Minggu, 27 September 2020
10 Ṣafar 1442 H
Home / Lifestyle / Mana Lebih Bahaya, Pornografi atau Narkoba? Begini Penjelasan Intan Erlita
Intan Erlita Novianti (Dok/Foto Sharianews)
Sekarang mungkin hampir semua memiliki gadget dan dapat mengakses internet dengan mudahnya.

Sharianews.com, Kasus Kejahatan bisa terjadi di manapun. Bahkan terjadi di ruang lingkup keluarga sendiri. Seperti sebuah kasus yang terjadi di Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Dimana seorang anak perempuan penyandang disabilitas (18) diperkosa oleh Ayah kandungnya JM (44), kakak SA (23) dan adiknya TG (15) secara bergiliran.

Setelah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, alasan kedua anak laki-laki tersebut memerkosa saudara perempuannya lantaran kecanduan pornografi. Sedangkan sang ayah yang konon isterinya telah meninggal dunia, melakukan perbuatan keji tersebut karena memanfaatkan ketidakberdayaan anaknya yang memiliki keterbelakangan mental.

Dari peristiwa tersebut dapat dilihat bahwa efek pornografi jauh lebih bahaya ketimbang narkoba. Apabila narkoba sudah menjadi perhatian khusus di tengah masyarakat, ditandai dengan adanya Badan Narkotika Nasional (BNN) yang khusus menangani narkoba. Tetapi tidak untuk pornografi.

Demikian pandangan dari kacamata seorang psikolog, Intan Erlita kepada sharianews.com, Rabu (6/3). Menurut Intan, dengan akses pornografi yang jauh lebih mudah ketimbang obat-obat terlarang, sudah semestinya memperbanyak lembaga yang menangani berupa tempat rehabilitasi disamping upaya pencegahan.

“Sekarang mungkin hampir semua memiliki gadget dan dapat mengakses internet dengan mudahnya. Nah ini (pemerkosaan atau kejahatan seksual) adalah sisi negatif dari kemudahan mengakses sesuatu di dunia digital. Karena ada orang yang pada akhirnya dia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak boleh dilihat,” imbuh Intan.

Intan menjelaskan, pada awalnya mungkin ketika seseorang pertama kali menyaksikan tayangan porno, ia akan merasa kaget. Sehingga tayangan tersebut akan terekam dalam otaknya dan menimbulkan rasa penasaran.

“Ketika rasa penasaran itu sudah muncul dan muncul rasa ingin melihat lagi, melihat lagi sampai ada satu titik di mana ia menikmati hal itu,” lanjut presenter televisi Indonesia ini.

Bersamaan dengan fase menikmati, lanjutnya, maka akan ada efek yang ditimbulkan. Dimana efek tersebut berupa keinginan untuk melakukan persis seperti yang dilihatnya.

“Kalo dulu dia awal-awal hanya berani nonton sendiri seperti masturbasi dan sebagainya, tetapi lama tingkat keinginan dia, tingkat kepuasan dia akan meningkat levelnya, ia tak mau masturbasi lagi dan akhirnya ia mencari pasangan,” pungkas Intan

Lebih lanjut, ia mengasumsikan efek pornografi ini dengan narkoba. Apabila seseorang sudah merasa sakau akibat narkoba maka apapun akan dilakukan untuk menghilangkannya. Begitulah yang menurutnya terjadi pada kasus AG yang baru terungkap beberapa waktu lalu. Sehingga yang terjadi pada otak pelaku tidak lagi dapat membedakan yang benar maupun salah.

Dengan kejadian seperti itu, menurut Intan, dapat dipastikan kondisi korban menjadi sangat tertekan dan mengalami trauma pada psikis nya. Oleh karenanya harus seorang ahli yang dapat membantu korban untuk memulihkan. Selain itu pelakupun juga membutuhkan treat agar tidak mengulangi lagi.

“Karena dia (pelaku) belum tentu bisa mengkontrol hawa nafsu seksualnya. Mungkin sekarang bisa tertahan karena takut di polisi karena dia tengah dipenjara. Tapi ketika dia udah keluar penjara gak ada yang bisa menjamin bahwa hawa nafsunya yang sudah aneh dan nyeleneh ini bisa turun dan mungkin bisa cari korban lainnya. Jadi ini adalah kasus yang sangat miris efek negatif dari pornografi,” ungkap psikolog kelahiran 23 November 1980.

 

Reporter: Fathia Editor: Munir