia secara umum dalam rangka mencari ridha Allah SWT. Pengelolaan harta wakaf yang produktif mampu memandirikan para mauquf’alaih (penerima manfaat harta wakaf), baik mandiri secara ekonomi, pendidikan dan kesehatannya. Pengelolaan ini harus terus diupayakan dan dilakukan secara optimal sampai mendapatkan hasil yang maksimal, dan mampu membantu masyarakat ekonomi lemah dan termarjinalkan.

Ada beberapa prinsip dalam hukum Islam terkait dengan ajaran perintah zakat, anjuran infaq, sedekah dan wakaf. Prinsip diartikan sebagai kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir, bertindak dan sebagainya. Prinsip hukum Islam merupakan kebenaran universal yang inheren di dalam hukum Islam dan menjadi titik tolak pembinaannya, dan prinsip berarti kebenaran yang menjadi sumber atau titik awal seseorang menetapkan hukum atau melakukan sesuatu.

Beberapa Prinsip dalam Hukum Islam terkait dengan Ajaran Perintah Zakat, Anjuran Infaq, Sedekah dan Wakaf, yaitu: 1. Prinsip tauhid. Prinsip tauhid ini, menghendaki dan mengharuskan manusia untuk menetapkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan al-Quran dan al-Sunnah. 2.  Prinsip Keadilan. Konsep keadilan yang merupakan prinsip kedua setelah tauhid, meliputi keadilan dalam berbagai hubungan: hubungan antara individu dengan dirinya sendiri; hubungan antara individu dengan manusia dan masyarakatnya. Adanya perintah zakat dan anjuran infaq, sedekah dan wakaf, menjadi sebuah prinsip keadilan yang merata dalam pendistribusian harta kekayaan, sehingga kekayaan tidak akan dinikmati oleh segelintir manusia atau kelompok orang saja, tetapi didistribusikan secara berkeadilan sesuai dengan firman Allah QS. Al-Hasy:7 “........supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.........

Prinsip ke 3. Prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan melarang kemunkaran).  Amar maruf nahi munkar (setelah shalat dan zakat) adalah faktor terpenting dalam tegaknya perekonomian Islam. Bahkan umat Islam tidak berhak mendapat pertolongan Allah kecuali dengan menunaikan tugas amar maruf nahi munkar. Sesungguhnya ia merupakan penegasan bagi wajibnya saling memikul beban (takaful) secara moral diantara kaum Muslim. Sekalipun infaq, sedekah dan wakaf (shadaqah jariyah) hukumnya sunnah, tetapi ia melambangkan adanya perintah saling meringankan beban diantara umat Muslim dalam masalah ekonomi. 4. Prinsip Persamaan. Pada prinsip persamaan ini, perintah zakat, infaq, sedekah dan wakaf, mengindikasikan adanya persamaan hak dan kewajiban antara si kaya dan si miskin. 5.  Prinsip At-Ta’awun. Prinsip ini memiliki makna saling membantu antara sesama manusia yang diarahkan sesuai prinsip tauhid, terutama dalam peningkatan kebaikan dan ketakwaan. Pada prinsip al-ta’awun Allah berfirman dalam QS. 5:2 “.......Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”

Oleh: Neneng Hasanah

Tags: