Selasa, 20 Agustus 2019
19 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Lifestyle / Kota Tua Bisa Menjadi Tujuan Wisata Halal
FOTO | Dok. dolanyok.com
Gagasan menjadikan Kota Tua sebagai destinasi wisata halal merupakan ide yang bagus karena ada sub-kawasan yang bisa dikembangkan menjadi wisata halal, seperti daerah Pekojan, Sunda Kelapa, Luar Batang.

Sharianews.com, Jakarta. Beberapa distinasi wisata di Jakarta patut dikembangkan menjadi tujuan wisata halal. Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno di awal menjabat juga sempat mewacanakan menjadikan beberapa destinasi wisata di Ibu kota Jakarta sebagai destinasi wisata halal. Salah satunya adalah Kota Tua.

Untuk melihat sebarapa serius keinginan pengembangan Kota Tua menjadi destinasi wisata halal di Ibu Kota DKI Jakarta, sharianews.com  mencoba melihat apa yang sudah dilakukan oleh pengelola wisata Kota Tua.

Norviadi Setio Husodo, Kepala Unit Pengelola Kawasan dan Pelaksana Teknis Pusat Konserfasi Cagar Budaya Kota Tua, mengatakan pihaknya optimis dapat mewujudkan keinginan Pemerintah Daerah (Pembda) DKI Jakarta untuk menjadikan kawasan Kota Tua sebagai wisata halal, meski kenyataannya hingga saat ini hal itu belum sepnuhnya terwujud.

“Saya optimis 99,9 persen  Kota Tua mampu menjadi wisata halal. Destinasi Kota Tua menjadi wisata halal itu potensinya bagus karena ada sub-kawasan yang bisa dikembangkan menjadi wisata halal,”ujarnya kepada sharianews.com Sabtu, (19/10/2018).

Norviadi kemudian menyebutkan daerah Pekojan, salah satu kampung muslim yang bisa dirancang menjadi wisata halal karena banyak bangunan masjid-masjid tua, masjid bersejarah. Jadi bisa dikemanbgkan untuk wisata religi.

“Kalau sekarang semacam wisata ziarah Walisongo. Nah dengan ini, kawasan Kota Tua bisa juga kita buat paket wisata. Namanya wisata masjid tua,”ujar Kepala Unit Pengelola Kawasan dan Pelaksana Teknis Pusat Konserfasi Cagar Budaya Kota Tua.

Sejatinya pengembangan wisata halal di Indonesia memang cukup potensial, apalagi juga merujuk pada populasi mayoritas muslim Indonesia yang merupakan jumlah terbesar di dunia.  Juga jika kita melihat beberapa hasil penelitian yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang potensial menjadi tujuan wisata dunia.  

Mastercard-Cresentrating misalnya, baru-baru ini merilis hasil riset dan penilaian dari Global Muslim Travel Index (GMTI - 2018), yang menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat  kedua yang memiliki wisata halal populer. Peringkat ini meningkat dari 2017 lalu, yang menempati posisi ketiga setelah Malaysia dan United Arab Emirat.

Target utama wisatawan muslim

Norviadi menjelaskan, jika nantinya Kota Tua dikembangkan menjadi destinasi wisata halal, maka pangsa pasar utamanya tentu, yang pertama adalah wisatawan lokal atau nusantara, serta manca negara, terutama dari negara-negara berpenduduk muslim.

Namun bukan berarti wisatawan nonmuslim tidak diperbolehkan untuk berkunjung ke Kota Tua. Sebab selain destinasi untuk kalangan muslim, Kota Tua juga memiliki beberapa kawasan yang bisa dikombinasikan untuk wisatawan non-muslim.

Beberapa destinasi wisata ramah muslim di Kota Tua yang bisa dikembangkan ada di sisi utara, misalnya Museum Fatahillah, Kampung Pekojan, Luar Batang, Sunda Kelapa dan sekitarnya. Selain itu juga ada kawasan wisata yang terbuka untuk menjadi tujuan wisata umum atau non-muslim kunjungi, misalnya daerah Pecinan, Pecinan Glodok dan sekitarnya.

Lebih lanjut Norviadi menjelaskan, berdasarkan data, kawasan Kota Tua yang dimiliki oleh Pemda DKI Jakarta, hanya 2 persen atau sekitar enam bangunan, 48 persen milik swasta dan 50 persen milik perorangan atau pribadi dari total 286 bangunan cagar budaya yang ada di Kota Tua, sehingga untuk menjadikan kawasan Kota Tua sebagai wisata halal diperlukan koordinasi antara tiga pihak, yakni pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat.

“Mengingat kepemilikan yang tidak dimiliki Pemda, sebagai solusi harus punya komunikasi atau koordinasi yang baik dengan pihak swasta, dan masyarakat. Karenanya, Gubernur dan Wakil Gubernur memiliki program kerjasama yang komprehensif dan bersinergi dengan masyarakat dan swasta. Nama programnya, PPP (Public, Private Partnership) atau pemerintah swasta yang bersinergi,”kata Norviadi.

Kreteria wisata halal

Lalu bagaimana sebenarnya kreteria destinasi wisata halal tersebut? Menurut Global Muslim Travel Index (GMTI), setidaknya ada tiga syarat garis besar bagi wisata halal. Di antaranya destinasi ramah keluarga, layanan dan fasilitas ramah muslim, serta kesadaran halal dan  pemasaran destinasi sesuari prinsip syariah.

Terkait dengan persyaratan tersebut, Norviadi percaya bahwa  syarat wisata halal tersebut dapat dipenuhi sembari berproses. “Syarat itu sebenarnya bisa dipenuhi sambil berproses, salah satunya fasilitas tempat ibadah yang memisahkan tempat untuk pria dan wanita seperti fasilitas wudhu, makanan yang halal, dan hotel halal,”katanya.

Memang masih butuh waktu, tidak mudah mengubah kawasan wisata halal, dibutuhkan kesadaran banyak pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas. “Jangan sampai ada kesan, bahwa wisata halal hanya untuk kalangan muslim. Tidak seperti itu,”ujar Norviadi, seraya menambahkan pihaknya optimis 2020, kebijakan kebijakan menjadikan Kota Tua sebagai destinasi wisata halal dapat terwujud. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Ahmad Kholil