Sabtu, 28 November 2020
13 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Keuangan / Lima Tantangan Pengembangan Perbankan Syariah
Foto dok. Fernando Arcos/Pexels
Terdapat lima tantangan dalam pengembangan perbankan syariah diantaranya adalah faktor geografi, generasi, teknologi, ekosistem, dan leadership.

Sharianews.com, Jakarta - Terdapat lima tantangan dalam pengembangan perbankan syariah diantaranya adalah faktor geografi, generasi, teknologi, ekosistem, dan leadership.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan untuk mengatasi kelima tantangan itu, caranya dengan inisiatif melakukan kolaborasi dan inovasi.

Tantangan dari sisi geografi, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau. Dengan luas wilayah ini, tidak semua cabang perbankan syariah bisa menjangkau remote area sehingga menyebabkan rasio inklusi masih rendah yaitu sebesar 11 persen.

Dari sisi generasi, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dengan lebih dari 230 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87 persen merupakan penduduk muslim dengan 60-70 persen masuk dalam generasi millenial.

“Saat ini ada generation gap antara generasi milenial dengan generasi di atasnya sehingga pemahaman dan pengetahuan mengenai produk perbankan syariah tidak merata antar generasi,” tambah dia.

Untuk tantangan teknologi, dengan perkembangan fintech yang sangat cepat, baik dari sisi pengembangan aplikasi dan uang elektronik, industri perbankan syariah harus cepat mengikuti. Dari sisi tantangan ekosistem, potensi industri halal masih cukup luas tapi hanya menjangkau 6 persen dari total market share.

Sedangkan untuk leadership. Jumlah pemimpin di perbankan syariah cukup terbatas. Untuk mengatasinya, perlu ada kaderisasi pembentukan pemimpin untuk mengatasi leadership gap perbankan syariah.

Firman menambahkan perbankan syariah memiliki peluang yang besar didukung oleh besarnya potensi bisnis industri halal. Berdasarkan riset dari State of the Global Islamic Economy Report tahun 2019, potensi bisnis industri halal sebesar 2,2 triliun dolar AS, terdiri dari makanan, fesyen, media, pariwisata, farmasi, kosmetik dan umrah.

Rep. Aldiansyah Nurrahman