Rabu, 1 Februari 2023
11 Rajab 1444 H
Home / Lifestyle / Madu Bisa Masuk Kategori Titik Kritis Kehalalan ? Ini Penjelasan LPPOM MUI
Foto dok. Pexels
Karena terkenal akan khasiatnya dalam tubuh, saat bulan puasa sepeti ini, tidak heran madu menjadi makanan yang harus dikonsumsi. Tapi bagaimana tentang kehalalan madu tersebut ? Apa benar madu bebas dari zat haram ?

Sharianews.com, Madu terkenal akan kesehatannya, rasanya pun manis. Tidak heran jika madu menjadi makanan yang nikmat. Madu bisa dikonsumsi langsung atau menjadi campuran makanan.

Karena terkenal akan khasiatnya dalam tubuh, saat bulan puasa sepeti ini, tidak heran madu menjadi makanan yang harus dikonsumsi. Tapi bagaimana tentang kehalalan madu tersebut ? Apa benar madu bebas dari zat haram ?

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) telah menyatakan madu murni termasuk dalam daftar “Bahan Tidak Kritis”. Hal ini disebutkan dalam Surat Keputusan LPPOM MUI nomor SK15/DIR/LPPOM MUI/XI/19. Artinya, madu sudah dikatakan aman dan halal dikonsumsi, tanpa harus melalui serangkaian proses sertifikasi halal.

Tapi, bisa lain cerita jika madu sudah dicampurkan dengan bahan lain seperti misalnya perisa tertentu. Produk madu berperisa (umumnya perisa buah) dapat ditemui dengan mudah di pasaran dan jenis madu seperti ini bisa jadi mengandung titik kritis dari segi kehalalan.

Auditor Halal LPPOM MUI Nancy Dewi Yuliana mengatakan ada dua jenis perisa, yakni perisa alami dan artifisial. Perisa buah alami umumnya berasal dari bahan nabati, seperti kulit jeruk atau orange's peel.

Pengolahan dilakukan secara fisik, misalnya melalui pengepresan tanpa penambahan bahan lain. Melihat dari bahan dan prosesnya, maka bisa dikatakan perisa alami yang diolah seperti ini termasuk bahan tidak kritis.

“Sedangkan perisa sintetik lebih kompleks dan dari segi kehalalan pun bisa termasuk kategori bahan kritis. Meski dari nama tampaknya aman, karena flavour buah, namun terkadang ditemui juga bahan penyusun flavour buah sintetik yang merupakan turunan lemak,” jelas Dosen Ilmu Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor ini.

Turunan lemak inilah yang harus ditelusuri asalnya. Apabila lemak berasal dari hewan haram, seperti babi, maka sudah dapat dipastikan haram. Namun, apabila lemak berasal dari hewan halal, maka harus dipastikan cara penyembelihan sesuai dengan syariah Islam.

Melansir laman LPPOM MUI, ia menjekaslan hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah madu oplosan atau palsu. Tak dapat dimungkiri, saat ini banyak penjual nakal di pasaran. Hal ini memaksa kita untuk lebih berhati-hati dengan produk-produk tiruan. Boleh jadi, bukan sehat yang didapat, justru malah menderita sakit berkepanjangan.

Bahan madu oplosan ternyata sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Beberapa bahan yang mungkin digunakan diantaranya tawas, gula, tepung, hingga alkohol. Untuk tawas dan alkohol, sebagian besar masyarakat sudah paham benar buruknya dua bahan ini bagi kesehatan.

Sementara untuk titik kritis gula pasir, ada pada kemungkinan penggunaan arang aktif di tahap pemucatan (bleaching). Arang aktif bisa dibuat dari kayu, tempurung kelapa, serbuk gergaji, tulang hewan, dan sebagainya.

“Saya sudah mengonfirmasi dari suatu perusahaan arang aktif di Eropa bahwa memang ada arang aktif yang terbuat dari tulang. Meski, penggunaanya lebih banyak digunakan pada tahap dekolorisasi untuk produk-produk pharmaceuticals,” katanya.

Menguji Keaslian Madu

Ada banyak cara untuk menguji keaslian madu. Salah satu yang sederhana, cobalah memasukkan madu ke dalam lemari pendingin. Madu asli tidak akan membeku, sedangkan madu oplosan akan membeku. Cara mudah lainnya, teteskan madu ke dalam air. Madu asli tidak akan larut, tetesannya akan jatuh ke dasar gelas. Sementara itu, madu oplosan akan larut dalam air.

“Membedakan madu asli dan oplosan juga bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik analisis yang lebih canggih. Misalnya menggunakan kromatografi kinerja tinggi (HPLC), mass spectrometry (MS), atau nuclear magnetic resonance (NMR). Teknik-teknik tersebut didasarkan pada fakta bahwa jenis gula atau sakarida penyusun madu murni yang sudah pasti berbeda dengan madu oplosan,” ujar Nancy.

Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk mengecek terlebih dahulu suatu produk sebelum mengonsumsinya. Langkah yang paling aman adalah dengan mengecek label halal MUI pada kemasan produk. Dengan adanya label halal MUI, maka dapat dipastikan produk tersebut halal dan thayyib. Sehingga aman dikonsumsi dan baik bagi kesehatan.

Rep. Aldiansyah Nurrahman