Selasa, 26 Mei 2020
04 Shawwal 1441 H
Home / Sharia insight / Manusia Pembangunan dalam Islam
Doc Sharianews
Seorang manusia pembangunan dalam Islam memiliki kecerdasan untuk memahami tentang konsep kekayaan yang sejati sepertimana yang ada dalam Islam

Dalam istilah Arab modern pembangunan berasal dari kalimat ‘Tanmiyyah’ yang bermakna pertumbuhan; dan juga ‘Taqaddum’ yang berarti maju ke depan atau kemajuan. Ada juga yang menggunakan kata ‘Tatwir’ yaitu pertumbuhan atau ‘Ibtikar’ yaitu inovasi.

Semua definisi yang ada pada akhirnya akan bermuara kepada siapa yang akan melakukannya? Tentu saja jawabannya adalah manusia itu sendiri. Oleh itu, beberapa isyarat diberikan Al-Quran tentang hubungan yang erat antara manusia dengan pembangunan itu sendiri. Bidang ekonomi misalnya, Al-Quran mengaitkan hubungan yang erat antara sebab penciptaan manusia yaitu untuk beribadah dengan aktivitas ekonomi dalam Surah Az-Zariyat ayat 56-58. Demikian pula hubungan yang erat antara ibadah dan kepemimpinan dalam surah Hud ayat 61.

Sehingga, pembangunan dalam perspektif Islam baik itu ekonomi, sosial, maupun politik tidak dapat memisahkan dari manusia itu sebagai topik utama, sebagai wasilah (perantara), bahkan menjadi syarat utama kesuksesan pembangunan itu sendiri.

Ciri Manusia Pembangunan dalam Al-Quran

  1. Memiliki keinginan yang kuat

Keinginan yang kuat adalah langkah awal untuk berubah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11). Pecahnya telur karena tekanan dari dalam adalah pertanda awal dari kehidupan. Sementara pecahnya telur karena tekanan dari luar adalah awal dari kematian. Pada ayat lain Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Al-Insan: 3). Demikian pula firman Allah SWT: “Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (Al-Kahfi: 29).

Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang merdeka dalam segala tindakannya. Dia bebas melakuan hal yang diinginkannya. Maka keinginan menjadi titik tolak dalam sebuah perubahan. Tentu saja keinginan yang ada dilandasi dengan pengetahuan yang memadai. Pengetahuan tentang diri, alam semesta, dan sang pencipta yang dalam bahasa Al-Quran nya mereka dipanggil dengan istilah ‘Ulul Albab’. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 190-191).

  1. Memiliki keinginan yang benar

Dalam Islam, sebuah amal tidak hanya dipandang dari segi perbuatanya saja tetapi dilihat juga dari niat yang melatarbelakangi perbuatan tersebut. Niat yang baik akan melahirkan perbuatan/amal yang terbaik. Sebaliknya, perbuatan yang lahir dari niat yang buruk hanya akan melahirkan kerusakan di muka bumi. Keinginan yang baik itu tentu saja lahir dari keimanan yang sempurna. Sehingga kita mendapati ayat-ayat yang berbicara soal amal perbuatan senantiasa diawali dengan kesempurnaan iman. Allah SWT berfirman: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 18).

Keimanan kepada Allah SWT adalah modal utama dalam pembangunan yang akan menurunkan keberkahan dari atas langit dan dari bawah bumi. Allah SWT berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).

  1. Memiliki kecerdasan yang komprehensif

Mempunyai keinginan yang kuat saja tanpa diikuti dengan pemahaman yang benar hanya akan menghasilkan amal yang buruk. Kecerdasan perilaku dan tindakan dalam mengambil keputusan. Salahsatu tanda kecerdasan dalam perilaku ekonomi baik itu dalam hal konsumsi maupun lainnya sepertimana firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’: 29).

Demikian pula dengan kecerdasan finansial Nabi Yusuf AS melalui anjuran untuk meningkatkan produktifitas, sekaligus menyimpan dan menyedikitkan konsumsi untuk persiapan waktu mendatang (Surat Yusuf ayat 47-49).

Kecerdasan finansial tersebut juga diikuti dengan kecerdasan akhlak. Allah SWT berfirman dalam kisah Nabi Syu’aib AS: “… Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)" (Hud: 84).

Terakhir, seorang manusia pembangunan dalam Islam memiliki kecerdasan untuk memahami tentang konsep kekayaan yang sejati sepertimana yang disampaikan Allah SWT, “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 272).

Wallahu a’lam bi assawab

 

 

Oleh : Salahuddin El Ayyubi