Jumat, 22 Maret 2019
16 Rajab 1440 H
x
FOTO | dok.romy.sharianews.com
Salah satu kendala pemulihan pasca gempa adalah minimnya fasilitator.

Sharianews.com, Jakarta ~ Enam bulan pasca bencana alam gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga saat ini kondisi warga setempat dinilai masih sangat memprihatinkan.

Pasalnya, masih banyak rumah-rumah yang belum dibangun, sekolah yang masih porak poranda, dan layanan publik yang belum sepenuhnya pulih.

Lambannya proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Lombok tersebut, menurut Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rullyawan bahwa masa recovery ini merupakan fase pergantian dari fase sebelumnya yang akan berdampak pada perkembangan ekonomi mayarakat Lombok.

"Langkah tersebut merupakan cara Dompet Dhuafa untuk mengenalkan dan mendekatkan Lembaga kami kepada masyarakat NTB, agar dapat berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat di masa recovery ini," ujar lmam saat menggelar Diskusi dan Publik Expose 2019 yang bertemakan Menyoal Lambannya Pemulihan Lombok di Bakoel cofee, Jakarta, Kamis (24/1).

Imam menjelaskan, sejumlah kendala terkait rehabilitasi dan rekonstruksi di Lombok, NTB salah satunya adalah terbatasnya jumlah fasilitator, hingga mengakibatkan dana yang ditransfer ke daerah tidak dapat dicairkan atau mengendap.

Saat ini, ada sekitar 44 ribu rumah rusak berat di Lombok Utara. Sementara minimnya fasilitator yang hanya berjumlah 100 orang dari yang seharusnya 1.400 orang fasilitator yang dibutuhkan. 

"Rumah tinggal hanyalah salah satu masalah yang dihadapi penyintas gempa di Lombok, masih banyak persoalan yang dihadapi di lapangan, mulai dari pendidikan, kesehatan, belum lagi pemulihan ekonomi yang luluh lantak," beber Imam.

Untuk itu, melalui Lombok Bangkit atau Lombok Recovery (Lover), Dompet Dhuafa mensosialisasikan program-program yang telah dilakukan dari fase respons hingga recovery kepada masyarakat luas khususnya pemerintah.

"Dompet Dhuafa sudah terjun dengan berbagai program untuk Lombok Bangkit mulai membangun Masjid Sementara, Sekolah Sementara, Hospital Keliling (HOPING), Rumah Sementara (Rumtara), Kebun Sehat Keluarga, Bengkel, hingga Pustu (PuskesmasPembantu) yang ramah di kawasan bencana gempa," pungkas lmam.  (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo