Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Makanan Halal Jadi Unggulan di Peta Jalan Ekonomi syariah
FOTO I Dok. Superfood Asia
Sektor makanan ini menjadi unggulan dan akan dikembangkan lebih dahulu. Jika digarap serius, Indonesia akan menjadi pemain utama “Mungkin jadi dapur halal seluruh dunia,” imbuh Cholifihani.

Sharianews.com, Jakarta ~ Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) belum lama ini menunjuk Ventje Raharjo sebagai Direktur Eksekutif KNKS. Akhir tahun ini direncanakan ada lima direksi lagi yang akan dibentuk. Dengan lengkapnya jajaran direksi diharapakan Januari 2019 KNKS sudah mulai ‘tancap gas’.

Kepala Sekretariat Satker Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Muhammad Cholifihani mengatakan sedang mengerjakan peta jalan ekonmi syariah. Saat ini draftnya sudah selesai, awal tahun depan rencananya peta jalan tersebut sudah bisa dijalankan oleh KNKS. Salah satu sektor yang diunggulkan adalah makanan halal.

Dengan adanya peta jalan ekonomi syariah tersebut, akan menjadi pelengkap peta jalan sebelumnya, yaitu keuangan syariah. Sektor ini akan bergerak dengan baik dan akan menjadikan Indonesia sebagai pemain ekonomi dan keuangan syariah di dunia.

Manajemen dan Sekeretariat KNKS akan bersinergi untuk “tancap gas” menjalankan peta jalan itu. Selama manajemen KNKS belum terbentuk, sekretariat KNKS yang mulai inisasi, seperti sensus tanah wakaf, dan juga bekerjasama dengan para stakeholder terkait peta jalan.

“Kita mau menjadikan Indonesia pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Kita akan coba mulai tancap gas tahun depan, tapi kita tidak mungkin dong mau unggul di segala bidang, seperti keuangan, farmasi, mode, makanan, sehingga kita perlu untuk konsentrasi di satu sektor dulu, yakni makanan halal,” jelas Cholifihani, saat ditemui Sharianews.com, di Jakarta.

Sektor makanan ini menjadi unggulan dan akan dikembangkan lebih dahulu. Jika digarap serius, Indonesia akan menjadi pemain utama “Mungkin jadi dapur halal seluruh dunia,” imbuh Cholifihani.

Selama ini data menunjukan Indonesia sebagai konsumen, belum jadi pemain, malah menjadi pasar dalam dan luar negeri. Contohnya di Jepang, masyarakat Indonesia banyak yang ke sana, menikmati makanan halal dan berbagai produknya. Artinya, secara devisa masyarakat  mengeluarkan rupiah, devisa dibawa ke Jepang.

Saat ini, hal tersebut ingin dibalik. Bila sektor halal semakin kuat, tentu industri makanan halal juga semakin meningkat. Indonesia akan jadi pemasok makanan halal. Harapannya, wisatawan muslim yang bepergian ke Jepang bisa masuk ke Indonesia. Dengan begitu, devisa akan naik dan mengurangi defisit current account.(*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo