Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Opini / Komunikasi Halal Lifestyle di Kalangan Milenial: Enlightening dan Entertaining
Foto | Dok Pribadi
Betapa indahnya jika kita bayangkan mereka bersatu dalam perspektif yang sama: menjalankan halal lifestyle dalam kehidupan sehari-hari

Nastiti Tri Winasis | Pemerhati gaya hidup halal

Generasi Milenial, Posisi Strategis yang Cukup Diperhitungkan

Generasi Y alias milenial, merupakan penguasa zaman now. Mereka lahir di atas tahun 1980 hingga tahun 1995, atau mereka yang menginjak dewasa saat pergantian menuju abad ke-21. Generasi Milenial yang digital oriented ini  tak bisa dilepaskan dengan teknologi.

Pergaulan dan eksistensi diri mereka tidak bisa terlepas dari media sosial, sehingga Facebook, Twitter, Instagram sudah menjadi kebutuhan utama untuk berkomunikasi sehari-hari; sedang Youtube menjadi referensi mereka demi supaya semakin eksis.

Meminjam istilah Denys Lombard, dalam buku Le carrefour Javanais: Essai d'histoire globale, di situ disebutkan bahwa tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang seperti di Nusantara (Indonesia). Indonesia menjadi tempat kehadiran hampir semua kebudayaan besar dunia, hidup berdampingan menjadi satu atau lebur menjadi satu.

Saat ini Indonesia yang unik menempatkan  kaum milenial menjadi penggeraknya. Mereka berasal dari berbagai kebudayaan yang berbeda namun bisa lebur menjadi satu dan posisi mereka cukup diperhitungkan.

Alangkah sayangnya jika mereka tidak dibekali dengan spirit halal lifestyle. Betapa indahnya jika kita bayangkan mereka bersatu dalam perspektif yang sama: menjalankan halal lifestyle dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa dimulai dengan selalu meningkatkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai syariah dalam kehidupan generasi milenial.

Makna “Halal Lifestyle” bagi Generasi Milenial

Milenial merupakan “digital natives” atau penduduk asli digital. Mereka  memiliki stigma negatif yang sering diberikan oleh generasi pendahulunya, yaitu sebagai generasi yang “malas, egois, dan cepat menyerah atau manja”. Namun demikian, meski mereka terlihat ‘rapuh’, sejatinya mereka menyimpan impian dan potensi yang besar.

Banyaknya informasi yang membuat generasi Milenial sadar dengan keadaan di sekitarnya ternyata memberikan dampak yang positif. Meskipun kadang-kadang Milenial dianggap “sok kritis”, pada dasarnya mereka rata-rata memiliki pandangan yang lebih terbuka dan memang mampu berpikir kritis.

Oleh karena itu,  banyak gagasan yang unik dan out of the box lahir dari orang yang termasuk ke dalam generasi ini, termasuk bagaimana mereka menerjemahkan sesuatu yang membuat mereka tampak bagus di mata yang lain termasuk generasi pendahulunya.

Bagi generasi milenial, sesuatu akan disebut “keren” adalah apabila berhasil menunjukkan “anomali” atau “diferensiasi/perbedaan” dengan yang lain, baik dalam arti positif maupun negatif khususnya melalui jejaring media sosial. Menariknya, menerapkan halal lifestyle, nyatanya bisa diposisikan sebagai sesuatu yang “keren, berbeda, dan positif” bagi milenial.

Namun, seberapa sulitkah hal tersebut terwujud? Apa saja kendala yang mungkin muncul dan mengakibatkan halal lifestyle kurang tersosialisasi secara optimal di kalangan milenial? Apakah karena mereka kurang dilibatkan secara aktif untuk berperan dalam proses sosialisasi itu sendiri? Ataukah karena hanya milenial kelompok influencer saja yang kelihatannya diandalkan sebagai komunikator isu-isu halal? Banyak pertanyaan yang berkecamuk sehingga mendasari penelusuran lebih mendalam.

Hasil mini exploratory study penulis pada kurun waktu akhir Desember 2018 hingga awal Januari 2019 terhadap 30 orang milenial di Jabodetabek yang masuk dalam kelompok milenial dan berasal dari latar belakang budaya berbeda menunjukkan adanya  indikasi yang cukup menarik. Mereka memberikan opini mengenai definisi Halal Lifestyle dan bagaimana cara efektif mengkomunikasikannya di antara mereka sesama generasi Milenial.  Hasilnya sebagai berikut:

  1. Halal Lifestyle = Keren

Bagi Milenial, “halal” bukanlah suatu trend, melainkan sesuatu yang semestinya dipegang seumur hidup. Namun “halal” akan menjadi sesuatu yang trendy (kekinian, modern, bahkan keren) ketika sudah menjadi gaya hidup sehari-hari. Milenial yang menerapkan gaya hidup halal adalah milenial yang cool/keren, punya diferensiasi dibanding mereka yang “tidak peduli” halal dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Halal Lifestyle = Menenteramkan

Bagi milenial, halal lifestyle menyangkut sesuatu yang menenteramkan. Hal yang paling banyak disoroti adalah sampainya suatu produk ke tangan konsumen mengikuti syariat Islam secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga ke hilir (yaitu proses produksi, distribusi hingga konsumsi).

  1. Halal Lifestyle = Sehat Fisik dan Mental

Bagi milenial, menerapkan halal lifestyle tidak serta-merta membuat mereka ketinggalan jaman. Mereka masih bisa tampak modis (menggunakan busana muslim stylish), mengonsumsi makanan secara selektif (karena hanya yang halal sajalah yang sebenarnya jauh lebih menyehatkan), serta mengakses layanan yang halal. Dengan menerapkan halal lifestyle, diharapkan mereka akan lebih sehat lahir-batin.

  1. Halal Lifestyle = Kepribadian Panutan

Bagi milenial, sosok yang menerapkan halal lifestyle sehari-hari merupakan sosok yang bisa menjadi panutan, karena mulai dari mencari nafkah (tidak korupsi baik harta maupun waktu), hingga membelanjakan dan mengonsumsinya melalui proses yang halal.

  1. Halal Lifestyle = Tidak Hanya Sekadar Label Halal (Sertifikasi MUI)

Bagi milenial, gaya hidup seseorang yang mengikuti ajaran Rasulullah pasti akan mengutamakan hal-hal yang halal. Tidak hanya sekadar mengonsumsi makanan berlabel halal MUI, namun proses membersihkan tangan dan etika makan juga diperhatikan. Demikian pula halnya ketika akan mengakses layanan, pasti yang dipilih adalah yang sudah bersertifikasi halal. Hal ini sama dengan mengikuti hanya apa yang telah diizinkan oleh Allah SWT. Dalam halal lifestyle, isu mengenai sertifikasi halal malahan tidak banyak mendapat ulasan karena dianggap sudah semestinya yang dikonsumsi, digunakan atau diakses itu harus yang bermanfaat. Sertifikasi atau label hanya sekadar untuk meyakinkan masyarakat bahwa produk atau layanan yang ditawarkan telah lolos uji Majelis Ulama Indonesia (MUI).

  1. Halal Lifestyle = Mengakses Hiburan dan Informasi yang Syar’i

Berbagai jenis hiburan dan informasi sangat mudah diakses saat ini oleh generasi Milenial, baik secara online maupun offline. Ketika berbicara mengenai halal lifestyle, semua hal yang bersifat hiburan dan menghibur harus halal dan syar’i.

  1. Halal Lifestyle = Berkontribusi kepada Sesama (Mensyiarkan Hal-Hal Baik)

Milenial mempunyai semboyan “sharing/berbagi itu keren”, termasuk kerja sama/kolaborasi (tidak individualis untuk beberapa aspek) termasuk memberikan sesuatu kepada orang lain khususnya untuk dikonsumsi.

Namun jangan lupa, apa yang dibagikan dan dikolaborasikan haruslah sesuatu yang halal. Demikian juga halnya jika kita menginformasikan sesuatu kepada orang lain harus melalui proses tabayyun (cek-ricek) terlebih dahulu, budaya informasi yang diterima valid, bukan berita palsu tanpa dasar yang benar (= hoax). 

Sosialisasi Halal Lifestyle: Enlightening dan Entertaining

Melibatkan peran milenial untuk ikut berkontribusi mensosialisasikan halal lifestyle memang “gampang-gampang susah”. Namun ada solusi jitu dengan cara mengintegrasikan pesan melalui komunikasi secara offline (substance) maupun online (style). Berkaitan dengan sosialisasi halal lifestyle di kalangan Milenial, substansi “halal” sebagai konten harus terus digaungkan dalam berbagai event offline.

Sementara itu untuk menarik perhatian kelompok ini, style yang berarti ada unsur entertaining (menghibur) bisa memanfaatkan platform online. Dengan demikian tidak akan ada kesan “menggurui”. Dampak yang diharapkan jangan hanya pada ranah kacamata produsen (misalnya “meningkatkan omset penjualan produk atau jasa halal”) namun juga juga pada “insight” (dampak pada kehidupan sehari-hari generasi Milenial).

Milenial berharap bahwa sosialisasi halal lifestyle mesti diawali dengan pemahaman bahwa mereka: (1)  Mudah bosan pada barang yang dibeli; (2) Setiap saat tidak bisa lepas dari gadget, no gadget = no life; (3) Sudah terpapar berat oleh media sosial; (4) Sehari-hari menggunakan Bahasa gaul/slank (campuran Indonesia dan Inggris); (5) Mengidolakan aktivis media sosial, misalnya Youtubers, Bloggers, Vloggers, hingga Selebgram; (6) Berbeda perilaku antara kelompok satu dengan lainnya; (7) Hobi melakukan pembayaran non tunai; (8) Jago multitasking, work to live; (9) Memilih punya banyak pengalaman dibanding asset; dan (10) Suka dengan hal-hal yang serba cepat dan instan.

Dalam sosialisasi Halal Lifestyle di tingkat create awareness, generasi Milenial cenderung tidak menyukai tulisan yang membuat mereka berpikir terlalu berat dengan analisis yang dalam. Mereka lebih menyukai tulisan yang ringan dengan bahasa kreatif dan persuasif.

Di tingkat appeal, Milenial lebih menyukai informasi halal lifestyle  yang dapat membantu mereka menemukan jawaban atas masalah yang mereka hadapi bukan konten yang menyudutkan mereka dengan bahasa yang menggurui. Jadi, alangkah baiknya jika lebih menonjolkan solusi-solusi daripada wacana-wacana.

Meniru gaya blogger atau content writer yang mempercantik tulisan mereka dengan menambahkan grafis, gambar, atau bahkan video; pendekatan kepada Milenial juga mestinya bisa seperti ini. Elemen-elemen tersebut bisa memperjelas pesan yang  ingin disampaikan mengenai halal lifestyle.

Informasi yang bersifat “menyentuh (emosional) akan lebih menarik bagi Milenial, apalagi jika  terdapat kesamaan pengalaman dengan kehidupan mereka. Generasi Milenial merasa terpanggil untuk mengakses informasi yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Mereka seperti mendapatkan dukungan dan jawaban dari informasi tersebut terutama jika berkaitan dengan masalah atau kegelisahan yang sedang mereka hadapi.