Minggu, 8 Desember 2019
11 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Global / Korsel Kembangkan Industri Kosmetik Halal
FOTO I Dok. globalcosmeticsnews.com
Setelah memproduksi obat kecantikan dengan mengikuti standar syariah sejak 2015 lalu dan petumbuhan bisnisnya dirasa sukses, kini Korea Selatan bersiap melanjutkan pengembangan segmen tersebut.

Sharianews.com, Korsel. Saat ini, cukup banyak negara Muslim maupun non-Muslim yang telah mengelaborasi industri kosmetik halal dengan intensitas yang cukup tinggi, Korea Selatan salah satunya.

Setelah memproduksi obat kecantikan dengan mengikuti standar syariah sejak 2015 lalu dan petumbuhan bisnisnya dirasa sukses, kini Korea Selatan bersiap melanjutkan pengembangan segmen tersebut.

Direktur Jenderal Institut Industri Halal Korea (the Korea Institute of Halal Industry) Dr James Noh memaparkan, ikhtiar peningkatan yang mungkin agak jelas ialah ketika pemerintah pusat setempat menuntut agar pasar pada sektor tersebut lebih diperlebar, para pemain bisnis di Korea Selatan menyanggupi dengan memilih Asia Tenggara sebagai rekan usaha berikutnya.

“Sebelumnya, Tiongkok sudah dijadikan pasar, sekarang Asia Tenggara merupakan alternatif untuk penjualan produk kosmetik halal dan pemerintah Korea Selatan siap mendukung demi cetak biru ini. Sebab, ada sekitar 40 persen penduduk Muslim di wilayah yang disebut terakhir,” ungkap James Noh saat dimintai keterangan DinardStandard beberapa hari lalu.

Bahan Kosmetik Halal Terbarukan

Banyak pula usaha lain yang telah dicoba oleh pelaku industri di ‘Negeri Ginseng’ tersebut. Setidaknya, lanjut James Noh, kosmetik halal kreasi Korea Selatan tidak hanya dihasilkan dari bahan-bahan pada umumnya, sejenis emollient yang terkandung dalam moisturizer misalnya.

Lebih dari itu, pengadaan alat mempersolek wajah dan semacamnya yang berlisensi syariah khusus bagi mereka yang tidak mengonsumsi semua produk hewani secara total atau vegan juga sudah diproduksi.

“Produk kosmetik halal terbarukan ini disediakan karena ada satu tantangan dari gejala sosial dan ekonomi yang mencuat belakangan. Yakni, semakin meluasnya tuntutan konsumen baik Muslim dan yang bukan terhadap pengadaan barang-barang yang secara menyeluruh tidak berasal dari hewan serta serupanya seperti telur, keju dan susu,” terang James Noh.

Saking butuhnya, jika ada kosmetik tidak bersertifikat halal tetapi bersumber dari vegan, mereka rela membelinya dengan asumsi seakan memiliki barang halal. Sebab, dia menambahkan, produk vegan dan halal memang sangat mirip. Implikasinya, seiring pertumbuhan kosmetik vegan, alat kecantikan halal juga akan berkembang.

Kulu Halal

Munculnya gerakan ‘Kulu Halal’ atau tuntutan harmonisasi ekonomi pangan dunia dengan standar syariah oleh sejumlah negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) lewat kebijakan impornya seperti Indonesia dan Malaysia, setidaknya mendorong perusahaan-perusahaan di Korea Selatan tertarik terlibat di dalamnya.

Sebaliknya, jika pemangku kebijakan dan pelaku bisnis tidak siap dengan gelombang yang sedang terjadi tersebut, menurut James Noh, situasi ini akan berdampak buruk pada ekspor kosmetik halal di Korea Selatan.

“Kesiapan menjadi hal wajar. Terlebih, barang-barang kecantikan halal milik Korea Selatan banyak dikirim ke negara-negara anggota OKI di Asia Tenggara, dan khususnya ke Indonesia. Karenanya, banyak eksportir Korea Selatan yang mendukung terhadap tuntutan ini,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Achi Hartoyo

Tags: