Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Fokus / Lembaga Pengelola Pasar Saham Dituntut Adaptif
FOTO | Dok. istimewa
Saat ini IsDB tengah bekerjasama dengan dua perusahaan teknologi dunia untuk mengeksplorasi model transaksi yang lebih cepat dan semakin dapat diandalkan.

Sharianews.com, Jakarta ~ Penggunaan mata uang digital dan teknologi berbasis kripto seperti blockchain, bitcoin, dan semacamnya di dunia keuangan syariah dinilai terus mengalami peningkatan. 

Di antara indikasinya, hasil penelitian terbaru oleh Salaam Gateway dan Dubai International Financial Center (DIFC), menyebutkan saat ini Islamic Development Bank (IsDB) tengah bekerjasama dengan dua perusahaan teknologi dunia untuk mengeksplorasi dan membuat model transaksi yang lebih cepat dan semakin dapat diandalkan.

Sementara aktivitas penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf dengan sistem data digital terintegrasi (distributed ledger technology/DLT) juga sedang dikembangkan lebih lanjut.

Sebagai contoh, Finterra yang berkantor di Singapura menciptakan teknologi 'kontrak pintar' (smart contract) yang dapat dikaitkan dengan urusan wakaf. Sedangkan FinTech Blossom Finance dan masjid-masjid di Inggris menerima pembayaran zakat lewat mata uang kripto.

Kondisi ini menyebabkan lembaga pengelola bursa saham pada akhirnya dituntut agar lebih adaptif lagi terhadap perkembangan zaman tersebut. Sebab, situasinya menuntut untuk memberikan kemudahan dan kecepatan bagi investor, sekuritas, emiten dan calon emiten dalam mendapatkan informasi dari pasar modal.

Untuk itu, supaya dapat menjawab tantangan dalam progesivitas teknologi keuangan syariah, OneGram menginisiasi program Huulk dengan mengajukan permohonan lisensi untuk membuka bursa efek digital Islam di Malta. Nantinya, platform ini dikhususkan untuk memperdagangkan saham dari perusahaan sekuritas yang transaksinya menggunakan aset serta komoditasnya berupa kripto syariah.

Kepala Eksekutif OneGram Ibrahim Mohammed mengatakan, selain menjadikan perusahaan Bianchi Holdings Ltd. di Malta sebagai mitra ekuitas dalam pengelolaan saham, pihaknya berharap pula bisa bekerjasama dengan beberapa firma pengatur pasar modal lainnya di semenanjung Eropa dalam waktu secepat mungkin.

Rencananya, 21 perusahaan finansial teknologi (fintek) syariah dunia akan didaftarkan pada pasar saham tersebut. Beberapa di antaranya beroperasi di negara-negara mayoritas Muslim seperti Turki dan Malaysia.

Kuatnya peran keuangan syariah

Meski sebelumnya sektor keuangan Islam hanya berkontribusi kurang lebih sebesar 1 persen secara total. Namun, dalam skala global saat ini pertumbuhannya terus berkembang hingga rata-rata mencapai 20 persen per tahun.

Karena itu, Ibrahim menjelaskan, ide yang sudah diimplementasikan oleh perusahaan yang dipimpinnya tak lepas untuk mendapatkan keuntungan di tengah kuatnya peran sektor keuangan syariah, serta memodernisasi wilayah ini dengan memperkenalkan elemen teknologi modern seperti kripto dan pengelolaan perusahaan sekuritasnya.

Munculnya pasar saham digital syariah belakangan juga memicu semakin tingginya atmosfer pemain baru untuk terlibat dalam bisnis fintek berbasis Islam. Bahkan, suasana ini turut serta membantu beberapa perusahaan fintek global agar produk-produk syariahnya berkembang di pasar Timur Tengah dan Asia Tenggara. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Ahmad Kholil