Jumat, 22 Januari 2021
09 Jumada al-akhirah 1442 H
Home / Global / Mahendra Rianto : Negara Non-Muslim Lebih Peduli Produk Halal
-
Negara non-muslim karena orientasi mereka bisnis, bagaimana agar produknya laku di negara berpenduduk mayoritas muslim, maka mereka pun memenuhi stadar kehalalan suatu produk yang diminta oleh negara mayoritas muslim.

Negara non-muslim karena orientasi mereka bisnis, bagaimana agar produknya laku di negara berpenduduk mayoritas muslim, maka mereka pun memenuhi stadar kehalalan suatu produk yang diminta oleh negara mayoritas muslim.

Sharianews.com, Jakarta. Produk makanan halal semakin diminati dunia. Thomson Reuters (2015) memperkirakan pada 2019 pasar makanan halal mampu mencapai USD 2,537 miliar atau 21 persen dari pengeluaran global.

Terkait data tersebut, Vice Chairman Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan dunia kini memang semakin peduli terhadap makanan halal, terutama negara yang mayoritas penduduknya non muslim, mereka memperhatikan rantai pasok halal atau halal supply chain dengan baik.

Mahendra Rianto,  Vice Chairman ALI

 

“Negara-negara maju seperti Jepang menyediakan makanan halal. Tidak cuma itu, wisata halal juga digalakkan untuk wisatawan muslim yang datang ke negaranya,” jelas Mahendra, di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Ia menambahkan, begitu juga dengan Korea Selatan, Thailand dan Singapura. Terutama Thailand sekarang sedang mengkampanyekan label halalnya.“Mereka itu lebih concern, itu fenomena yang menarik, negara muslim malah tidak concern ke arah situ,”katanya mengungkapkan. 

“Bagi mereka negara yang benar-benar memperhatikan kehalalan produk seperti Timur Tengah itu target market mereka untuk masuk. Bagaimana, mereka menjual ke negara tujuan market itu secara periodik, dengan kualitas yang tinggi termasuk kehalalannya.”

Bedan negera non-muslim dan Indonesia

Mahendera berpendapat, negara-negara non-muslim seperti Australia justru memperhatikan aspirasi konsumsi halal di dalam negerinya. Masyarakat muslim di negeri Kanguru, contohnya, mereka memiliki kepedulian yang tinggi dan aktif menuntut ketersediaan produk halal. Mereka sangat memperhatikan halal supply chain dari produk makanan dan minuman yang dimakan, hingga akhirnya pemerintahnya membuatkan aturan atau regulasi.

Sementara, Indonesia sendiri masyarakatnya masih kurang peduli terhadap produk halal. Bahkan bila dibandingkan dengan negara lain yang berjualan makanan halal di Indonesia, mereka sangat perhatian terhadap kehalalan dari proses sampai siap saji.

“Orang yang mau berjualan di Indonesia, lebih concern dari pada orang Indonesia yang makan. Kita mengonsumsi makanan, apakah halal apa tidak, tidak terlalu menuntut,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini bisa menunjukkan dua hal. Pertama, masyarakatnya memang tidak tahu atau kedua, masyarakatnya yang cuek. “Yang tidak tahu bisa kita kasih tahu, baru ada tuntutan. Yang bahaya, itu kalau ternyata cuek,”kata Mahendra.

Cara menyimpan makanan halal

Menurut amatannya, masyarakat Indonesia umumnya yang terpenting fisiknya, bukan bahan yang haram. Namun dari segi proses kurang diperhatikan.

“Bila ingin terstruktur, untuk daging misalnya, perhatikan sejak hewan itu hidup, sampai semi finish good, yaitu yang dilemari es berbentuk daging. Kemudian sampai finish good, sampai di atas meja,“ paparnya.

Lebih lanjut, ujarnya, jika ingin mendapatkan produk halal secara menyeluruh- secara kafah, ia menyarankan untuk juga mengecek setiap tempat makanan, apakah menggunakan bahan yang halal atau tidak. Termasuk cara menyimpannya, apakah disimpan terpisah dengan produk lain yang non-halal atau dicampur penyimpanannya.

Hal ini, ujarnya juga berlaku bagi perusahaan-perusahaan logistis. Meskipun misalnya, menyalurkan barang lain atau sejenisnya, tetapi juga harus memperhatikan prosedur kehalalan dengan cara  yang baik.

“Dengan begitu idealnya harus ada orang yang mengerti halal, saat proses logistik berlangsung, karena dia mesti ikut mengontrol. Artinya di sisi logistik pun mesti harus ada SDM yang ahli di bidang makanan halal,”pungkasnya.

Negara muslim hanya sebagai tujuan pasar  

Terkait dengan jaminan logistik yang halal ini, Nofrisel, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), mengatakan negara non-muslim karena orientasi mereka adalah industi, bagaimana agar produknya laku, terutama jika dipasarkan di negara berpenduduk mayoritas muslim, maka mau tidak mau, mereka pun memenuhi standar kehalalan suatu produk di negara mayoritas muslim.

“Tentunya untuk meyakinkan konsumen negara muslim itu sebagai pasar produk mereka bahwa bila memakai produk mereka bukan hanya bersih, bukan hanya murah, tetapi juga halal,” katanya.

Sementara terkait dengan lambatnya masyarakat ini memiliki kepedulian terhadap sertifikasi halal, Nofrisel mengatakan, salah satunya karena sebagian masyarakat, menganggap halal itu masih menjadi terminologi yang intoleran.

Hal lainnya ada juga anggapan yang mengatakana, karena mayoritas, secara kultur-budaya masyarakat muslim sudah dianggap paham terkait dengan kehalalan suatu produk yang akan dikonsumsi, sehingga tata cara mengolah dan memasak sudah otomatis dianggap halal. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, di Indonesia belum ada yang benar-benar mengawasi proses kehalalan. Proses pengirmannya bagaimana, di dalam muatannya seperti apa, sampai disajikan bagaimana, siapa yang mengontrol dan menjamin. “Padahal tuntutan sertifikasi halal ini penting, sebab merupakan kewajiban agama,”kata Nofrisel.

Karenanya ke depan, orang-orang yang mengerti agama, mengerti halal atau tidak suatu makanan, mestilah berkerja di perusahaan logistik untuk mengontrol dan mengawasi. “Seperti dokter yang bekerja pada perusahaan logistik yang menyuplai peralatan rumah sakit sesuai yang dibutuhkan," ujarnya.   

Terlepas, dari hal itu semua, Indoensia sebagai negara terbesar ke empat di dunia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, jelas memiliki peluang untuk menjadi pemain utama di industri halal dunia. (*)

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil