Sabtu, 4 Februari 2023
14 Rajab 1444 H
Home / Keuangan / Kredit Macet Naik, Ini Strategi Dua BPR Syariah  
-
Sejumlah BPR Syariah punya strategi khusus untuk mencari jalan keluar dari jerat kredit macet yang kian meningkat.

Sejumlah BPR Syariah punya strategi khusus untuk mencari jalan keluar dari jerat kredit macet yang kian meningkat.

Sharianews.com. Dari tahun ke tahun kredit bermasalah atau non performing financing (NPF) Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) Syariah terus meningkat. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keungan (OJK), pada April 2018, sudah mencapai 11 persen. Jauh melampaui ambang batas OJK terkait sehatnya BPRS sebesar tujuh persen.

Roni Hasim, Senior Marketing BPR Syariah Amanah Insani, mengakui kredit macet ini mengalami kenaikan dan umum terjadi di BPRS Syariah.  

“Kami kalah bersaing dengan bank-bank besar lainnya,” jelas Roni kepada Sharianews.com di Bogor (13/7).

Strategi BPRS Amanah Insani untuk mengurangi kredit bermasalah, tambahnya, adalah dengan ambil alih jaminan.  

“Kami tetap melihat dari segi kemampuan. Kalau memang sudah tidak mampu lagi ya kami ambil alih. Itu salah satu cara untuk mengurangi kredit macet,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, itu adalah langkah terakhir, setelah berbagai pertimbangan dan musyawarah dengan nasabah.

“Kami sangat mengedepankan musyarawah untuk mencari solusi dengan nasabah,” paparnya.

Berbeda dengan Romi, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Bank Syariah Indonesia Kompartemen BPR Syariah, Syahril T. Alam, punya strategi lain untuk menanggulangi masalah kredit macet.

Salah satunya, dengan cara menjadwal ulang kredit. Misalnya, dengan mengurangi jumlah angsuran. Diturunkan sesuai kemampuan nasabah. Misalnya, jadi Rp 700 ribu atau Rp 500 ribu, yang sebelumnya Rp 1 juta perbulan.

“Dengan melihat dari sisi kemampuannya ini, nasabah tidak lagi menunggak. Hanya saja lebih panjang masa pembayarannya,” imbuh Direktur Utama BPR Syariah Patriot Bekasi ini.

Perlu Komitmen Pemerintah

Syahril mengakui bahwa saat ini ekonomi makro sedang lemah. Hal ini juga berdampak pada para pengusaha, termasuk di sektor UMKM.

“Kondisi makro ini berpengaruh juga terhadap industri kecil. Kebanyakan nasabah BPR Syariah bergerak di usaha mikro dan kecil. Dampaknya juga mereka rasakan,” ujar Syahril saat ditemui Sharianews.com di Bogor.

Dosen Perbankan Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Elvira Sitna Hajar, mengatakan tingginya kredit macet BPR Syariah disebabkan lantaran kurangnya komitmen dan keberpihakan pemerintah terhadap perbankan syariah.

“Ini yang menyebabkan pengembangan perbankan syariah masih lambat. Semestinya ada semacam surat edaran OJK supaya perbankan syariah wajib memenuhi standarisasi peningkatan target dari tahun ke tahun,” jelas Vira kepada Sharianews.com (15/7).

Hal ini berbeda, lanjutnya, dengan BPR konvensional yang terus digenjot pemerintah. Ia mencontohkan, porsi usaha kecil menengah (UKM) dalam BPR konvensional itu mencapai 10 persen pada 2017 dan akan naik tahun depan menjadi 15 persen.

“Itu ketentuan pemerintah dan diwajibkan bagi BPR konvensional. Tapi sebaliknya, dalam BPR syariah itu masih dalam bentuk roadmap,ungkapnya.

Vira juga mengharapkan, proyek-proyek infrastruktur tidak hanya diperuntukkan bagi perbankan konvensional saja, tapi juga ke perbankan syariah.

“Government guarantee harusnya juga diberikan ke perbankan syariah,” tegasnya. (*)

 

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: A.Rifki.