Kamis, 27 Juni 2019
24 Shawwal 1440 H
Home / Opini / Marriage is a life journey (1)

Marriage is a life journey (1)

Minggu, 20 Januari 2019 09:01
Foto|Dok. Pribadi
Pernikahan dapat dikatakan sebagai “a life journey” atau proses perjalanan hidup manusia itu sendiri. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan komitmen penuh untuk bersama hingga akhir hidup

Imam Shamsi Ali | Presiden Nusantara Foundation

Salah satu kenikmatan hidup yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya adalah pernikahan. Pernikahan adalah sebuah peristiwa penting dalam hidup manusia. Bahkan tidak mengherankan jika aturan yang paling detail dalam agama ini adalah urusan rumah tangga.

Betapa tidak. Dari awal proses mencari calon pasangan hidup, hingga pernikahan itu sendiri. Dari urusan paling privat (hubungan suami istri), hingga ke pendidikan anak.

Dari bagaimana menumbuh suburkan tali ikatan keluarga, hingga (Semoga tidak terjadi) ketika harus terjadi perceraian.

Dari ketika anak lahir, hingga ketika ada yang meninggal dunia dengan urusan warisan. Semuanya diatur secara jelas dan detail oleh agama ini.

Pertanyaannya kenapa pernikahan menjadi sangat penting dalam hidup?

Tentu jawabannya banyak. Tapi salah satunya adalah karena hidup secara keseluruhan adalah institusi. Hidup manusia itu sebuah institusi yang rapi.

Semua telah diatur sedemikian rupa oleh Pengatur dan Pemilik kehidupan. Dan bagian pertama yang terbangun dari institusi ini adalah pernikahan itu sendiri.

Kita kenal dalam sejarah bahwa sejak Allah menciptakan manusia (Adam), sejak itu pula manusia itu tidak merasakan ketenteraman tanpa pasangannya.

Karenanya atas dasar kasih sayang-Nya jua pasangan baginya (Hawa) diciptakan. Dan sejak itu pula perkawinan atau pernikahan menjadi institusi solid dalam hidup manusia.

Sejak itu pula institusi ini menjadi sakral (suci) dan menjadi jalan kesucian hidup. Bahkan dalam semua tradisi keagamaan manusia perkawinan atau pernikahan ini dilakukan dengan penuh kesakralan, melibatkan Tuhan di dalamnya.

A life journey

Sedemikian pentingnya institusi ini sehingga pernikahan dapat dikatakan sebagai “a life journey” atau proses perjalanan hidup manusia itu sendiri. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan komitmen penuh untuk bersama hingga akhir hidup (di surga Insya Allah).

Untuk life journey atau perjalanan hidup ini solid dan sukses ada beberapa pilar Yang dibangun dalam proses perjalanan itu. Di bawah ini saya sebutkan pilar-pilar tersebut secara singkat.

Pertama, bahwa life journey ini adalah a journey of responsibility atau perjalanan hidup yang penuh dengan tanggung jawabnya.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa barang siapa yang diberikan keberkahan dengan seorang istri yang salihah, tentu sebaliknya seorang suami yang saleh bagi sang istri, maka dia telah menyempurnakan seperdua agamanya (nisf diin).

Perkawinan dianggap memenuhi setengah agama karena agama itu adalah kehidupan. Kehidupan adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kehidupan itu dalam dua bentuknya; pribadi dan publik. Maka pernikahan sesungguhnya adalah awal dari pemenuhan tanggung publik manusia.

Di sinilah pokok poinnya kenapa pernikahan itu disebut sebagai a journey of responsibility (perjalanan yang penuh tanggung jawab). Bahkan tidak salah jika pernikahan itu akan menjadi “ukuran” tanggung jawab seseorang dalam tanggung jawab publiknya.

Kedua, bahwa life journey ini adalah a journey of vision atau perjalanan visi hidup.

Keberhasilan membangun rumah tangga akan banyak ditentukan oleh jawaban kepada pertanyaan mendasar dalam hidup manusia. Pertanyaan tentang visi hidup. Untuk apa saya hidup? Dan perkawinan ini adalah bagian penting dari hidup.

Karenanya perkawinan itu akan diwarnai oleh jawaban kepada pertanyaan mendasar tadi. Untuk apa saya menikah? Menikah karena kecantikan akan mewarnai perjalanan rumah tangga. Kalau masih cantik maka rumah tangga masih solid. Begitu kecantikan berubah, berubah pula keadaan rumah tangga itu.

Demikian seterusnya. Kawin karena materi, popularitas, dan lain-lain yang bersifat duniawi semuanya akan berubah, lambat atau cepat. Dan kalau niat nikah karena semua itu maka nikah itu mengalami perubahan seiring perubahan motifnya.

Maka pada akhirnya, walaupun semua yang disebutkan di atas tiada salahnya menjadi motif, tapi motif yang akan abadi dan tak akan goyah selamanya hanya “ridho Allah(mardhotillah).

Orang yang menikah karena Allah, apa pun warna hidupnya, guncangan apa pun yang terjadi dalam hidupnya, pasti akan kokoh dalam melanjutkan langkah life journey ini. Karena pada akhirnya the ultimate motive (dorongan utama) dari pernikahannya adalah mencari “Ridho Tuhan”.

Ketiga, bahwa life journey ini adalah proses perjalanan saling belajar (ta’aruf).

Kerap kali ada kesalahpahaman di kalangan anak muda umat ini. Seolah ta’aruf itu terjadi sebelum nikah. Padahal ta’aruf yang sesungguhnya akan terjadi setelah melangsungkan pernikahan.

Menikah itu adalah mempertemukan dua individu untuk sebuah komitmen perjalanan panjang. Dua individu itu sedekat apa pun pasti memiliki perbedaan dalam banyak hal. Perbedaan selera makan, pakaian, hingga kepada pandangan tentang masalah-masalah hidup. Bahkan selera terhadap acara TV sekalipun kerap berbeda.

Salahkah perbedaan itu? Tidak sama sekali. Berbeda itu alami dan kadang menjadi sumber keberkahan tersendiri. Tapi untuk mendatangkan keberkahan diperlukan “ilmu”. Ilmu inilah yang sekarang menjadi salah satu mata pelajaran penting di berbagai Universitas dengan nama “manajemen konflik” atau “resolusi konflik”.

Di sinilah maknanya ketika “saling belajar” atau saling mengenal itu menjadi salah satu pilar penting dari perjalanan hidup ini.

Keempat, bahwa life journey ini adalah a journey of partnership atau perjalanan kerja sama.

To be continued......!