Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
-
Masjid An-Nahl punya ragam kegiatan sosial-keagamaan dengan paket lengkap. Pintu masjid selalu terbuka untuk mereka yang mau mengaji, belajar agama, dan berderma.

Masjid An-Nahl punya ragam kegiatan sosial-keagamaan dengan paket lengkap. Pintu masjid selalu terbuka untuk mereka yang mau mengaji, belajar agama, dan berderma.

Selain untuk shalat berjamaah, aktivitas di masjid yang terletak di BSD, Tanggerang Selatan, ini sangat padat. Terlihat ada totalitas dalam mendidik dan memberdayakan umat dari para pengelolanya. 

Di antara program kegiatan masjid yang berdiri di atas bangunan rumah toko (ruko) ini adalah klinik Al-Quran, kajian mingguan, kajian bulanan, kuliah subuh, belajar bahasa Arab, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), manasik haji, sahur dan berbuka puasa bersama tiap Senin dan Kamis.

Kegiatan lainnya, program menghafal Al-Quran, bedah kitab kuning, tahajud muraja’ah, daurah muraja’ah Indonesia, tahajud berjamaah (qiyamul lail), program untuk para mualaf, pengadaan air bersih, pengobatan gratis, santunan kematian, beasiswa, makanan gratis untuk dhuafa, donor darah, bazar sembako murah, dan bazar barang bekas,

Berbagai kegiatan ini gratis. Tanpa dipungut biaya sepeserpun. Terbuka buat siapa pun, laki-laki maupun perempuan, dari berbagai kalangan dan usia.

Untuk mengisi waktu libur secara lebih produktif dan bermanfaat, tiap Sabtu dan Minggu, masjid ini melayani mereka yang mau belajar Al-Quran selama 24 jam penuh. Kegiatan ini dinamakan Klinik Al-Quran. Klinik Al-Quran ini melayani bimbingan membaca Al Quran bagi pemula hingga tingkat yang lebih tinggi.

Rina, salah satu warga yang kerap membantu berbagai kegiatan di Masjid An-Nahl sejak awal berdiri mengatakan bahwa setiap orang yang datang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.

“Nanti ustadz dan ustadzahnya yang akan menentukan mereka berada di level mana. Apakah mulai dari awal atau belajar di tingkat lanjut. Perkembangan mereka akan dicatat,” ujarnya saat Sharianews.com berkunjung ke masjid yang terletak di The Icon BSD City Masjid ini, Sabtu (4/8/2018).

Dalam Klinik Al-Quran juga ada program khusus seperti bimbingan tilawah Al-Quran, bimbingan tahsin, tajwid, bimbingan menghafal (tahfizh) Al-Quran, dan muraja’ah.

Rina mengungkapkan, para pengajar Klinik Al-Quran ini ada delapan orang. Empat laki-laki dan empat perempuan.

“Mereka mengajar di ruangan terpisah. Ustadz dan ustadzahnya stand by 24 jam non-stop, tiap Sabtu dan Minggu. Untuk melayani Klinik Al-Quran mereka sampai menginap di masjid,” katanya.

Para peminat Klinik Al-Quran datang dari berbagai daerah di Indonesia. Terutama bagi mereka yang ingin belajar Al-Quran namun terkendala waktu di hari kerja. Di antaranya, ibu-ibu rumah tangga yang sibuk mengurus keluarga dan memasak pada hari biasa.

“Mereka bisa memilih jadwal sesuai dengan waktu luang mereka di hari Sabtu dan Minggu. Bisa pagi, siang sore atau malam. Pokoknya ini 24 jam,” imbuh Rina.

Di Klinik Al-Quran, jelas Rina, mereka yang hadir bisa mencapai lebih dari 20 orang. Terutama kalangan Ibu rumah tangga pada malam hari.

Iktikaf 30 Hari

Salah satu kegiatan yang berbeda dari masjid lain, saat Ramadhan di Masjid An-Nahl ini iktikaf dilakukan selama 30 hari. Berbeda dari masjid lain yang biasanya hanya 10 hari.

Saat Ramadhan, Masjid ini dipenuhi ratusan pengunjung untuk iktikaf dari seluruh Indonesia. Tak hanya dari Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek), tapi juga luar pulau Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Masyarakat yang ingin iktikaf di masjid ini harus melakukan registrasi lebih dulu agar pihak pengelola bisa menyesuaikan kapasitas dan menyiapkan segala yang dibutuhkan dengan baik.

Pendaftar iktikaf pada Ramadhan lalu berjumlah lebih dari 800 umat Muslim. Panitia terpaksa menyeleksinya dan memilih kurang lebih 600 orang, sesuai kapasitas masjid.

Setiap harinya, para pengelola Masjid An-Nahl menyiapkan 700 porsi makanan untuk berbuka puasa, pas jam 10 malam, dan saat sahur.

Ratna, salah satu pengunjung yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan, ia datang ke An-Nahl untuk bisa iktikaf selama 30 hari. Ia mengaku dapat informasi dari Internet dan langusng tertarik.

“Biasanya iktikaf 10 hari. Di masjid ini bisa mulai dari awal puasa,” katanya kepada Sharianews.com, Sabtu (4/8/2018).

Ia mengakui, baru kali ini menemukan waktu iktikaf yang begitu panjang. Ratna pernah melakukan itikaf di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri bersama keluarga. Di antaranya, di Masjid Istiqlal, di Malaysia, Singapura, dan India. Semuanya sama, 10 hari di akhir Ramadhan. 

“Kesan saya pas pertama datang langsung takjub. Lebih hebat dari yang saya baca dari Internet. Terlebih langsung bertemu dengan Taqi Malik yang menjadi Imam masjid ini,” paparnya.

Selama tinggal di Jakarta, Ratna kerap hadir dalam berbagai kegiatan di Masjid An-Nahl. Salah satunya Kinik Al-Quran.

Ratna kagum dengan kegiatan yang ada di masjid ini. Terlebih dengan orang-orang yang mengelola masjid ini dengan tulus dan tidak kenal lelah melayani dan membedayakan umat.

“Mereka masih sangat muda, tapi energinya luar biasa. Kebanyakan pengelola masjid di bawah 50 tahun, tapi semangatnya patut diapresiasi,” jelasnya, haru sambil menyeka bulir air mata yang jatuh di pipinya. 

Tak hanya saat Ramadhan, masjid ini juga menyediakan makan sahur dan buka puasa bersama tiap Senin dan Kamis.

Untuk anak-anak remaja, ada program KURMA. Kegiatan pengajian yang dilakukan setiap Sabtu untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kegiatan ini dilakukan setelah shalat Isya hingga Subuh. Diisi dengan beragam kegiatan. Mulai dari pengajian, tahajud, dan lainnya. Para siswa yang ikut mencapai 40 orang dari seluruh SMA di Tangerang.

Masjid An-Nahl berdiri tujuh tahun lalu. Berawal dari kegiatan rutin ibu-ibu pengajian di daerah The Icon BSD City. Pengajian ini kian membesar. Salah jamaah yang memiliki ruko kemudian mewakafkan ruko miliknya untuk dijadikan masjid.

Kini masjid itu bermanfat besar untuk pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Untuk operasional, dana kegiatan Masjid An-Nahl didapat dari kotak amal, warga sekitar, dan juga para donatur. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.