Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Lifestyle / Marissa Haque: Gaya Hidup Syariah Dimulai dari Keluarga
Marissa Haque saat menjadi pembicara di Jogja Halal Festival 2018. FOTO| Dok. heri.sharianews.com
Tidak mudah untuk menerapkan gaya hidup 100 persen syariah. Karena itu, mesti dimulai dari hal-hal kecil dan serderhana, baru dilanjutkan ke lingkup yang lebih luas.

Sharianews.com, Yogyakarta. Dr Hj Marissa Grace Haque - Fawzie, artis yang juga dosen mengatakan hidup bersyariah harus dimulai dari keluarga dan hal-hal yang kecil. Di antaranya, makanan, pasta gigi, kosmetik, baju, sepatu, dan tas yang halal. Selanjutnya, penerapan kehidupan syariah di tingkat  lingkungan yang lebih luas.

Lebih lanjut Marissa menjelaskan untuk menjadi hidup bersyariah dan halal itu tidak mudah. Karena itu, masyarakat harus belajar dari hal-hal yang kecil. Menurutnya, tidak mudah untuk bisa menjalankan kehidupan syariah 100 peresen.
 
"Tetapi usahakan dengan memilih produk-produk halal dan syariah. Misalnya, kita menggunakan jasa perbankan. Karena relasi bisnis menggunakan bank konvensional ya kita juga menggunakan konvensional. Konvensional tidak bisa ditinggalkan, tetapi hati tetap syariah,” kata Marissa pada Seminar Literasi Keuangan dan Pasar Modal Syariah di Jogja Halal Festival 2018 Yogyakarta, Sabtu (13/10/2018).
 
Marissa mengungkapkan pengalamannya selama berada di Palembang yang hobinya makan empek-empek. Dirinya tidak menyadari jika empek-empek yang menggunakan Cuko ternyata tidak halal. “Sebab Cuko itu bahan bakunya menggunakan arak. Setelah tahu, ya saya tinggalkan. Demikian pula ketika berwisata di daerah yang mayoritas non muslim harus hati-hati memilih makanan,”jelasnya.
 
Keuangan Syariah
Sementara Arif Machfoed, Kepala Bagian Direktorat Pasar Modal Syariah OJK mengatakan indek literasi dan inklusi keuangan syariah masih sangat rendah. Berdasarkan hasil survei keuangan tahun 2016, Indek Literasi Keuangan Syariah hanya 8,11 persen. Sedang Indek Inklusi Keuangan Syariah sebesar 11,06 persen.
 
Kondisi ini, kata Arif, mendorong OJK untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang ekonomi syariah. Sosialisasi juga dimaksudkan agar masyarakat tidak tertipu dalam berinvestasi, terutama syariah. “Banyak masyarakat yang tertipu karena investornya menggunakan embel-embel syariah,” kata Arif Machfoed.
 
Lebih lanjut Arif mengatakan penipuan penanaman modal semakin banyak seiring jumlah investasi yang dikembangkan sejumlah orang. Tahun 2015, ada lebih dari 200 modus investasi. Kemudian tahun 2016, meningkat menjadi 400 modus investasi. 
 
“Sebesar 90 persen modus investasi tidak memiliki izin. Sedang 10 persennya  hanya memiliki izin SIUP dan TDP, tetapi tidak memiliki izin investasi. Sehingga rawan penipuan,” tandas Arif.
 
Hati-hati investasi bodong
Karena itu, Arif berpesan agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap investasi yang ujungnya untuk menipu. Ciri-ciri investasi yang harus diwaspadai adalah imbal hasil tinggi, bebas resiko, bonus besar, kecurangan, janji palsu, dan jaminan investasi. Jumlah kerugian akibat dari investasi bodong seluruh Indonesia sebesar Rp 45 triliun. 
 
Sejak tahun 2015, kata Arif, OJK telah menetapkan road map pasar modal syariah hingga tahun 2019. Arah pertama, penguatan pengaturan atas produk, lembaga profesi terkait Pasar Modal Syariah. Kedua, peningkatan supply dan demand produk Pasar Modal Syariah.
 
Ketiga, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi Pasar Modal Syariah. Keempat, promosi dan edukasi Pasar Modal Syariah. Kelima, koordinasi dengan pemerintah dan regulator untuk menciptakan sinergi kebijakan pengembangan Pasar Modal Syariah. (*)
 
Reporter: Heri Purwata Editor: Ahmad Kholil