Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. Sharianews
Industri halal yang dikembangkan Korea berfokus pada dua hal, yakni Halal Food dan Kosmetik.

Sharianews.com, Seoul. Kehadiran Direktur Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (PUSKAS - BAZNAS) Irfan Syauqi Beik disambut hangat oleh Mr. Ahmad Cho, Presiden Korean Moslem Federation (KMF). Kedatangan Irfan tersebut dalam rangka menghadiri acara Shariah Economics Excurssion SESC IPB yang diselenggarakan pada (17/11/2018) di Seoul, Korea.

Dalam diskusi tersebut Irfan menyampaikan bahwa Korea telah serius dalam mengembangkan potensi industri halal. Hal itu dibuktikan dengan jumlah produk halal, yang telah mendapatkan sertifikasi halal dari sekitar 14 negara, termasuk Malaysia dan Singapura. Totalnya mencapai lebih dari 700.

Namun, hingga kini Korea belum menjalin kerjasama sertifikasi halal dengan LPPOM-MUI. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Irfan “Ke depan, Mr. Ahmad Cho menginginkan kerjasama antara KMF dengan LPPOM-MUI terkait dengan sertifikasi halal. Orientasi pengembangan produk halal di Korea sendiri untuk mengejar pangsa pasar internasional. Karena pasar dalam negeri (Korea) sendiri belum terlalu besar, jumlah umat Islam di Korea hanya 100ribuan, demand dalam negeri tidak banyak,” demikian seperti yang diungkapkan Irfan kepada Sharianews.

Irfan menambahkan, langkah Korea dalam mengejar pangsa pasar internasional dinilai cukup cerdas. Korea menyadari bahwa kue ekonomi dari industri halal internasional cukup tinggi. “Industri halal di Korea sendiri tumbuh 12-15 persen per tahun, kita jangan sampai kalah profesional dan kalah serius dalam menggarap industri halal ini. Dukungan regulasi pun sangat baik, mereka begitu aktif untuk membangun network antar negara. Ini patut kita tiru,” ungkap Irfan menegaskan.

Korea memfokuskan diri membangun industri halal pada halal food dan kosmetik. Bila dicermati, potensi tersebut seharusnya jauh lebih besar untuk Indonesia, karena merupakan negara muslim terbesar di dunia. Termasuk dalam hal ini konsumen produk halal dalam negeri yang mencapai lebih dari 80 persen.

Tantangan bagi Korea adalah edukasi untuk penguatan ekspor. Di sisi lain, umat muslim di Korea sendiri cukup kesulitan untuk mendapatkan produk halal. Hal tersebut dikarenakan Korea lebih fokus menggarap produk halal untuk komoditas ekspor terutama halal food. “Makanan halal bukan sekedar ibadah. Namun, lebih dari itu, makanan halal mempunyai dimensi bisnis yang bisa dikembangkan lebih besar.” Irfan menambahkan.

Profesionalitas dan dukungan regulasi dari pemerintah Korea seharusnya bisa ditiru oleh Indonesia. Tahun depan Korea merencanakan untuk menggelar Halal Expo guna menjaring konsumen muslim dari seluruh dunia. (*)

 

Achi Hartoyo