Jumat, 6 Desember 2019
09 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Ekbis / Melihat Masjid Ramah Disabilitas El Syifa
Penyandang disabilitas saat mengambil wudhu di masjid Elsyifa Ciganjur. Foto/dok.poskotanews
Penyandang disabilitas masih merupakan kelompok paling rentan dan termajinalkan di masyarakat.

Sharianews.com, Jakarta ~ Hari ini, 3 Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Peringatan ini merefleksikan dan meningkatkan kesadaran hak para penyandang disabilitas.

Memang, penyandang disabilitas masih merupakan kelompok paling rentan dan termajinalkan di masyarakat.

Seperti di dalam dunia kerja, jalan raya, transportasi umum, hingga tempat ibadah, penyandang disabilitas masih bergantung pada bantuan dan rasa iba orang lain.

Namun kini, kita boleh berbangga hati, meskipun rumah ibadah khusus bagi penyandang disabilitas belum banyak, tapi ada role model yang memang sudah diakui dari Kementerian Agama RI, yakni masjid El Syifa di Ciganjur.

"Belum lama ini kita pernah diundang Kemenag yang bekerja sama dengan KemenPPPA, Dewan Masjid Indonesia (DMI), dan akan digaungkan mereka, kita sifatnya hanya role model, dan ada pendanaan untuk pembangunan atau renovasi masjid dari Kemenag sebesar Rp50juta," ucap Hadi saifullah, sekretaris DKM Masjid El Syifa ketika berbincang dengan sharianews, Selasa (3/12).

Ditambahkan Hadi, dirinya pernah berbicara kepada pemprov DKI terkait dengan dana sumbangan. Namun, hal tersebut masih tertunda.

Menurutnya, saat ini dari DKM hanya berkonsentrasi donasi dari jemaah. Pada awal pembangunan, dirinya bersama tim pernah membuat proposal untuk mengetuk perusahaan-perusahaan tetapi hasilnya nihil.

"Malahan ada salah satu jemaah yang membantu sampai 85 persen, dan sisanya dari jemaah yang lainnya," ungkap Hadi.

Sebelum membuat toilet dan tempat wudu khusus disabilitas, lanjut Hadi, dirinya berdiskusi terlebih dahulu dengan lembaga disabilitas internasional, agar syarat dan ketentuannya bisa dipraktikan dengan aman dan nyaman oleh penyandang disabilitas.

"Kira-kira ada tujuh syarat waktu itu, misalnya yang berkaitan dengan rem dan jalan landai, kedua ubinnya harus yang kasar nggak boleh licin, terus di dalam toiletnya harus yang duduk, kemudian di dalam toiletnya dia bisa moving, makanya ukurannya agak besar 2,1mx220, dan di dalam toilet pun harus ada bel (panic button)," tutur Hadi.

Dengan ukuran 6mx350 dibuatlah toilet khusus disabilitas terpisah dengan jemaah lainnya. Ia juga menjelaskan mengenai tempat wudunya yang memiliki tiga wastafel dengan sistem tarik dorong.

"Jadi bisa didorong dan ditarik, kemudian ditempat wudu agar nggak bergerak kita kasih karet, dan ketika mereka keluar juga masih ada handrail jadi mereka benar-benar nyaman," ucap Hadi. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo