Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Sharia insight / Maqashid Syariah dalam Perilaku Ekonomi Muslim  
FOTO I Dok. Sharianews
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat adalah hal yang harus selalu diusahakan oleh seorang Muslim. Hal ini terinterpretasi dari hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra: ‘’Sebaik-sebaik kalian bukanlah yang meninggalkan urusan dunianya untuk akhiratnya, dan bukan pula yang meninggalkan akhiratnya untuk dunia … ”.

Sharianews.com, Hal krusial yang membedakan seorang muslim dengan orang yang tidak memercayai Tuhan adalah keimanan; yakin bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhan, dan percaya bahwa kemaslahatan hanya akan terealisasi dengan mengikuti aturan Tuhan. Hal ini berlaku di semua bidang kehidupan seorang Muslim.

Allah saat menciptakan manusia, tidak membiarkan kita begitu saja berserakan di permukaan bumi tanpa petunjuk. Melalui syariat-syariat yang Ia wahyukan pada rasul-rasulNya, Allah Swt jelaskan dengan gamblang Standard Operating Procedure untuk dapat survive di dunia, termasuk dalam menjalani peran sebagai pelaku ekonomi.

Imam Asy-Syatibi menjelaskan, maksud Allah yang sebenarnya dalam menetapkan sebuah hukum adalah untuk melindungi kemashlahatan manusia itu sendiri; baik yang berkenaan dengan duniawi maupun ukhrawi, maksud Allah ini yang kemudian dikenal dengan terminologi “maqashid syari’ah”.

Isu-isu kegagalan sistem ekonomi kontemporer seharusnya menjadi bahan renungan bagi setiap Muslim, bahwa ada sesuatu yang tidak in line dengan syariat Allah. Dan untuk memperbaiki itu semua, pasti ada sesuatu yang dapat diperbaiki, dimulai dari setiap individu Muslim itu sendiri. Apabila menelaah nash-nash syariat, dapat ditemukan beberapa petunjuk yang dapat dijadikan acuan bagi seorang Muslim dalam berperilaku ekonomi, di antaranya:

Pertama, bahwa keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat adalah hal yang harus selalu diusahakan oleh seorang Muslim. Hal ini terinterpretasi dari hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra: ‘’Sebaik-sebaik kalian bukanlah yang meninggalkan urusan dunianya untuk akhiratnya, dan bukan pula yang meninggalkan akhiratnya untuk dunia … ”.

Nilai keseimbangan ini juga dapat kita ambil melalui doa-doa  yang diajarkan Rasulullah Saw, salah satunya adalah “Ya Allah, perbaikilah urusan duniaku yang di sana aku hidup, dan perbaikilah urusan akhiratku yang ke sanalah aku kembali”.

Kedua, dalam berperilaku ekonomi, hal krusial yang perlu diperhatikan oleh seorang Muslim adalah sumber pendapatannya dan bagaimana cara ia menggunakan hartanya, yang mana kedua hal tersebut harus sesuai dengan apa yang Allah ridai. 

Value ini juga dijelaskan dari sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: “Tidaklah keturunan Adam datang kehadapan Rabbnya azza wa jalla sampai ia ditanya tentang hartanya; dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia gunakan”.

Dalam hadis yang lain dijelaskan juga tentang pentingnya bagi seorang Muslim untuk memastikan bahwa sumber pendapatannya hanya dari yang halal saja: "Barang siapa yang mendapatkan harta yang memang merupakan haknya maka akan diberkahi, dan barang siapa yang mendapatkan harta cara yang bukan haknya, maka perumpamaannya seperti seseorang yang makan, tapi ia tidak kenyang (tidak berkah.pen)”.

Melalui pesan-pesan ini, Rasulullah Saw telah memberikan peringatan kepada setiap Muslim, bahwa betapa pun banyak harta tapi jika didapatkan dengan cara yang bukan haknya, justru tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi pemiliknya, walau secara eksplisit jumlahnya sangat banyak. Karena sebagai seorang Muslim kita percaya akan nilai keberkahan sesuatu jauh lebih penting daripada jumlah benda itu sendiri.

Ketiga, hubungan seorang muslim dengan harta adalah hubungan wasilah atau perantara, yang dengannya seorang Muslim bisa mencapai tujuannya, dalam perspektif Muslim harta bukan sebagai tujuan akhir yang dapat menyibukkannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, bahwa: “Sebaik-baik harta adalah yang ada pada seorang yang sholeh”.

Keempat, seorang Muslim sebagai pelaku ekonomi hendaknya selalu menyadari bahwa harta dalam Islam memiliki fungsi sosial yang harus terus berputar, maka haram bagi seorang Muslim menimbun hartanya. Konsekuensi bagi seorang Muslim yang sengaja menimbun-nimbun hartanya banyak dijelaskan dalam ayat Alquran, diantaranya dalam surat at-Taubah ayat 34 dan 35: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih”.

Dari beberapa poin maqashid syari’ah dalam perilaku ekonomi individu Muslim di atas, dapat kita ambil benang merah bahwa seorang Muslim dalam seluruh aspek kehidupannya tetap harus dalam rangka beribadah kepada Allah; dalam bekerja untuk mendapatkan rezeki halal, dalam menggunakan harta  untuk kebaikan, dan dalam usaha untuk menjaga keseimbangan ekonomi, adalah untuk ibadah kepada Allah.

Jika setiap Muslim memiliki perilaku-perilaku tersebut dalam melakukan aktifitas ekonomi, insyallah akan ada banyak permasalahan ekonomi yang dapat terselesaikan, sebagaimana janji Allah bahwa tidak akan pernah tersesat seseorang yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu’alam bishowab. (*)

*Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

 

Oleh: Qoriatul Hasanah