Selasa, 21 Mei 2019
17 Ramadan 1440 H
Home / Global / Malaysia dan Inggris Merajai Fintek Syariah Global
FOTO | Dok. istimewa
Ramainya penggunaan fintek syariah di beberapa negara, diprediksi dapat membantu menarik 150 juta nasabah perbankan syariah baru dalam tiga tahun ke depan.

Sharianews.com, Jakarta ~ Menurut laporan Bloomberg Intelligence baru-baru ini, Malaysia dan Inggris memimpin persaingan dalam besaran perkembangan perusahaan rintisan (startup) finansial teknologi (fintek) syariah global dengan masing-masing menduduki peringkat pertama dan kedua.

Meski begitu, posisi keduanya kini tengah terancam, karena mendapat rivalitas sengit dari Indonesia dan Timur Tengah.

Senada dengan Bloomberg Intelligence, hasil penelitian firma jasa multinasional yang berbasis di London, Ernst & Young menunjukkan bahwa ramainya penggunaan fintek syariah di beberapa negara tersebut diprediksi dapat membantu menarik 150 juta nasabah perbankan syariah baru dalam tiga tahun ke depan.

Lebih lanjut, data Pew Research Center memperlihatkan angka perkiraan tersebut diklaim akan terus meningkat, seiring dengan cepatnya laju pertambahan jumlah penduduk Muslim dunia.

Kukuhkan posisi lewat program mutakhir

Untuk mengukuhkan posisinya sebagai yang terdepan dalam persaingan keuangan syariah digital global, Inggris kemudian membuat program-program mutakhir, seperti investasi properti dengan sistem urun dana secara daring (online) atau crowdfunding dengan platform Yielders.

Selain itu, negeri The Black Country ini juga menciptakan strategi unggulan fintek Islam lainnya berupa Tribune Insure Halal, yakni asuransi syariah dengan perjanjian dan pembayaran premi yang kembali diaplikasikan dalam jaringan internet.

Melalui sistem yang sama pula, perusahaan jasa dagang ETHOS Asset Facilitation Platform yang dioperasikan atas dukungan pemerintah Inggris ini, bahkan telah meraih penghargaan karena dinilai turut berkontribusi dalam perluasan inklusi keuangan syariah di wilayah Britania Raya.

Di pihak lain, melihat besarnya pertumbuhan keuangan digital di Inggris, Rosette Merchant Bank berencana meluncurkan platform advisor-robo investasi syariah yang sebelumnya mendulang sukses di Amerika Serikat (AS). 

Rancananya, bank swasta yang berkantor di London ini, akan bekerjasama dengan perusahaan pemilik program di AS, Wahed Invest, melalui skema modal ventura.

Sementara itu, agar ekspansi fintek syariah lebih luas lagi serta untuk menanggulangi berbagai kelemahan seperti kurangnya penetrasi oleh bank-bank Islam Inggris, pemangku kebijakan setempat selanjutnya mengumpulkan sekelompok ahli, The UK Islamic Fintech Panel, yang ditugasi khusus mengurusi isu-isu terkait keuangan digital.

Meski terbilang berhasil dalam program-programnya, tapi masih ada berbagai tantangan yang belum teratasi hingga saat ini. Misalnya, Ketua The UK Islamic Fintech Panel, Harris Irfan menjelaskan, bank syariah di negaranya belum menyadari potensi teknologi dibandingkan dengan bank konvensional.

Kendala lainnya, menurut pengalaman pribadi Kepaka Eksekutif MyFinB, firma fintek syariah Malaysia, Nazri Muhd ​​menyimpulkan, tengah menyebarnya persepsi Islamofobia menjadi salah satu alasan mengapa keuangan syariah secara umum masih terhambat di Inggris.

Timur Tengah siap salip Malaysia dan Inggris

Sebagai pesaing utama Malaysia dan Inggris, negara-negara di semenanjung Timur Tengah juga sedang terus-menerus mencari cara dan meningkatkan sistem untuk perkembangan dan pengembangan supaya mampu menyalip posisi Malaysia dan Inggris menjadi pusat fintek syariah dunia.

Untuk itu, di awal tahun ini, pemerintah Bahrain telah menyalurkan bantuan dana untuk lima tahun ke depan melalui beberapa banknya dengan tujuan menyediakan pembiayaan pada15 perusahaan rintisan fintek syariah. Setahun sebelumnya, lewat The Dubai International Finance Centre (DIFC), otoritas Uni Emirat Arab pun meluncurkan platform FinTech Hive untuk tujuan serupa.

Selain itu, Wakil Presiden Eksekutif Fintech Hive, Raja Al Mazrouei mengatakan, pihaknya dan lembaga keuangan regional sudah menawarkan kerjasama kepada para pengusaha teknologi terkemuka dunia, termasuk Inggris, untuk mengembangkan, menguji dan memodifikasi inovasi keuangan digital.

“(Upaya) ini adalah bagian utama dari visi Dubai untuk menjadi pusat fintek syariah global. Karena Dubai dan London memiliki tujuan yang sama, alangkah baiknya jika ada kolaborasi antara keduanya. Sehingga kerjasama ini diharapkan nantinya menciptakan peluang yang lebih besar,” lanjut Al Mazrouei sebagaimana dinukil dari Raconteur, media daring dengan cakupan berita investigasi bisnis berbasis di London.

Tak mau ketinggalan, Abu Dhabi dan Bahrain berkolaborasi dalam mempromosikan fintek syariah dan bersama-sama mengembangkan peranti mekanisme pengamanan kode jaringan teknologi (sandbox) dalam sistem rencana keuangan digitalnya. (*)

Reporter: Emha S. Asror Editor: Ahmad Kholil