Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. sharianews.com
Tugas lembaga zakat khususnya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai pengelola zakat nasional untuk meningkatkan kredibilitas lembaga pengelola zakat di Indonesia.

Oleh: Noviyanti (Peneliti Junior PuskasBAZNAS)

Sharianews.com, ‘Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaga zakat di Indonesia dinilai masih kurang optimal. Hal ini memengaruhi pengelolaan zakat oleh lembaga, terutama yang berkaitan dengan penghimpunan dana zakat. Namun, apakah benar demikian atau justru faktor eksternal yang mengakibatkan pengelolaan zakat di Indonesia masih kurang optimal. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah tolok ukur secara nasional untuk menilai keberhasilan atau efektivitas lembaga zakat di Indonesia’

Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Bukan hanya bagi perorangan, kredibilitas juga harus dimiliki oleh sebuah organisasi atau lembaga. Penelitian oleh Haryono (2013) menunjukkan bahwa kredibilitas perusahaan, citra endorser, dan daya tarik iklan yang semakin baik mampu meningkatkan top of mind konsumen yang kemudian akan memengaruhi minat beli konsumen.

Kredibilitas perusahaan atau lembaga bergantung pada tiga faktor (Kotler dan Keller 2006) antara lain keahlian perusahaan yaitu sejauhmana perusahaan terlihat mampu membuat dan menjual produk atau melakukan layanan, kepercayaan perusahaan yaitu sejauhmana perusahaan tampak termotivasi untuk menjadi jujur, bergantung dan peka terhadap kebutuhan pelanggan, dan daya tarik perusahaan yaitu sejauhmana perusahaan terlihat disukai, menarik, bergengsi, dll.

Seperti dilansir dalam detik.com, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati dalam acara 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC) 2017 lalu,mengatakan bahwa pengelolaan zakat di Indonesia masih belum dilakukan secara optimal, padahal sistemnya bisa dilakukan sama seperti pemerintah mengelola dana pajak. Beliau juga menambahkan bahwa dana zakat harus dikelola secara transparan untuk menciptakan keyakinan umat.

Apabila masyarakat sudah percaya dengan lembaga pengelola zakat, maka penghimpunan dana zakat dapat dilakukan secara optimal. Umat Islam yang membayar zakat secara langsung ke mustahik akan semakin berkurang. Bukan berarti membayar zakat langsung kepada mustahik tidak diperbolehkan, namun dana zakat akan lebih optimal pemanfaatannya apabila dikelola oleh amil profesional. Tujuannya, bukan hanya memenuhi kebutuhan dasar mustahik, namun juga meningkatkan kesejahteraannya. Lebih jauh lagi, yaitu membuat mustahik menjadi muzaki.

Oleh karena itu, menjadi tugas lembaga zakat khususnya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai pengelola zakat nasional untuk meningkatkan kredibilitas lembaga pengelola zakat di Indonesia. Peningkatan kredibilitas akan memicu tingkat kepercayaan masyarakat (terutama muzaki) untuk membayarkan zakatnya melalui lembaga.

Hasil penelitian Nurzaman et al (2017) menunjukkan bahwa preferensi masyarakat muslim menyumbang dengan cara langsung (63 persen) lebih tinggi dibanding melalui lembaga (37 persen). Masih dalam penelitian yang sama, responden yang memiliki kepercayaan terhadap organisasi penghimpun hanya 14,25 persen. Hal tersebut menjadi motivasi lebih bagi Baznas untuk menambah keahlian lembaga, kepercayaan lembaga, dan daya tarik lembaga pengelola zakat.

Kredibilitas berkaitan dengan efektivitas. Apabila lembaga dinilai kurang kredibel, maka efektivitas lembaga tersebut juga dapat dipertanyakan. Menilai efektivitas sebuah lembaga membutuhkan satu instrumen atau tolok ukur. Instrumen tersebut harus dapat digunakan oleh lembaga lain yang serupa, dapat di implementasikan secara periodik dan mampu menilai kinerja secara menyeluruh.

Baznas menganggap bahwa lembaga zakat di Indonesia membutuhkan sebuah alat ukur untuk menilai kinerja perzakatan. Oleh karena itu, Pusat Kajian Strategis Baznas menyusun indikator efisiensi lembaga zakat yang diberlakukan secara nasional yaitu Indeks Zakat Naisonal (IZN). Melalui IZN, lembaga zakat di Indonesia dapat mengetahui seberapa efektif dan efisien kinerja zakat, baik pada tingkat kabupaten, provinsi, maupun tingkatnasional.

Indeks Zakat Nasional

Baznasmeresmikandan mempublikasikan IZN pada akhir tahun 2016. IZN adalah sebuah indeks komposit atau gabungan yang disusun dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan kinerja perzakatan nasional. IZN diharapkan dapat menjadi indikator dalam menilai peran zakat terhadap peningkatan kesejahteraan mustahik, penilaian keberhasilan kinerja lembaga, maupun sejauh mana dukungan yang diberikan oleh pemerintah.

IZN juga diharapkan mampu menjadi ukuran standar yang dapat digunakan oleh stakeholder zakat dalam mengevaluasi efektivitas dan efisiensi perzakatan di Indonesia.Dengan adanya ukuran standar ini, lembaga pengelola zakat di Indonesia diharapkan dapat memenuhi standar minimal sebuah lembaga zakat dinilai cukup baik dalam melakukan pengelolaan dana zakat.

IZN terbagi menjadi dua dimensi yaitu dimensi makro yang menilai regulasi zakat, dukungan APBN/APBD, dan database lembaga, dan dimensi mikro yang menilai kelembagaan dan dampak zakat. Nilai IZN berkisar antara 0-1. Karena bersifat komposit, maka kita bisa melihat nilai indeks hingga level variabel. Misalnya, nilai IZN provinsi Papua adalah 0,20, artinya IZN provinsi Papua dinilai masih rendah. Kita dapat melihat variabel apa saja yang menyebabkan rendahnya nilai tersebut. Solusi untuk meningkatkan efektivitas kinerja, apakah peran lembaga zakat di provinsi Papua atau justru peran pemerintah yang perlu ditingkatkan.

Dengan adanya instrumen IZN, lembaga pengelola zakat di Indonesia memiliki acuan standar keberhasilan pengelolaan zakat. Sehingga lembaga zakat khususnya Baznas dapat memberikan transparansi kepada masyarakat, terutama muzaki dengan menyajikan hasil penghitungan IZN.

Selain bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan kredibilitas lembaga, hasil IZN juga dapat digunakan dalam laporan pertanggungjawaban kepada pejabat pemerintah terkait. Dengan ini, kedepannya diharapkan terjadi sinergi untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan ekonomi mustahik, dan meningkatkan pembangunan sumber daya muslim di Indonesia.@

Oleh: Noviyanti
#zakat #Ziswaf