Rabu, 28 Juli 2021
19 Thu al-Hijjah 1442 H
Home / Sharia insight / Manfaat Usia dan Instrumen Sustainability
Terdapat tiga investasi yang dapat kita persiapkan secara matang untuk mengejar sisa manfaat hidup kita yang mungkin dirasakan masih sangat kurang dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan, tiga instrumen investasi tersebut adalah yang saling melengkapi agar mencapai sustainability (keberlanjutan).

Sharianews.com, Bank Dunia mengungkapkan life expectancy Indonesia mencapai usia 71,51 tahun (2018), meningkat dari 71,28 tahun pada 2017. Angka ini jika dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Kazakhstan 73 tahun, Malaysia dan Maroko 76 tahun, serta Filipina 71 tahun tidak berbeda jauh karena rata-rata life expectancy negara-negara middle income 72 tahun, dan rata-rata dunia 71 tahun.

Dapat dikatakan, jika saat ini kita berusia 36 tahun, maka kita sudah melalui setengah usia hidup rata-rata manusia. Dan jika saat ini kita berusia 48 tahun, maka sisa usia kita tinggal 30% lagi, kurang dari setengahnya. Apa yang sudah kita persiapkan untuk kehidupan di akhirat kelak? Rasanya masih sangat kurang kebaikan yang sudah dikumpulkan saat ini, dan bahkan mungkin masih kurang untuk dipenuhi di sisa usia kita.

Terdapat tiga investasi yang dapat kita persiapkan secara matang untuk mengejar sisa manfaat hidup kita yang mungkin dirasakan masih sangat kurang dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan. Sesuai dengan hadits riwayat Muslim “Apabila manusia meniggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan”, tiga instrumen investasi yang saling melengkapi agar mencapai sustainability (keberlanjutan).

Pertama, instrumen fisik yang mampu memberikan manfaat keberlanjutan difasilitasi oleh sedekah jariyah. Bagaimana sedekah jariyah dapat memfasilitasi manfaat keberlanjutan? Melalui wakaf untuk pembangunan berbagai infrastruktur kebutuhan umum seperti jalan raya, infrastruktur kereta api, infrastruktur transportasi publik, perumahan rakyat, rumah sakit, dan sekolah, sehingga tidak perlu berutang untuk membangun infrastruktur.

Wakaf bukan hanya untuk kuburan, masjid dan pesantren, melainkan asset yang dibangun dengan dana wakaf dapat diproduktifkan agar dapat membiayai operasional sehingga dapat beroperasi dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Sebagai contoh, wakaf untuk membangun muslim friendly hotel, atau sarana pariwisata yang ramah bagi muslim, sehingga pengelola hotel atau sarana pariwisata tinggal berfokus bagaimana mengembangkan usaha agar sustainable. Demikian pula dengan membangun pasar melalui pembangunan kios-kios yang disewakan dengan harga yang sangat affordable bagi UMKM. Pembangunan sarana dan prasarana olahraga umum, bahkan dapat dibuat terpisah bagi laki-laki dan perempuan.

Wakaf juga dapat diproduktifkan melalui usaha pertanian secara luas. Lahan wakaf saat ini mencapai 52.819,40 Ha dengan 60,32 persen sudah tersertifikasi yang tersebar di 395.206 lokasi. 72,55 persen dari tanah wakaf yang digunakan adalah untuk masjid dan musholla (siwak.kemenag.go.id). Jika lahan ini diproduktifkan menjadi lahan pertanian, perkebunan, infrastruktur peternakan, perikanan, bahkan hutan, maka kebermanfaatannya akan sangat besar. Lahan-lahan tersebut dapat disewakan atau dibagihasilkan dengan harga dan nisbah yang sangat terjangkau serta affordable bagi para petani, peternak, serta petambak dan nelayan. Ditambah dengan hutan wakaf yang mampu memberikan manfaat pada jangka yang sangat panjang bagi kelestarian alam, penyediaan sumber air, purifikasi udara, kelestarian ekosistem serta masih banyak lagi yang lainnya sebagaimana pernah disampaikan dalam rubrik Sharia Insight pada sharianews.com tahun 2019 oleh Khalifah Muhammad Ali. MasyaAllah.

Kedua, instrumen intelektual berkelanjutan yang dapat difasilitasi melalui ilmu yang bermanfaat. Ilmu dapat diperoleh melalui 1) potensi indera manusia yang terdiri dari indera penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan kulit; 2) critical thinking melalui tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta; serta 3) revelation (wahyu) ataupun ilham yang Allah sampaikan. Ilmu bukan hanya sesuatu yang menghasilkan hardskill namun juga softskill.

Transfer nilai-nilai kehidupan juga merupakan ilmu. Termasuk, ketika mencontohkan adab bersikap kepada yang lebih tua, disiplin tertib dalam antrian, membuang sampah pada tempat sampah dengan baik dan benar sehingga mampu menciptakan lingkungan yang tidak hanya bersih namun juga nyaman dan indah secara estetika. Gang sempit pun bisa menjadi indah ketika bersih. Rumah di pinggir sungai pun menjadi indah ketika bersih.

Transfer ilmu nilai kehidupan seperti ini sangat diperlukan, selain ilmu sains dan teknologi, juga ada humaniora. Sehingga, secara muamalah, generasi saat ini dan mendatang pun akan terdidik, bagaimana bermuamalah dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam, termasuk ketika bermuamalah maaliyah (muamalah di bidang ekonomi dan keuangan). Nilai-nilai Islam bukan khusus untuk orang Islam melainkan untuk seluruh manusia karena sesuai fitrah manusia, as human beings.

Ketiga, instrumen spiritual yang berkelanjutan yang difasilitasi melalui anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya. Sholih tidak hanya untuk diri sendiri melainkan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar terutama orangtua. Kesholihan yang dimulai dengan kedekatan kepada Allah, bagaimana hubungan dengan Allah, Tuhan sang Pencipta, habluminAllah. Instrumen spiritual sangat bergantung infrastruktur spiritual, dan infrastruktur spiritual sangat bergantung pada sustainability spiritual para guru dan orangtua yang mendidik anak-anak generasi selanjutnya. Anak-anak mencontoh panutan mereka mulai dari orang-orang terdekat. Bagaimana infrastruktur spiritual ini dibangun dan dibina pada lingkungan terdekat tentu akan menjadi investasi yang bernilai tak hingga karena akan dapat dibawa meski sudah meninggalkan dunia.

Ketiga instrumen investasi dari manfaat sisa usia kita di dunia sudah harus kita tanam sebanyak-banyaknya, agar hasilnya dapat kita petik di kehidupan kelak. Mengingat lifespan kehidupan di dunia kita sangat pendek dan bahkan kita mungkin sudah melalui setengahnya atau malah tinggal sepertiga dari perkiraan usia rata-rata dunia, jadi perlu segera dan sekarang juga untuk berinvestasi melalui instrumen-instrumen yang sustainable di atas. Selamat berinvestasi!

Oleh: Laily Dwi Arsyianti

Tags: