Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Lifestyle / Kurang Promosi, Indonesia Susah Kembangkan Industri Pariwisata Halal
-
Meski Indonesia memiliki potensi dan peluang menjadi tujuan wisata halal dunia, namun keseriusan pemerintah untuk menggarap wisata halal sebagai program unggulan masih belum terlihat.

Meski indonesia memiliki potensi dan peluang menjadi tujuan wisata halal dunia, namun keseriusan pemerintah untuk menggarap wisata halal menjadi program unggulan masih belum terlihat.

Sharianews.com, Jakarta. Pengamat ekonomi syariah sekaligus Direktur Center of Islamic Business and Economic Studies (CIBEST) Irfan Syauqi Beik menyebutkan, setidaknya ada beberapa hal menjadi kendala serta tantangan yang harus dihadapi Indonesia untuk mengembangkan potensinya di sektor industri pariwisata halal.

Menurutnya, kurangnya literasi atau pemahaman masyarakat mengenai apa dan bagaimana industri pariwisata halal itu merupakan kendala yang paling dirasakan hingga saat ini. Hal ini bisa terjadi, lanjutnya, karena kurangnya komitmen pemerintah dalam mengedukasi, khususnya melalui promosi dan regulasi.

“Ini terjadi karena pemerintah kurang promosi dan minim komitmen untuk menjadikan wisata halal sebagai produk unggulan. Selain itu, pemerintah juga kurang menyiapkan insfrastruktur dan regulasinya,” terangnya, Kamis (9/8/2018).

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sampai sekarang belum memiliki peraturan yang spesifik terkait pariwisata halal. Adapun dasar hukum aktivitas wisata halal masih merujuk pada Undang-Undang (UU) No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Sedangkan untuk promosi, hingga saat ini Kemenpar hanya memiliki aturan yang mengacu pada Keputusan Menteri Pariwisata No. KM.40/UM.001/MP/tahun 2018 tentang Logo Pariwisata Halal Indonesia, dan pemasaran destinasinya hanya melalui situs www.indonesia.travel.

Senada dengan penjelasan Syauqi di atas, hal serupa juga terbaca dari laporan penelitian tahun 2016 oleh The Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation of the Organization of the Islamic Cooperation (COMCEC).

Dalam penelitian COMCEC tersebut disebutkan bahwa edukasi yang minim dari pemerintah menyebabkan munculnya anggapan jika proyek pariwisata halal di Indonesia akan menjauhkan wisatawan lainnya. Sebagai contoh, adanya penolakan sejumlah tokoh masyarakat di Bali yang tidak menginginkan kotanya itu dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata halal.

“Padahal, sebenarnya prinsip syariah ini tidak ribet dalam praktiknya. (Yaitu) hanya meminimalisir hal-hal yang diharamkan. Jadi, kira-kira itulah yang harus dipahami,” papar Syauqi pada Sharianews.com.

Menjadi Negara Destinasi Halal Terkemuka di Dunia

Sementara itu, lanjut instruktur bidang syariah dan keuangan syariah pada DSN-MUI Institute ini, untuk mengupayakan agar Indonesia menjadi salah satu negara destinasi wisata halal terkemuka di dunia, pemerintah harus memiliki cara.

Selain membuat regulasi yang jelas dan terukur, kata dia, pemerintah harus membangun sekaligus menguatkan kelembagaan bisnis syariah yang bisa mendorong pengembangan pariwisata halal itu sendiri. 

“Adapun tujuannya supaya Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu melayani turis Muslim dengan baik (sesuai syariah),” jelasnya.

Sebagai perbandingan, masih merujuk pada laporan COMCEC, alasan Malaysia bisa menjadi salah satu destinasi halal terkemuka di dunia, antara lain, adalah karena mereka sudah memiliki lembaga Pusat Pariwisata Islami (Islamic Tourism Centre/ITC).

Beberapa program yang telah dijalankan lembaga ini dalam mendorong wisata halal, misalnya, menggelar Seminar Regional tentang Pariwisata Keislaman (Regional Seminar on Islamic Tourism/ReSIT). Yaitu, kegiatan edukasi, diskusi, koordinasi, perencanaan, dan pengembangan paket wisata dan pariwisata Islam yang sesuai dengan produk pariwisata Islam Malaysia, baik ke turis lokal dan internasional.

Kemudian, Syauqi meneruskan, pemerintah juga perlu berupaya menjalin mitra dengan beberapa negara dan lembaga lainnya melalui kerjasama bisnis di sektor industri halal.

“Termasuk juga network atau jaringan, silaturahmi bisnis dengan tetangga-tetangga kita, dengan institusi-institusi yang mengelola halal tourism mengenai travel, baik di dalam dan luar negeri. Sehingga indonesia bisa menjadi tujuan utama halal tourism di dunia,” tutur sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Berikutnya, ia mengakui, pihaknya melalui DSN juga terus mengingatkan kepada pemerintah agar pariwisata halal ini menjadi salah satu peluang bisnis yang menguntungkan.(*)

 

Reporter: Emha S. Asror. Editor: Ahmad Kholil.