Rabu, 28 Juli 2021
19 Thu al-Hijjah 1442 H
Home / Sharia insight / Mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah Siap Mengikuti Jejak Nabi Muhammad dan Para Sahabat Menjadi Pebisnis Unggul
Ada kemungkinan bahwa salah satu penyebab belum maksimalnya potensi ekonomi syariah yang melimpah di tanah air adalah belum tajamnya pemahaman umat Islam terhadap pesan Rasulullah SAW yang berkaitan dengan pasar yang ada dalam hadist-hadist beliau

Sharianews.com, Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia nampaknya masih belum menjadi pemain utama dalam kontestasi industri halal global. Hal ini dapat tercermin dari peringkat Indonesia pada Global Islamic Economy Indicator Score tahun 2020 dimana Indonesia berada di peringkat ke-4 sebagai negara yang memiliki kapasitas untuk menangkap peluang ekonomi syariah global. Peringkat ini sebenarnya telah membaik jika dibandingkan dengan dua tahun lalu dimana Indonesia masih berada di peringkat ke-10. Tentunya perjuangan harus terus ditingkatkan.

Ada kemungkinan bahwa salah satu penyebab belum maksimalnya potensi ekonomi syariah yang melimpah di tanah air adalah belum tajamnya pemahaman umat Islam terhadap pesan Rasulullah SAW yang berkaitan dengan pasar berikut ini:

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya” (HR Muslim).

Hadits di atas jika dipahami secara tekstual menggambarkan terkait kemuliaan masjid dan keburukan pasar. Sehingga banyak kaum muslimin yang berkesimpulan dan memilih sikap untuk menjauhi pasar, tidak terlibat kegiatan Ekonomi dan Bisnis apalagi berfikir dan terlibat penguasaan pasar. Terlebih ketika membaca  Firman Alloh SWT dalam QS Al Mutoffifin dimana curang dan mengurangi timbangan yang di ancam sebagai kegiatan yang biasa terjadi di Pasar.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam” (QS. al-Muthaffifîn (83):1-6).

Akibat pemahaman sebagian masyarakat mengenai hakikat pasar  seperti ini, kemudian menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi umat Islam dan memilih untuk menghindari atau tidak ikut dalam mengambil peran di pasar. Sehingga kaum muslimin yang mayoritas ini justru tidak dapat menguasai dan menggerakan pasar. Dalam kacamata yang lebih besar, dapat dilihat bahwa umat Islam belum mampu menguasai keseluruhan rantai produksi. Lebih jauh, hal inilah yang kemudian mengakibatkan masih adanya ketimpangan ekonomi di negri tercinta.

Padahal Hadist dan ayat Alquran di atas justru memesankan bahwa pasar sebagai  sumber perekonomian bagi umat manusia harus di kelola dan di tata oleh orang orang yang bertakwa, dengan kehadiran agama dan nilai nilai kebajikan serta orang orang sholih yang memiliki prinsip bahwa kegiatan pasar adalah bagian dari Ibadah dan bagian penting Agama ini, untuk menghadirkan kesejahteraan yang beradab bagi seluruh umat manusia.

Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

"Abu Bakar di surga, Umar di surga, Usman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa'ad di surga, Sa'id di surga, Abu Ubaidah bin Jarrah di surga" (HR. At-Tirmidzi).

Dari hadits ini dapat diketahui bahwa ternyata sembilan dari sepuluh sahabat Nabi yang sudah dijamin masuk surga itu merupakan orang-orang kaya. Kekayaan mereka tentu dapat dilihat dan diketahui dari banyaknya jumlah sedekah mereka, serta dapat diketahui juga bahwa kekayaan tersebut didapatkan dari hasil perdagangan atau perniagaan di pasar. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pasar bukanlah musuh dari sahabat dan umat Islam, justru dengan perniagaan yang sesuai prinsip ekonomi syariah dapat membawa pelakunya tersebut ke surga.

Rasulullah sebelum menjadi Nabi juga merupakan seorang pedagang yang sukses. Dalam menggeluti profesinya sebagai pedagang, Rasulullah tidak sekedar mencari nafkah yang halal guna memenuhi biaya hidup, tetapi juga untuk membangun reputasinya. Sehingga, Rasulullah dikenal sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur. Rasullah memperoleh banyak kesempatan berdagang dengan modal orang lain, termasuk di antaranya dari seorang pengusaha kaya raya yaitu Khadijah yang kemudian menjadi istrinya.

Sudah seharusnya seorang muslim mengikuti jejak Nabi Muhammad dan para sahabat menjadi seorang pedagang. Bukan hanya pedagang yang biasa, namun pedagang sukses yang membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Seperti dikisahkan dalam cerita sahabat, bahwa Abdurrahman bin Auf ketika hijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan adalah mencari pasar. Kemudian Abdurrahman bin Auf membangun pasar umat muslim yang dalam kurun waktu 3 bulan menjadi pasar terbesar di Madinah saat itu.

Dalam memulai menjalani bisnis atau berniaga, tentu dibutuhkan berbagai cabang ilmu, diantaranya ilmu ekonomi dan ilmu agama yang mencukupi. Salah satu segmentasi masyarakat muslim yang menekuni keilmuan tersbut adalah mahasiswa ekonomi syariah. Mahasiswa ekonomi syariah merupakan segmentasi potensial untuk menjadi pengusaha unggulan. Pembelajaran yang didapat dalam bangku kuliah akan menjadi bekal yang bagus dalam membangun lingkungan bisnis. Pengetahuan mengenai pembiayaan usaha yang baik dan sesuai prinsip syariah, ilmu manajemen dan pengelolaan keuangan syariah yang ramah dengan umat, pemlihan produk yang halal dan thoyib untuk masyarakat, serta prinsip muamalah yang baik dengan menerapkan pemasaran yang tidak menipu, tidak curang, dan gharar. Ilmu yang dipelajari akan membentuk karakter yang baik dalam berbisnis, serta wawasan yang luas mengenai bagaimana pergerakan ekonomi berjalan. Sehingga hal tersebut menjadikannya sebagai calon pengusaha yang berjiwa sociopreneur.

Potensi yang ada tersebut perlu didukung sejak berada di bangku perkuliahan. Selain mereka berpeluang mendapat dana hibah, dana program kewirausahaan kampus, atau dana kompetisi, masa kuliah bisa menjadi momen yang menguntungkan juga bagi mereka dari segi dukungan kampus maupun lembaga keuangan. Kampus dapat menjadi inkubator yang bagus bagi mahasiswa untuk membangun usaha. Perguruan tinggi memiliki banyak hal yang dapat mendukung mahasiswanya untuk berbisnis, seperti kalangan akademisi atau alumni yang berpengalaman dapat menjadi mentor, akses jaringan kerja sama berbagai lembaga yang dimiliki kampus, serta teknologi laboratorium yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produk usaha mahasiswa. Sehingga dukungan yang diberikan kampus dalam inkubasi bisnis mahasiswa ekonomi syariah dapat menghasilkan lulusan technosociopreneur.

Pelaksanaan inkubasi bisnis tersebut juga perlu didukung dari lembaga keuangan syariah. Meskipun segmen mahasiswa sering dianggap unbankable, namun dengan adanya program pendampingan dan pembinaan dari kampus, usaha mahasiswa tersebut dapat dianggap feasible. Maka dari itu, pihak kampus terlebih dahulu akan menyeleksi kelayakan usaha yang dimiliki mahasiswa. Setelah terpilih, usaha tersebut akan dibina oleh praktisi selama sekitar dua semester. Hal ini bisa menjadi jaminan kepada lembaga keuangan syariah dalam memberikan pembiayaan usaha kepada mahasiswa. Di sisi lain, pihak lembaga keuangan juga bisa mendapat nasabah baru yang potensial dan menjanjikan. Sehingga dari pembiayaan usaha tersebut, profit yang didapat dari bagi hasil juga menjadi sebuah keuntungan yang bagus bagi lembaga keuangan syariah.Wallohu a’lam

Oleh: Asep Nurhalim, Muhammad Farhan Muzakki, Raul Ranatama

Tags: