Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / KPR Syariah Belum Tentu Lebih Mahal dari KPR Konvensional
-
Jika dilihat harganya secara overall periode-nya, KPR syariah tidak lebih mahal dibanding KPR konvensional.

Jika dilihat harganya secara overall periode-nya, KPR syariah tidak lebih mahal dibanding KPR konvensional.

Sharianews.com, Jakarta. Harga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) Syariah kerap dibandingkan dengan KPR konvensional. Hal itu lantaran ada anggapan KPR syariah lebih mahal dari pada KPR konvensional.

Head of Retail Banking Product Bank Muamalat, Vinny Rika Anwar mengatakan harga KPR syariah tidak serta merta lebih besar dibandingkan KPR konvensional. Untuk melihat perbandingan harganya secara adil, nasabah perlu melihat skema yang diterapkan pada KPR syariah maupun KPR konvensional secara keseluruhan.

Vinny mengungkapkan harga itu juga tergantung dari cara nasabah melihatnya, secara harga margin selama tenor pembiayaan atau hanya selama masa fix.

“KPR (Konvensional) rata-rata berada di pasar periode fix dahulu harganya. Setelah itu baru masuk ke dalam harga floating period. Aritinya harganya bisa berubah, karena tergantung dari suku bunga yang berlaku di pasar ketika itu,” jelas Vinny, saat dihubungi sharianews.com, Kamis (10/8/2018).

Menurut Vinny jika dilihat dari total harga, KPR syariah dibandingkan KPR konvensional pada saat periode fixed saja, lebih rendah KPR konvensional. Tetapi jika dikompensasi dengan periode floating,  harga angsuran KRP konvensional bisa lebih tinggi 13-14 persen dibanding KPR syariah. 

Ia mencontihkan, KPR konvensional dalam dua tahun adalah harga periode fixed. Tetapi nanti harganya setalah masuk tahun ketiga sudah floating tergantung suku bunga yang berlaku dipasar.

“Tergantung  BI 7-Day Repo Rate sebagai suku bunga acuan-nya ada di berapa persen.  Biasanya mengambil price dari situ juga, misalnya BI 7- Day repo rate-nya 5 persen, apakah ditambah 8 persen atau 9 persen. Jadi harganya benar-benar tergantung suku bunga yang berlaku di market,” papar Vinny.

Jadi menurut Vinny, jika dikatakan KPR syariah lebih mahal, tidak selalu begitu.”Sebenarnya yang perlu dilihat itu harga secara overall periodenya,” ujarnya.

Sementara KPR syariah, seperti di Bank Muamalat, dengan akad murabahah, harga jualnya sedari awal sudah fixed.

“Ini masalah komunikasi saja kepada nasabah. Jadi sekakan-akan, harga konvensioanal lebih murah karena pada saat periode fixed lebih rendah, tetapi kalau total dengan pricing floating periode, pada bank konvensional jadinya malah belum bisa ditentukan berapa sebenernya harganya,” ungkap Vinny.

Akad dalam KPR syariah

Mengenai akad dalam KPR syariah, Vinny menyebutkan ada tiga jenis akad di KPR syariah secara umum, murabahah, musyarakah mutanaqisah -  MMQ ( akad antara dua pihak atau lebih yang berserikat atau berkongsi terhadap suatu barang dimana salah satu pihak kemudian membeli bagian pihak lainnya secara bertahap), dan ijarah muntahia bittamlik ( sewa yang diakhiri dengan pemindahan kepemilikan barang).

“Bank Muamalat sendiri menggunakan akad murabahah dan MMQ. KPR angsuran super ringan, dengan murabahah. Lalu KPR Fixed and Fixed, menggunakan akad MMQ atau sirkah, join ownership,” jelasnya. (*)

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil