Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Ekbis / KNKS: Hambatan Indonesia Untuk Mencapai Global Halal Hub
Ketua KNKS, Ventje Rahardjo dan Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro (foto/dok) romy
Bambang Brodjonegoro menjelaskan beberapa hambatan yang dialami Indonesia dalam mencapai peringkat pertama produsen produk halal dunia.

Sharianews.com, Jakarta ~Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, yang menyumbang 11 persen dari total muslim di seluruh dunia, hanya bertengger di peringkat 10 sebagai negara produsen produk halal dunia.

Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro menjelaskan beberapa hambatan yang dialami Indonesia dalam mencapai peringkat pertama produsen produk halal dunia (Global Halal Hub).

"Sebenarnya, kalau mau jujur permasalahan di industri sektor halal, tidak jauh dengan industri atau jasa secara umum, artinya Indonesia masih harus memperbaiki kemampuan dalam rantai nilai di sektor manufaktur dan juga di sektor jasa, dalam pengertian, kita harus bisa menciptakan nilai tambah, daya saing, dan itu berlaku untuk industri halal maupun secara umum," ujar Bambang Brodjonegoro di kantornya, Selasa (14/5).

Masterplan ekonomi syariah 2019 - 2024 yang mencakup industri keuangan hingga global halal hub, mulai dari hulu hingga hilir, dikatakan Bambang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020 - 2024.

"Nah, kita melihat ada segmen yang namanya industri halal di mana marketbase-nya sudah jelas yaitu penduduk Indonesia yang memang mayoritas Muslim paling besar di dunia, tetapi faktanya kita lebih kepada sebagai net consumer, kita ingin mengubah posisi paling tidak dalam lima tahun ke depan menjadi net produser," papar Menteri Bambang.

Lebih lanjut dikatakan, hal tersebut memang berkesan ambisius. Namun, menurutnya hal tersebut merupakan momentum yang harus dibuat dengan tujuan yang jelas.

"Kalau tidak ada tujuan yang jelas saya khawatir perkembangan industri halal ini kadang-kadang saja, tidak punya momentum yang dipertahankan terus menerus, kita ingin menjaga momentum ini dengan satu tujuan berubah dari net consumer menjadi net produser," ujarnya.

Menurut Menteri Bambang Brodjonegoro yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pengarah Komite Nasional Keuangan Syanah (KNKS), untuk merubah posisi dari negara konsumen terbanyak menjadi negara produsen terbesar tidaklah mudah.

"Untuk jadi net produser itu tidak gampang, karena harus punya kemampuan produksi, punya kemampuan nilai tambah, posisinya di rantai nilai juga lumayan, dan yang paling penting harus selalu kompetitif atau bersaing baik dalam harga maupun kualitas," sambungnya.

Ditegaskan Bambang, masterplan ekonomi syariah yang sudah dibuat, arahnya sudah tepat, yakni dengan merubah posisi Indonesia yang selama ini menjadi konsumen menjadi produsen.

“Demi mencapai visi dalam masterplan ini, kami menetapkan berbagai target dan indikator, yaitu peningkatan skala usaha ekonomi syariah, lslamic Econemic index pada tingkat global dan nasional, kemandirian ekonomi, dan indeks kesejahteraan. Target ini dicapai melalui strategi utama yang telah disusun dengan teliti diikuti dengan berbagai program dan strategi turunannya," tutup Bambang. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo